“Kandang Mengkaji”, Fapet Sepakat Tolak Green Transportation

Pasca dilakukannya uji coba kebijakan baru Green Transportation oleh IPB, muncul berbagai kritikan dari mahasiswa, salah satunya dari Mahasiswa Fakultas Peternakan. Bertempat di LK Fapet, (8/9) diadakan diskusi terbuka yang dihadiri oleh mahasiswa Fapet lintas angkatan. Diskusi dibuka dengan penjelasan singkat mengenai Green Campus, Green Transportation, dan dilanjutkan dengan diskusi dalam menentukan tindakan apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa Fapet itu sendiri mengenai adanya Green Campus.

Kandang Mengkaji dihadiri oleh mahasiswa Fapet lintas angkatan
Kandang Mengkaji dihadiri oleh mahasiswa Fapet lintas angkatan

“Belum ada akses ke kandang, apalagi anak Fapet memiliki jadwal piket kandang di pagi hari bahkan tengah malam”, ujar Usaid (INTP 46) menanggapi program Green Transportation. Kegiatan Fapet umumnya dilakukan di kandang dan itu tidak sinkron dengan jadwal operasional bus dan mobil listrik yang hanya sampai jam 22.00 WIB. Selain kegiatan akademik, kegiatan non akademik akan terganggu jika ada pembatasan operasional tersebut.

Dicanangkannya Green Transportation ini rencananya akan mengangkat tukang ojek yang ada di sekitar kampus menjadi driver mobil listrik dan bus. Namun kenyataannya , pegawai yang mengoprasionalkan kendaraan Green Transportation itu bukan mantan tukang ojek. Munculah pertanyaan dari peserta diskusi mengenai keamanan yang akan terjadi di dalam kampus. Penggunaan bus, mobil listrik dan parkir juga akan memulai sistem berbayar di awal Oktober depan. Padahal fasilitas kampus seharusnya gratis bagi warga kampus. Hal ini juga memicu penolakan dari mahasiswa Fapet.

Setelah berbagai pernyataan dan saran terlontar dari peserta diskusi, Mahasiswa Fapet bersepakat menolak adanya kebijakan Green Campus. Penolakan tersebut didukung dengan 60% mahasiswa Fapet menolak melalui kuisioner tentang Green Campus.

Hasil diskusi tersebut mengerucutkan kepada enam alasan pokok penolakan. Alasan penolakan tersebut karena :

  1. Bus, mobil listrik dan tempat parkir berbayar
  2. Jam operasional terbatas
  3. Membatasi mobilitas akademik dan nonakademik mahasiswa
  4. Adanya kesenjangan sosial antar pengguna kendaraan
  5. Adanya pemusatan parkir yang tidak strategis bagi fakultas C,D, dan B
  6. Jaminan keamanan setelah ojek diberhentikan.

Ketua BEM D , Danang Setiawan siap untuk membawa aspirasi mahasiswa Fapet dalam gerakan penolakan Green Transportation.

Ratna Puspita H

Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

2 Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.