Event Update

” Sebuah Konstelasi Bintang-Bintang yang Terus Menerangi Malam-Malammu” Resensi Novel Malam-Malam Terang

Judul novel      : Malam-Malam Terangresensi

Penulis             : Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit     : 2015

Tebal               : 246 halaman

SINOPSIS

Sebuah rangkaian kisah inspiratif dari Tasniem, anak perempuan umur 15 tahun yang memutuskan merantau ke negari singa untuk menuntut ilmu. Perjuangan tersebut dimulai ketika dirinya merasa gagal dalam ujian EBTANAS SMP. Nilai yang diperolehnya tidak cukup untuk mendaftar di sekolah impiannya yang menjadikan dirinya harus mengubur dalam harapannya tersebut. Berbagai peristiwa menjadi petunjuk baginya untuk memilih melanjutkan bersekolah di Globe College di Singapura.

Di sekolah internasioanal GC kampus West Singapura tidak hanya menghantarkan Tasniem melihat miniatur dunia dihadapannya. Di sekolah ini pula dirinya bermetamorfosis menjadi seseorang yang lebih dewasa. Tidak mudah untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dengan berbekal kamampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, layaknya sebuah pisau yang ingin menjadi tajam, Tasniem terus menempa dan mengasah kemampuannya berbahasa. Tak ayal dia sering membawa kamus tebal Oxford kemanapun dia pergi pada tahun pertama dia bersekolah. hal tersebut pula yang terkadang menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Tidak hanya ilmu yang Tasniem pelajari di GC, namun juga tentang kegagalan dan persahabatan. Tasniem berhasil menjadikan kegagalan sebagai kawan untuk menuju bukit-bukit kesuksesan. Disana, dia berhasil belajar bagaimana mencapai pos-pos yang terus menghantarkannya meraih impian-impiannya. Usahanya tidak hanya berbentuk belajar siang dan malam namun juga senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Salat lima waktu, berdoa, salat tahajud, dan puasa sunnah yang konsisten sudah menjadi teman sehari-hari baginya. Buah perjuangannya di sekolah tersebut adalah ketika menjadi salah satu siswa The Big Ten dan peringkat pertama dengan nilai tertinggi di acara wisudanya.

Dalam mengarungi samudera perjuangan di Singapura, Tasniem tidak sendiri. Tuhan juga mengirimkan tiga sahabat yang berperan penting dalam petualangan hidupnya. Tiga sahabat tersebut merupakan teman satu kamar diasramanya yaitu Aarin gadis keturunan India yang sudah lama menetap di Inggris, Cecilia yang berasal dari Tiongkok, dan Angelina yang berasal dari Indonesia. Hidup merantau jauh dari orang tua dan keluarga membuat mereka menjadi dekat layaknya saudara. Meraka berempat belajar bagaimana hidup bertoleransi. Suka duka mereka bagi bersama, manis pahitnya merantau juga mereka rasakan bersama. Dan puncaknya adalah ketika mereka berempat menunjukkan kepeduliannya satu sama lain ketika mencari ayah Angelina yang telah terpisah belasan tahun ke Negara Malaysia. Sebuah pengorbanan besar yang dilakukan mereka atas nama persahabatan.

Akhir puncak keberhasilan Tasniem adalah ketika dirinya berhasil mendapatkan beasiswa ke negara impiannya. Negara matahari terbit dengan pesona bunga sakura, Jepang. Disanalah ia memulai kembali jilid dua petualangannya. Membawa koper berisi berjuta impian yang siap untuk diperjuangkan. Salah satu penggalan pernyataan Tasniem ketika temannya bertanya apa rahasia ketika dia mendapatkan nilai terbaik di ujian yang bisa menjadi motivasi kita semua adalah “Aku belajar ketika kalian belajar, dan aku pun belajar ketika kalian tidur”.

Kelebihan:

Novel ini memiliki cerita yang bisa membangkitkan semangat positif untuk bisa menghadapi dan berdamai dengan kegagalan. Kisah yang dimiliki adalah sebuah kisah nyata penulis, sehingga pembaca seakan menjadi teman dan saksi perjuangan jatuh bangun Tasniem dalam menggapai kesuksesan. Berbagai strategi maupun cara yang Tasniem tempuh dalam proses menggapai mimpinya bisa menjadi sumber referensi dan motivasi bagi pembaca.

Gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami sehingga cocok untuk dibaca semua golongan umur bahkan anak SMP sekalipun. Sudut pandang yang digunakan dan pengulasan setting (tempat dan suasana) yang sangat menonjol dalam novel tersebut menjadi kombinasi yang pas seakan mengajak pembaca untuk ikut berpetualang dan membayangkan langsung bagaimana hidup dan berjuang di kampus West GC Singapura yang menjadi setting utama.           

Cerita Tasniem semakin manis dengan tidak melupakan detail dukungan orangtua yang selalu memberi wejangan-wejangan luar biasa sebagai motivasi utama baginya. Serta bumbu-bumbu cinta yang tidak ketinggalan mewarnai masa mudanya dengan porsi cerita yang sangat sesuai.

Kekurangan:

Alur yang digunakan yaitu maju mundur yang membuat beberapa bagian cerita sedikit membingungkan. Seperti saat Tasniem memutuskan untuk bersekolah di Singapura dan berharap mendapat restu dari orang tua yang belum diraihnya. Namun, setelahnya penulis langsung menceritakan setting di bandara untuk segera bertolak ke Singapura. Dan proses diijinkannya Tasniem untuk bersekolah di Singapura diceritakan detail pada bagian selanjutnya ketika Tasniem yang sudah bersekolah di GC dan flashback merindukan kedua orang tuanya.

Proporsi antara narasi dan dialog sangat tidak seimbang. Penulis lebih banyak bercerita melalui narasi, mulai dari penggambaran latar, baik tempat maupun suasana hingga beberapa rangkaian peristiwa. Banyak penggunaan istilah sains dan ilmu pengetahuan lain sebagai analogi yang tidak dijabarkan makna aslinya (melalui footnote,dsb) membuat pembaca harus menerka-nerka apa makna asli dari kata tersebut, karena tidak semua pembaca bisa mengerti apa makna sebenarnya

Editor : Muhamad Qomarul Huda

About Redaksi Koran Kampus

Redaksi Koran Kampus
Lembaga Pers Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*