Kisah Umar: Tersesat di Gunung Patuha Sebelum UAS

Umar Shidiq (17) asal Bandung, yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa baru IPB University angkatan 57, mendaki Gunung Patuha di Kabupaten Bandung pada Jumat (8/1) bersama ketiga temannya. Berbekal informasi yang dimiliki dan pengalaman mendaki gunung, keempatnya mulai mendaki pada sore hari tanpa ditemani oleh guide/pemandu setempat. Mereka pun menyempatkan diri untuk camping sejenak di sana.

Sabtu pagi, mereka mulai melanjutkan perjalanan ke salah satu puncak dari Gunung Patuha, yakni Sunan Rama. Bentuk gunung seperti kaldera dan posisi Sunan Rama berada di tengah-tengah kawah, membuat mereka harus melewati jalur cukup ekstrem. Mereka harus menuruni lembah dan kembali mendaki untuk sampai di Sunan Rama. Setelah berfoto ria, mereka memutuskan untuk segera kembali turun. Mengingat jalur mendaki yang mereka pilih merupakan jalur ekstrem, mereka berinisiatif untuk menanyakan jalur yang lebih aman dan cepat pada guide dari kelompok family gathering yang ditemui.

Berbekal petunjuk yang telah diberikan, Umar bersama teman-temannya mulai turun dari puncak. Kurang pengetahuan mengenai jalan tersebut membawa mereka pada jalan buntu. Mereka mencari jalan baru karena dirasa lebih dekat dan dalam Google Maps ditampilkan bahwa posisi mereka tidak jauh dari kebun teh. Mereka berpikir apabila sampai ke kebun teh, mereka bisa bertemu dengan warga setempat untuk bertanya jalan pulang. Selama perjalanan, mereka harus melewati lembah dan menemukan aliran sungai yang sudah kering. Mereka mengikuti aliran sungai tersebut, tetapi justru merasa semakin tersesat.

Hujan deras melanda perjalanan, ditambah kabut yang mulai turun menghalangi pandangan mereka. Terpaksa mereka harus menahan langkahnya sebab tidak ada lagi perbekalan yang dimiliki, saat itu yang tersisa hanyalah air mineral 1,5 liter. Kembali sadar adanya jangkauan sinyal dan baterai handphone yang tersisa, dengan cepat mereka menghubungi teman untuk meminta pertolongan BASARNAS. Tiga jam menunggu kedatangan BASARNAS, tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang.

Tubuh yang terus dibasahi air hujan, semakin menggigil. Baterai handphone yang sebelumnya masih ada, kini sudah habis. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, mereka secara berkala meminta pertolongan dengan teriakan dan meniup peluit sebagai sinyal SOS.

Untungnya ketika peluit kembali dibunyikan, ada pendaki lain yang hendak mendaki ke puncak mendengar dan tahu bahwa itu sinyal SOS. Pendaki tersebut pun kembali turun untuk meminta pertolongan dan ternyata warga bersama BASARNAS sudah berkumpul untuk memulai pencarian. Sekitar pukul 19.00 mereka ditemukan oleh warga dan langsung dievakuasi. Mereka juga diwawancarai oleh BASARNAS dan pihak kepolisian.

“Dari pengalaman kemarin, yang penting kita jangan panik dan berusaha untuk tetap selalu tenang agar dapat berpikir jernih mencari jalan keluar. Apa yang ada, itu yang kita gunakan. Air habis, untungnya hujan deras sehingga air hujan dapat kita minum. Kita punya peluit dan handphone, itu kita gunakan untuk meminta pertolongan,” jelas Umar menyarankan.

Dalam hal ini, Umar juga membagikan tips untuk teman-teman yang gemar mendaki gunung. “Apabila kita hendak mendaki suatu gunung, maka kita harus memahami betul jalur pendakian, memiliki peralatan yang lengkap, dan yang paling penting membawa alat navigasi seperti handphone, kompas, dan peluit serta membawa air minum yang cukup.”

Reporter: Tersia Ralesmanti Innocensia dan Wisnu Satrio Nugroho (Korpus Institute)
Ilustrator: Ramadhanti Nisa P
Editor: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah

Korpus Institute

Korpus Institute

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.