Bincang Asik UKT Bersama BK MWA UM

Badan Kelengkapan Majelis Wali Amanat Unsur Mahasiswa (BK MWA UM) IPB melalui akun instagramnya @bkmwaumipb menghadirkan Live Instagram “Kupas Tuntas UKT” dengan hashtag #AgendaBKMWAUM. Live tersebut dipandu langsung oleh Canta Bayu L selaku Anggota Timsus RKA BK MWA UM IPB dan dihadiri pula oleh Ainuz Zaim H selaku mahasiswa yang berhasil menurunkan UKT, serta Ermas Isnaeni L selaku Menteri Kebijakan Kampus BEM KM IPB 2017.

Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan suatu sistem pembayaran seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Besarnya UKT setiap PTN akan berbeda-beda sesuai kebijakan yang berlaku. Bahkan, nominal yang diterima oleh setiap mahasiswa pun akan berbeda dengan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing PTN. Oleh karena itu, sistem UKT menimbulkan berbagai pertanyaan terkait mekanisme dan transparansi UKT itu sendiri.

Sejarah UKT sendiri telah diterapkan oleh IPB sejak tahun 2013 atau pada angkatan 50 IPB. Yang menjadi polemik yaitu terkait dengan transparansi dasar penghitungan dan cara penentuan UKT, alokasi penggunaan UKT, serta kebijakan UKT untuk mahasiswa di atas semester 8. Di sisi lain, penerapan Biaya Peningkatan Infrastruktur dan Fasilitas (BPIF) pun menjadi pertanyaan dari tahun ke tahun kemana alokasi penggunaannya.

Dalam Live Instagram tersebut disebutkan bahwa IPB merupakan kampus yang sangat terbuka dalam mengadakan audiensi. Hal tersebut membuat Ermas dan mahasiswa perwakilan tiap fakultas pada zamannya memperjuangkan haknya terkait dengan transparansi UKT. Yang dilakukan oleh mereka semata-mata agar angkatan di atasnya tidak terdampak atas kebijakan UKT yang saat itu berlaku. Perjuangan Ermas dan mahasiswa lain tertuang dalam sebuah artikel ilmiah yang dapat dengan bebas diperbarui oleh mahasiswa sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Artikel ilmiah tersebut dapat diakses pada Bit.ly/PKMUKTIPB.

“UKT dibangun atas asas gotong royong” ungkap Ermas. Mahasiswa yang dibebani UKT dengan nominal yang besar secara tidak langsung telah membantu mahasiswa lain atau biasa disebut dengan subsidi silang. Dalam pelaksanaannya, UKT dihitung berdasarkan BKT. BKT adalah Biaya Kuliah Tunggal yang berarti biaya yang diperlukan setiap mahasiswa dalam pelaksanaan pendidikan di tiap semesternya. Besarnya UKT yang dibayarkan mahasiswa kepada institusi adalah hasil pengurangan dari BKT dikurangi BOPTN yang merupakan subsidi pemerintah dibidang pendidikan.

“BKT itu sendiri terdiri atas biaya langsung dan tidak langsung dimana biaya langsung mencakup 4 variabel yakni kuliah, praktikum, bimbingan, dan tugas akhir. Sedangkan biaya tidak langsung mencakup salah satunya yaitu tunjangan tenaga pendidik, dosen pemangku jabatan, serta infrastuktur yang memang tidak dirasakan secara langsung,” jelas Canta.

Dasar pembagian golongan UKT kepada tiap mahasiswa menurut Ainuz Zaim H atau yang biasa dikenal Zaim adalah penghasilan kotor orang tua dan biaya listrik rumah. Zaim yang pada saat itu mendapatkan UKT sebesar Rp10.000.000,00 berhasil menurunkan UKT sampai pada nominal Rp6.000.000,00. Singkat cerita, dirinya tertimpa musibah atas meninggalnya sang ayah yang selama ini membiayainya kuliah. Sampai akhirnya Zaim membuat surat permohonan tertulis dari orang tua untuk memperoleh penurunan UKT. Zaim menjelaskan untuk memperoleh penurunan UKT sebenarnya mudah. “Cukup dengan membuat surat pernyataan dengan bukti yang jelas dan dikirim kepada pihak yang bertanggung jawab atas surat itu, maka surat kita akan diproses,” ucap Zaim.

Live Instagram tersebut juga membahas tentang kejadian yang telah terjadi beberapa hari yang lalu yaitu gerakan menggugat rektorat. Menurut Ermas dan Zaim, yang harus menjadi fokus polemik UKT saat ini masih sama dengan tahun sebelumnya yakni transparansi UKT. Harapannya kepada mahasiswa berjuanglah dengan caranya masing-masing dan perannya masing-masing dalam frame perjuangan yang terorganisir.

Pada akhir live, Ermas dan Zaim menyampaikan closing statementnya. Zaim berharap BEM KM yang saat ini menjabat harus meninggalkan legacy agar BEM KM selanjutnya dapat meneruskan tanpa harus memulainya lagi dari nol. Ermas berharap polemik UKT ini dapat berjalan secara terorganisir, jangan sampai menjadi ‘bola liar’ yang mengintimidasi bagi sebagian pihak.

Sumber gambar: instagram.com/bkmwaum
Editor: Putri Arum Pusputasari

Friska Sukmaningsih

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.