Event Update

Kepala BNPT Jadi Pembicara MPKMB: Pencegahan Radikalisme Kampus

Sumber: Aditya M

Sumber: Aditya M


Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut mahasiswa baru pada hari pertama Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) angkatan 55 (14/8) di Graha Widya Wisuda (GWW) dengan mengundang berbagai tokoh untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi Drs Suhardi Alius, MH yang turut mengisi acara dengan menyampaikan bahasan seputar radikalisme bertajuk Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Radikalisme. Suhardi memberikan materi tersebut sebagai upaya mencegah tindakan radikal di lingkungan kampus. Suhardi pun mengaku telah berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia dalam rangka penyampaian hal yang sama.
Di dalam topiknya, ia menyampaikan bahwa salah satu bentuk radikalisme yang saat ini bangsa Indonesia hadapi adalah paham intoleransi, antipancasila, dan antikesatuan. Kendati begitu, Suhardi menegaskan bahwa beliau hanya akan mengawasi dari luar, tidak mengintervensi langsung dalam internal institusi. “Kami BNPT tidak akan masuk, kami hanya menjadi guidance,” pungkas Suhardi. Hal tersebut ditegaskan kembali dengan perkataan Suhardi yang menyatakan BNPT berkecimpung pada pencegahan, sedangkan reinforcement adalah tugas polisi dan Densus 88. Suhardi juga mengingatkan untuk bergegas melapor jika disinyalir telah mengendus paparan radikalisme di lingkungan. “Hati-hati kalau sudah ada teman yang mulai menghilang dan tidak ngumpul lagi. Kalau ada apa-apa, langsung saja laporkan ke dosen!,” tegasnya kembali.

Belum lama ini, BNPT telah merilis beberapa perguruan tinggi negeri yang disinyalir berpotensi terpapar radikalisme, di mana IPB masuk dalam daftar. Dilansir dari Kompas.com, rilisan kampus negeri yang berpotensi terpapar radikalisme: Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Selain itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir juga mengatakan radikalisme tidak hanya tersebar melalui perguruan tinggi, akan tetapi juga melalui media sosial.

Rektor IPB, Dr Arif Satria, SP, MSi pun memberi tanggapan menyoal kedatangan BNPT. “Sebenarnya dalam rangka untuk meningkatkan kerja sama kita (IPB) dengan BNPT. Ya, salah satu bentuk pencegahan juga,” ujar Arif. Arif juga mengaku belum mendapat instruksi langsung terkait dengan rilisan tujuh kampus berpotensi terpapar radikalisme yang menyangkut IPB. “Saya belum mendengar langsung dari menteri terkait hal tersebut,” tegasnya. Arif justru berkata berlainan ketika ditanya pendapat tentang kemungkinan tersebarnya paham radikalisme di kampus. “IPB bukan kampus radikal, IPB itu kampus religius,” tegasnya.

 

Aditya Mukti

Hanif Wildan

Ed: Karina Rahmi

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*