Vetalk: Corona dalam Kacamata Dokter Hewan

Fotografer: Nenis Rahma Wulandari

Deklarasi presiden Joko Widodo terkait dua pasien yang terjangkit corona tidak berhenti di situ saja. Lewat konferensi pers di istana kepresidenan pada Jumat, (6/3), didapatkan kasus pasien nomor tiga dan empat yang positif terkena virus corona. Ahli virologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Drh. Joko Pamungkas dan ketua Komisi Biorisiko Pusat Studi Satwa Primata (PSSP), Drh. Diah Iskandriati, turut memberikan tanggapannya dalam acara yang diadakan oleh Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FKH, yaitu Veterinary Talk pada Sabtu, (7/3), di Kopicentrum Botani Kafe, IPB Dramaga.

Covid-19 adalah nama yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) untuk penyakit infeksi saluran pernapasan yang sebelumnya bernama novel corona virus. Nama virus ini sekarang adalah SARS Corona Virus tipe 2 (SARS-CoV2). Nama ini diambil untuk membedakan dengan virus SARS karena secara genetik virus tersebut berkerabat dekat dengan virus SARS dan MERS. Ada empat genera dari genus corona virus, yaitu alfa, beta, delta, dan gamma. Genera alfa mampu menginfeksi semua hewan mamalia sedangkan genera delta dan gamma menginfeksi hewan unggas. Ada tujuh corona virus yang dapat menginfeksi manusia, dua diantaranya berasal dari genera alfa.

Penyebarannya yang mendadak dan sangat cepat menjadikan SARS-CoV2 termasuk dalam kategori Emerging Reemerging Infectious Disease. Tentu saja manusia turut berperan dalam penyebaran virus ini, seperti perubahan kesehatan masyarakat, perubahan teknologi dan industri, perubahan arus ekonomi, hingga perubahan perilaku manusia. Bentuk perubahan perilaku manusia, misalnya daya suka masyarakat dalam konsumsi yang makin lama makin bervariasi, menjadikan bahan makanan yang dinikmati cenderung tidak terkendali, mulai dari hewan ternak sampai hewan liar.

Sebagai contoh, wilayah Indonesia, tepatnya Minahasa dan pulau Sulawesi terdapat kebiasaan masyarakat mengonsumsi daging hewan terutama genus Acerodon (kelelawar) harus diawasi dan dibatasi, baik dari masyarakat sendiri maupun peran pemerintah. Pun di dunia hiburan, hobi seperti international travelling dan berburu menjadi poin penyebaran karena menjadikan komunikasi antar hewan dan manusia semakin dekat.
Rumor perihal kelelawar sebagai penular SARS-CoV2 turut disangkal. “Kelelawar tidak serta merta menjadi penyebar utama. Walaupun kelelawar sebagai nenek moyang penyebarannya, tetap harus melalui intermediet host dan tidak dalam waktu singkat. MERS pada unta pun butuh waktu dua puluh tahun. “Jadi, kalau ketemu kelelawar tidak langsung tertular virus, butuh penyesuaian untuk berlekatan dengan reseptor,” jelas Drh. Diah.

Walaupun demikian, Drh. Joko Pamungkas mengatakan bahwa kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Masyarakat diminta untuk tidak kalap namun tetap awas, baik dalam kesehatan individu maupun kontak dengan hewan liar.

Editor: Yuniar Galuh Nur Fatiha

Nenis Rahma Wulandari

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.