Event Update

Beras Analog Ubah Paradigma Makan Nasi

Alat Pembuatan Beras Analog (foto: Eka Nofia /
Koran Kampus)

Nasi adalah karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber tenaga, banyak masyarakat yang tidak bisa terlepas dari nasi. Namun, beras analog kini hadir untuk mengubah paradigma masyarakat untuk tidak selalu mengkonsumsi nasi sebagai bahan dasar karbohidrat, karena kenyataannya banyak jenis karbohidrat lain yang bisa kita manfaatkan. Hal ini yang dikemukakan oleh Dr.Ir. Slamet Budijanto, M.Agr selaku pencipta beras analog.

Dr.Ir. Slamet Budijanto, M.Agr berkesempatan membuat beras tiruan pada tahun 2010/2011, beras tiruan ini dinamakan beras analog karena dikhawatirkan masyarakat mengira beras imitasi karena jika dinamakan beras tiruan.
“Kita memiliki sumber karbohidrat yang banyak, tapi mengapa tidak bisa berada ke meja makan? Karena yang berada di meja makan kita hanyalah nasi. Sumber karbohidrat yang banyak ini tidak bisa kita berikan ke rumah tangga karena mereka tidak bisa mengolahnya, sama halnya jika kita memberikan gabah kepada rumah tangga, tentunya mereka akan menolaknya karena tidak bisa mengolahnya. Sebagai contoh jika jagung bisa kita olah menjadi sesuatu yang bisa diolah oleh rumah tangga, mereka tidak akan menolak. Artinya kita bisa memanfaatkan sumber karbohidrat yang banyak ini sehingga masyarakat tidak bergantung lagi pada nasi. Ketika kita tidak lagi bergantung pada beras, kita bisa mengekspor beras itu dan tidak menjadikan beras menjadi komoditas politis” ujar Dr.Ir. Slamet Budijanto M.Agr

Ia menambahkan, jika saja kita bisa membawa karbohidrat ke meja makan dan tidak lagi bergantung pada nasi akan terasa luar biasa. Karena kita seolah-olah terpenjara oleh nasi. Indonesia adalah Negara produsen beras ketiga terbesar di dunia namun, kita juga pemakan beras terbesar perkapita di dunia. Sekitar 139 kilo per kapita pertahun konsumsi beras yang kita keluarkan, sedangkan Malaysia saja hanya 78 kilo dan juga Jepang yang juga makan nasi hanya mengkonsumsi beras 46 kilo perkapita per tahun.

“Beras analog ini adalah kendaraan untuk mengubah paradigm masyarakat untuk tidak selalu mengkonsumsi nasi. Syarat pertama kendaraan untuk diversifikasi yaitu tidak boleh mengubah culture seperti kebiasaan makan, jika kebiasaan makan ini kita ubah drastis maka masyarakat akan kembali lagi ke nasi, tidak mengubah kebiasaan memasak dan harus gampang dimasak oleh siapapun. Inilah persyaratan dari studi yang kami lakukan dulu sekitar tahun 2000, bentuk karbohidrat itu dalam bentuk beras ataupun mie karena dua hal inilah yang menjadi kebiasaan masyarakat untuk dikonsumsi sebagai karbohidrat.“

Beras Analog ini diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat bahwa kita dapat mengkonsumsi karbohidrat non padi dan dapat mengeyangkan. Jika hal ini sudah tertanam di benak kita, bentuk karbohidrat ini tidak perlu dalam bentuk beras atau mie saja namun bisa dalam bentuk ubi atau singkong.

Shalsa Nurhasanah

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*