Event Update

Edukasi Batik Biodiversitas oleh tim PKM-M IPB

Beberapa siswa SDN Cibuluh 5 beserta Mahasiswa
IPB memperlihatkan hasil karya mereka (Foto : Umi)

Sabtu (7/4) lalu, salah satu tim PKM-M (Pengabdian Masyarakat) IPB yang beranggotakan Nadya Megawati Rachman (manajemen 47), Ayu Wulansari (TIN 46),Yonatan (TIN) 46, M. Jiyad Hijran Djayani (TIN 47), dan Widya Purwaningrum (TIN 46) mengadakan kegiatan membatik di SDN Cibuluh 5 Bogor dalam rangka pemenuhan program PKM tim tersebut dengan tema Edukasi Batik Biodiversitas  kepada anak-anak. Kegiatan ini sebagai wujud regenerasi batik menuju dunia dengan sasaran anak-anak SDN Cibuluh 5. Adapun hubungan biodiversitas dengan membatik adalah membuat batik dengan motif hewan-hewan yang sudah langka.

Tim ini memilih 30 murid kelas 3-5 SDN Cibuluh 5 sebagai sasaran kegiatan dikarenakan adanya lokasi sentral pewarnaan batik di kota Bogor berada di Cibuluh. Tujuan dari acara ini adalah ada wawasan tentang batik yang di berikan ke generasi selanjutnya yang lebih muda dan diharapkan ada beberapa yang tertarik atau setidaknya mereka bisa mengapresiasi batik Indonesia yang punya beragam motif, karena pengrajin batik sekarang kebanyakan adalah ibu-ibu yang sudah cukup tua sehingga mau tidak mau dibutuhkan generasi muda untuk menjadi penerus tradisi asli Indonesia ini. Selain itu, anakanak juga diharapkan mampu mengenal biodiversitas (keanekaragaman hayati) di Indonesia dengan budaya batik. Menurut ketua tim PKM-M Nadya Megawati Rachman,”Pengennya anakanak mampu sadar kalau banyak keanekaragaman hayati di Indonesia dan melalui batik kita mampu menyampaikan untuk mencintai biodiversitas selain itu juga agar batik indonesia tetap lestari”.
Dalam acara ini motif batik yang dipakai untuk kegiatan ini ada empat ( komodo, elang, orang hutan, harimau sumatera). Desain sendiri mereka bekerja sama dengan salah satu teman dari anggota tim. Desain yang dipakai sederhana hanya dasar membatik saja yang dilakukan yaitu cara meletakan malam diatas kain belum sampai tahap pewarnaan. Gerakan yang hendak dicapai adalah avektif yaitu adanya tumbuh kesadaran akan pentingnya melestarikan kebudayaan serta mencintai biodiversitas, Psikomotorik yaitu kecepatan dengan melakukan games dengan mengajak lari anak anak dan menyusun gambar motif,Kognitif yaitu aspek pengetahuan dengan pemberian pengetahuan tentang keanekaragaman hayati serta pembatikan yaitu menciptakan kecintaan untuk generasi penerus serta tumbuh rasa peduli terhadap keanekaragaman hewan yang mulai langka serta mampu belajar membatik sehingga melestarikan budaya kita.
Acara ini dimulai dengan presentasi mengenai batik dan biodiversitas Indonesia oleh Ayu Wulansari, penyajian yang menarik membuat animo para siswa sangat besar,bahkan banyak siswa yang mendengarkan lewat jendela karena bukan merupakan siswa terpilih yang mengikuti acara tersebut tapi penasaran dengan acara ini. Setelah presentasi acara dilanjutkan dengan menonton dua video,yang pertama tentang kekayaan batik Indonesia yang membuka wawasan mereka dan yang kedua tentang hewan-hewan di Indonesia yang sudah punah maupun terancam yang membuat para siswa bertekad untuk bisa melindungi hewan-hewan tersebut, lalu dilanjutkan dengan game dan acara puncaknya,yaitu acara membatik. Menurut salah satu siswa kelas 4 Sifa aulia,”Perasaanku senang ini adalah pengalaman pertama, tadi malamya (bahan membatik) panas dan sempat grogi jadi gemeteran. Kalo ada kakak mahasiswa datang lagi kesini mau sekali.”
            Kepala Sekolah SDN Cibuluh 5 ,Dra. H. Yuniarsitah pada saat diwawancara tim reporter koran kampus IPB mengatakan bahwa adanya mahasiswa yang terjun ke masyarakat itu sangat bagus karena mampu memberikan wawasan baru. Baik bagi masyarakat yang didatangi maupun mahasiswa karena langsung bersosialisasi dengan masyarakat. Sekolah sangat terbuka dengan adanya kegiatan ini, sekolah bisa saja memberikan bantuan dengan apa yang bisa dipersiapkan. Seperti ruangan, dan peserta (siswa SD) “kami terbuka demi menambah kemajuan dan wawasan anak-anak didik kami”. Tapi sekolah tidak menyediakan peralatan (medianya). Beliau berharap bahwa semoga dengan adanya acara pembekalan cara membuat batik, mampu meningkatkan keinginan anak-anak untuk mencintai dan membudayakan produk Indonesia,dan terakhir beliau mempunyai pesan untuk mahasiswa IPB yaitu Mahasiswa yang produktif mampu memberikan ilmunya pada semua. Baik di dunia pendidikan maupun bekerjasama dengan yang lain. Seharusnya mahsiswa juga ketika menyampaikan inspirasinya dengan cara yang baik jangan cara preman. Harus sesuai dengan intelektualitas yang mahasiswa miliki, sehingga ada bedanya antara masyarakat biasa dengan mahasiswa. Tapi untuk mahasiswa IPB sendiri saya belum pernah mendengar hal anarkis dalam menyampaikan inspirasinya.
Adhiet Yogi Utomo

 

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*