Event Update

[Opini]Polemik Green Campus: Mahasiswa Saintis Hiraukan Sisi Humanis

“Insinyur (Sarjana) yang bekerja pada orang lain itu (masuk dalam golongan) proletar. Karena ia menjual tenaganya (kepada orang lain) dan alat-alat produksi yang dia gunakan untuk bekerja bukan menjadi hak miliknya.” 

―Sukarno, Di Bawah Bendera Revolusi : Jilid 1

          Sebagian orang berbondong-bondong mengelukan program Green Campus yang dinilai visioner dan cocok bagi lembaga pendidikan, sebagai role model budaya bangsa. Sebagian lagi ramai-ramai tidak sepaham atas kebijakan bus dan parkir yang berbayar. Sedang di sudut lain dampak sosial dari program baru ini belum begitu dipandang. 

ilustrasi oleh : M Qomarul Huda

ilustrasi oleh : M Qomarul Huda

Setidaknya pertanggal 1 Oktober nanti, tanpa adanya kebijakan yang berubah dari Rektor IPB, akan ada kurang lebih 217 pengendara ojek dan 9 orang tukang becak yang kehilangan pekerjaannya. Pengendara ojek dan tukang becak memang bukan suatu profesi legal di negara kesatuan ini, akan tetapi sudah jadi mata pencaharian sehari-hari bagi mereka untuk mengisi keperluan di dapur. 

Sabtu lalu(13/9), diskusi Green Campus digelar di Fakultas MIPA. Ramai mahasiswa calon penyandang gelar saintis berjibaku menyuarakan ide dan gagasannya atas program baru ini. Mulai dari mobil listrik tanpa driver, pembuatan halte-halte bis yang baru, sampai celetukan menanam padi dengan “remote” (alat kendali jarak jauh). Ide-ide itu terdengar begitu hebat, namun tetap terasa hambar. Pasalnya ide-ide semacamnya harus dikaji penerapannya, tidak bisa begitu saja setuju dengan ide yang masih jauh dari kenyataan. Terlebih lagi perguruan ini terkenal dengan julukan “Institut Perbankan Bogor”, alumni dari berbagai jurusan mampu menjadi pegawai maupun pejabat bank yang tersohor. Lantas, kapan ide dan teknologi temuan saintis ini diaplikasikan?

Dari sekian banyak responden diskusi, hanya satu mahasiswa kehutanan yang memilih bertanya bagaimana nasib ojek kampus. Itu pun tak ditanggapi oleh khalayak diskusi. 

Melihat pola pikir saintis saat ini penulis merasa sangsi, apa mereka benar-benar paham apa yang menjadi isu utama polemik Green Campus ini sebenarnya. Nampak sisi humanis para saintis mulai luntur, mereka enggan mengenal lingkungan sekitar. Hanya fokus dengan yang ada di akal dan pikirannya. Hanya baru mempertimbangkan penemuan-penemuan baru, belum sampai mengkaji aspek apa yang akan terganggu. 

Berbicara tentang tingkat pengangguran, angka pengangguran yang tinggi  berbanding lurus dengan intensitas tindak kriminal. Walau tidak ada literatur resmi, namun begitulah fakta di lapangan. Perlu adanya keseriusan dan implementasi yang jelas, khususnya pada objek “Green Transportation” kampus. Jika tidak, bukan hal mustahil angka “217 plus 9” ini menjadi ancaman kriminalitas bagi seluruh civitas kampus.

Perlu kita ingat sekitar 1 tahun yang lalu sempat terjadi aksi perampokan dan kekerasan terhadap salah satu mahasiswa di dalam masjid al fath(FATETA). Walau gagal, aksi pelaku yang ingin membawa lari laptop korban ini meninggalkan luka sayat pada korban. Bahkan kejahatan semacam ini dapat terjadi di dalam kampus. Belum lagi aksi perampokan kamar kos dan rumah-rumah kontrakan mahasiswa di sekitar desa lingkar kampus lainnya. Tentu kita tidak ingin melahirkan suatu kejahatan yang tadinya belum ada kemudian jadi ada. 

Setidaknya mahasiswa dengan gelar saintis perlu meninggalkan sedikit sisi humanis pada lingkungan dimana ia tinggal. Karena apapun ilmu dan teknologi temuannya nanti pasti berujung sebagai objek yang bertujuan mempermudah kehidupan sesamanya.

Opini oleh 

Ichwanul AM (FMIPA 50)

IMG_9596_2

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

2 comments

  1. Wah, ini nih anak saintis berjiwa sosial. Setuju banget, sebagai anak sosial, kami pun melihat dari banyak sisi.,dan peningkatan pengangguran pastinya bakal meningkatkan pula tingkat kriminalitas. Bahaya banget kan kalo ‘hal’ ini bener2 terjadi.

  2. Saya setuju nih.. Emang bener banget kalo “green campus” di IPB terkesan sangat monopolistik dan komersialis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*