Event Update

Cashless, Kue Dingin yang Dihangatkan

There will be a time – I don’t know when, I can’t give you a date – when physical money is just going to cease to exist.” -Robert Reich, Ekonom politik Amerika.

Begini, sekitar satu tahun yang lalu di sebuah kampus ternama di Bogor gencar dilakukan kampanye Cashless. Ya, transaksi yang menggunakan uang digital, bukan uang fisik.

Saat itu konversi dari penggunaan uang kartal (kertas dan logam) ke penggunaan kartu uang non fisik gencar dikampanyekan. Bahkan ada acara sosialisasi yang menghadirkan band dan artis kalau tidak salah ingat. Masih di tahun yang sama, Bank Indonesia (BI) juga sedang mengadakam Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).

Banyak yang ambil bagian di kampanye cashless di kampus ini. Dari yang berkedudukan di atas, mahasiswa, hingga pedagang gorengan terkena demam Cashless. Ya, cashless menjadi kue hangat saat itu.

Setelah dikampanyekan, kemudian tidak sedikit tangan yang ikut menajajakan kue hangat ini. Seperti beberapa fakultas dengan (wacana) kantin cashlessnya. Mahasiswa dengan jargon-jargon kosongnya. Hingga para sales yang berlomba menghabiskan kartu chip magnetik dagangan banknya di koridor kampus. Kue yang masih hangat, tentu banyak yang menyantapnya.

Seperi kue hangat yang tertiup angin, akhirnya pun akan dingin. Transaksi dengan cara Cashless pun perlahan ditinggalkan, kemudian menghilang di kampus ini. Seperti anak kecil yang tidak nafsu makan, kita menutup mulut dan pergi menjauh dari kue.

Lakon Baru

Beberapa hari yang lalu, di awal semester ini kita memulai lakon baru. Lakon ini berjudul kampus hijau, ya kampus ramah lingkungan. Bahkan orang nomor satu di kampus pun kali ini ikut menyosialisaikan lakon baru ini.

Bukan De Ja Vu, tapi ini kenyataan. Beberapa hari yang lalu saya kembali ditawari kartu tapcash (non tunai) oleh teman saya. Katanya kartu ini digunakan untuk transaksi ketika menggunakan fasilitas kampus dalam mendukung lakon tadi.

Saya tertawa…

Pertama, lucu mendengar fasilitas kampus yang berbayar. Kedua, kocak melihat demam cashless kembali ke kampus ini. Cashless, kue lama yang sudah dingin kini kembali dihangatkan.

Saya beli satu kartu ke kawan saya ini lalu memberikan beberapa pertanyaan. Singkatnya begini kalau tidak salah ingat, dia diupahi oleh bagian pengembangan bisnis kampus untuk berjualan tapcash. Tapcash digunakan untuk bayar bus bahan bakar gas, mobil elektrik, dan parkir motor. Tarif dengan tapcash adalah 2000 sampai 3000. Atau bisa dibayar dengan tunai namun harus bayar lebih mahal.

Tarif Untuk bus atau mobil elektrik dikenakan tarif setiap naiknya. Alasannya untuk mengganti penghasilan tukang ojek kampus yang sudah dilarang. Tukang ojek kabarnya direkrut menjadi driver mobil elektrik. Tapi nyatanya tukang ojek masih banyak yg menolak karena upah driver tidak sebanding dengan penghasilan ngojek.

Untuk parkir, nanti pengendara motor harus membayar uang parkiran. Saya belum tahu jelasnya biaya ini untuk apa, entah infrastruktur, entah operasional, entah bekerjasama dengan swasta. Yang pasti dulu parkir itu gratis, dan kalau pun kami bayar itu uang tip untuk bapak UKK.

Kembali lagi ke topik, uang non tunai. Sebenarnya penggunaan uang non tunai ini sangat baik dan perlu didukung. Contohnya keberhasilan KCJ membuat transaksi non tunai di commuter line.

Namun masih banyak persoalan yang dipertanyakan oleh penulis. Soal kesiapan menjadi Cashless Society. Soal biaya yang dibebankan. Soal wacana-wacana kampus yang bukan baru kali ini saja terbang lalu tenggelam. Masih ingat kah dengan wacana palang pintu otomatis di gerbang kampus, wacana kantin tanpa uang fisik, wacana peraturan stiker untuk kendaraan civitas kampus, dan wacana lainnya. Membuat wacana dan peraturan seperti membuat kue saja.

Jadi, akan kah “kue hangat” ini bertahan lama? Ah memang enak sih kalau kebagian kue.

Opini oleh :

Fadhli Sofyan

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

One comment

  1. Setuju, fasilitas kampus tp berbayar, semuanya udah berbau kapitalis, gak ada lg yg main gratis demi fasilitas berbaju bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*