Event Update

Penertiban dengan Portal, Warga Lingkar Kampus Keberatan

Sistem penertiban lalu lintas menggunakan portal yang diterapkan di IPB memicu banyak reaksi dari beberapa pihak antara lain civitas akademika IPB, tukang ojek, serta warga lingkar kampus. Pembangunan portal yang dilakukan pada bulan Desember 2015 lalu, menuai banyak kontroversi, pasalnya pemasangan portal ini membatasi warga lingkar kampus dan civitas akademika IPB untuk melintas di IPB.
Aksi demonstrasi warga lingkar kampus menolak Kebijakan Penertiban Lalu lintas dengan sistem portal (foto: korpusipb.com)

Aksi demonstrasi warga lingkar kampus menolak Kebijakan Penertiban Lalu lintas dengan sistem portal (foto: korpusipb.com)

 Hal ini juga menjadi salah satu penyebab warga menggelar aksi demo pada hari ini (15/3) di gerbang belakang IPB. Keresahan implementasi dari sistem portal ini turut dirasakan oleh warga lingkar kampus yang hanya ingin melintas di IPB. “Kami warga lingkar kampus merasa keberatan, tak banyak yang kami minta hanya ingin sistem lalu lintas kembali seperti semula, kami hanya melintas saja kok tidak ingin parkir, masa hanya ingin mengantar istri kerja saja harus bawa mobil. Memang IPB sudah menyediakan moda transportasi (mobil listrik dan bus) tetapi waktu datangnya tidak pernah on time”. Tutur Iswara

 

Saat ini, terdapat 5 portal di IPB yang ditempatkan pada beberapa titik yaitu Fakultas Peternakan (dikhususkan untuk mahasiswa FPIK, Fapet, FKH), Menwa dan Fahutan dekat CCR, serta dua portal di GWW (Faperta, FEM, FEMA).  Pada titik yang diberi portal ini membuat kendaraan roda dua tidak diperbolehkan untuk melintas.
Menurut pemaparan Toto selaku kepala UKK IPB, pemasangan portal ini dilakukan untuk menertibkan lalu lintas di IPB terutama kendaraan roda dua dan diimplementasikan untuk seluruh civitas akademika serta warga sekitar kampus dan tukang ojek.
 
Namun hal ini direspon negatif oleh tukang ojek sendiri, mereka merasa terbatas untuk dapat mengantarkan penumpang ke tempat tujuan, “Setelah dibangunnya portal dan mulai diterapkan, penghasilan saya menjadi menurun yang biasanya Rp. 100.000,-  sampai sore saja, saat ini hanya ingin mendapat Rp. 50.000,- aja harus tunggu sampai malam, penghasilan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, apalagi ditambah bensin,” tutur Feriansyah, salah satu ojek kampus.
 

Padahal pembangunan IPB pun ada peran sertanya dari masyarakat sekitar. Ketika pembangunan IPB sudah berdiri kokoh, malah warganya mau diusir begitu saja, Ojek juga tidak membuat ribut bahkan membantu menjaga keamanan kampuslanjutnya.

Sifa Fauziah G.S.
Editor: Shalsa Nurhasanah

About Sifa Fauziha Ganda Sari

Sifa Fauziha Ganda Sari
BUDIDAYA PERAIRAN, FPIK REPORTER 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*