Event Update

Akui Jaga Toleransi, BEM KM Hentikan Ucapan Perayaan Keagamaan

Pernyataan BEM KM IPB terkait pemberhentian ucapan perayaan keagamaan, Senin lalu (25/12).

Pernyataan BEM KM IPB terkait penghentian ucapan perayaan keagamaan, Senin lalu (25/12) melalui fitur story dalam Instagram.

Senin malam lalu (25/12), akun Instagram BEM KM IPB merilis kiriman melalui fitur story yang sempat menuai kontroversi di kalangan mahasiswa IPB. Kiriman tersebut berisi determinasi sikap BEM KM untuk tidak memberikan ucapan dalam bentuk apapun perihal perayaan hari keagamaan. Menariknya pernyataan yang dikirim bertepatan dengan hari raya Natal. Menanggapi hal tersebut maka kru Koran Kampus menemui Surya Bagus selaku Wakil Presiden Mahasiswa IPB untuk meminta keterangan. “Toleransi antarumat beragama di IPB ini harus benar-benar dijaga, karena tiap tahun terkait ucapan perayaan keagamaan selalu ada pro dan kontra,” ujar Surya. “Kami juga berupaya mengoptimalkan kinerja Unit Kerohanian Mahasiswa (UKM) kerohanian di IPB yang jika dilihat dari Garis Besar Haluan Kerja (GBHK) memegang peran dalam layanan kerohanian, hal tersebut tidak ada dalam GBHK BEM KM,” ujarnya kembali menambah jawaban.

Penegasan sikap tersebut adalah langkah baru dalam jejak BEM KM. Sejak dua tahun lalu BEM KM IPB memasang strategi kiriman dengan tidak memberi kata “selamat” dalam ucapan hari perayaan keagamaan. “Kami memaknai bahwa ucapan hari perayaan keagamaan walau tidak disertai dengan kata ‘selamat’ adalah sama saja. Kami berusaha bersikap adil, karena jika dipaksakan akan bertemu dengan hal yang tidak bisa dilanggar yaitu akidah,” tegas Surya.

Surya mengakui bahwa BEM KM akan konsisten dengan sikapnya untuk tidak memperingati hari besar keagamaan selama setahun masa jabatan. “UKM kerohanian yang akan memberikan ucapan hari keagamaan. Klarifikasi tersebut dirasa cukup jelas dan tidak perlu diulang jika sudah cukup audiensi.” Surya juga mengakui bahwa BEM KM mengunggah pernyataan sikapnya di fitur story instagram yang bersifat temporer lantaran tidak ingin mengundang lebih banyak kontroversi. “Jika kami mengunggah dalam bentuk yang lebih permanen seperti melalui official account Line, bisa jadi menimbulkan dampak pro dan kontra yang lebih besar. Setidaknya kami memberi klarifikasi dengan membuat story tersebut,” ujar Surya. Kontra yang timbul akibat paradigma kontroversi disikapi lebih lanjut dengan cara personal sembari menunggu kepastian kajian berikutnya. “Karena masih terkendala libur, belum ada agenda kajian lebih lanjut. Kami siap menemui dan mengajak ngobrol pihak-pihak yang kontra secara personal,” tutupnya.

Aditya Mukti
Ed : Putri IT

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*