Event Update

Kandungan Pestisida dalam Buah dan Sayur dapat Menimbulkan Masalah pada Kesuburan Pria

Sebuah penelitian dari Universitas Harvard, Senin (30/3), mengemukakan bahwa mengonsumsi buah dan sayuran yang mengandung residu pestisida berpotensi menimbulkan masalah kesuburan pada pria.

Studi para peneliti di T.H. Chan School of Public Health, yang pertama kali menghubungkan persoalan residu pestisida dalam buah dan sayuran dengan masalah reproduksi, menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Para peneliti tidak bisa menentukan apakah residu pestisida menyebabkan masalah kesuburan seperti yang mereka temukan dalam sperma dari 155 pria yang memberikan sampel di sebuah klinik kesuburan.

Tetapi hasilnya cukup jelas, yaitu “menunjukkan bahwa jumlah pestisida yang digunakan dalam produksi pertanian cukup untuk mempengaruhi spermatogenesis pada manusia,” tulis para peneliti dalam makalah mereka, dipublikasikan secara online dalam jurnal Human Reproduction.

Pestisida telah lama dicurigai berdampak pada produksi sperma pria yang menggunakannya dalam pekerjaan. Meskipun konsumsi residu pestisida dapat meningkatkan kandungan bahan kimia dalam urin, sangat sedikit bukti yang menyatakan bahwa hal itu dapat mempengaruhi kesehatan manusia, tutur Jorge Chavarro, asisten profesor nutrisi dan epidemiologi di sekolah kesehatan masyarakat, dan salah satu penulis studi.

Para peneliti menggunakan data US Department of Agriculture untuk mengklasifikasikan tingkat residu pestisida di 35 buah dan sayuran antara tahun 2006 dan 2012. Mereka meminta data asupan makanan dari 155 pria dan mengambil sampel sperma mereka untuk diperiksa.

Dengan mengabaikan faktor lain seperti rokok, obesitas, usia, aktivitas fisik dan faktor-faktor lain, peneliti menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi buah dan sayuran dengan jumlah residu tinggi menghasilkan jumlah sperma 49 persen lebih rendah, 32 persen jumlahnya normal dan 29 persen lainnya memiliki volume ejakulasi lebih rendah dari pria yang makan buah dan sayuran paling sedikit.

pisang

“Saya rasa ini banyak menimbulkan pertanyaan,” kata Chavarro dalam sebuah wawancara. “Ini sangat mengejutkan. Kita mampu mengidentifikasi suatu hubungan yang kuat. Menurut saya ada sesuatu yang terjadi di sana.”

Chavarro menambahkan bahwa masih dibutuhkan studi lanjutan yang lebih terkontrol dan acak. Karena subjek penelitian ini adalah orang-orang yang sedang mencari bantuan dengan masalah kesuburan, temuan ini mungkin tidak berlaku untuk masyarakat umum.

Jika dihubungkan kembali, Chavarro berujar bahwa studi ini tidak menjelaskan apakah bahan kimia tunggal dalam pestisida atau bahan kimia lain yang menjadi penyebabnya. “Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah bahwa kita tidak dapat menghubungkan hasil dari salah satu pestisida. Ini dapat dihubungkan ke suatu campuran pestisida, yang lebih sulit untuk dinilai,” katanya.

Chavarro berkata bahwa mencuci makanan sampai benar-benar bersih dapat membantu menghilangkan bahan kimia. Residu pestisida dapat masuk ke akar buah-buahan dan sayuran dari tanah dan masuk ke makanan itu sendiri.

Namun hal tersebut tidak berarti bahwa masyarakat -yang memiliki masalah kesuburan ataupun tidak- harus berhenti makan buah dan sayuran, yang sudah direkomendasikan sebagai bagian dari diet yang sehat. Chavarro menghimbau masyarakat luas untuk tetap memilih buah dan sayuran organik yang tidak mengandung residu pestisida.

M Fahmi Alby

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*