Angkat Isu Kemanusiaan di Tanah Papua, GMNI IPB Adakan Diskusi Daring

Rabu (24/6), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia IPB University atau yang biasa dikenal dengan nama GMNI IPB kembali mengadakan agenda diskusi daring Tukar Resah kelima dengan mengangkat tema “Nasionalisme-Kemanusiaan di Tanah Papua” yang dilaksanakan pukul 14.00 hingga 17.00 WIB melalui media Google Meet.

Diskusi daring ini dipandu langsung oleh dua anggota GMNI IPB, Muhammad Fathan Alfikri dan Bambang Tridaxoko. Menghadirkan pembicara yang handal dibidangnya seperti Muhammad Busyrol Fuad dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Frangky Samperante dari Pusaka, Asfinawati Asfin selaku anggota Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, dan Yusuf Sawaki sebagai perwakilan dari Universitas Papua.

Isu rasisme sendiri telah menjadi pembahasan hangat di seluruh negeri. Mengingat pada 5 Juni lalu, Mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih dan 6 tahanan politik Papua lainnya dituntut atas kerusuhan aksi demonstrasi di Jayapura pada Agustus 2019 dengan masa hukuman berbeda mulai dari 5 hingga 17 tahun.

Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Papua tersebut sebenarnya bentuk sikap yang dilakukan terhadap peristiwa penangkapan sejumlah mahasiswa asal Papua oleh aparat kepolisian dan tantara di beberapa tempat di Jawa Timur.

“Tindakan rasisme mendapatkan respon spontan karena masyarakat menuntut keadilan yang terjadi di Surabaya dan Malang tetapi pihak militer melakukan tindakan represif, mahasiswa ditangkap dan diambil keterangan tanpa surat penangkapan di rumah bahkan di jalan,” jelas Fuad.

Menurut Fuad, pelaku rasisme hanya divonis 5 sampai 7 bulan saja sementara masyarakat Papua yang bersuara direpresi dan dijerat dengan tuntutan makar yang bisa saja divonis hingga 20 tahun masa tahanan. Ketimpangan putusan hukum inilah yang menyebabkan isu rasisme semakin marak terjadi di Indonesia.

“Tugas kita bersama suatu yang nyata dan dialami masyarakat bisa berujung pada tindakan hukum yang sistemik dan diakui negara,” ungkap Asfinawati. Seperti yang tertulis pada UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi, segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan berhak atas perlindungan terhadap setiap bentuk diskriminasi ras dan etnis.

Diskusi ditutup dengan closing statement dari Fathan dan Bambang. Bambang berharap, sebagai anak muda penting untuk merawat solidaritas kita semua. Sebagai anak muda penting untuk bertarung.

Reporter: Sara Ardhyna
Editor: Putri Arum Puspitasari

Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.