Wujudkan Lingkungan Ramah Sampah, Mahasiswa KKN IPB Dorong Kemandirian Pupuk Organik Warga Melalui Olah Limbah

IPB University — Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Lahan Angkatan 60, menggelar program pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) di Desa Cibadak pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan pemberdayaan yang melibatkan ibu-ibu PKK dan Dasawisma ini hadir sebagai solusi atas dua tantangan sekaligus yakni, mengolah limbah dapur dan mengoptimalkan pengelolaan lahan pertanian warga. 

Sebelumnya, limbah organik seperti kulit buah, kulit bawang, cangkang telur, hingga air cucian beras kerap berakhir begitu saja di tempat sampah. Padahal, bahan-bahan tersebut menyimpan nutrisi tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali. Di sisi lain, kelompok PKK dan Dasawisma memiliki lahan tanaman cabai yang pengelolaannya belum maksimal akibat keterbatasan pupuk.

“Awalnya kami melihat ada dua hal yang cukup berkaitan, yaitu kebutuhan pupuk untuk lahan tanaman milik PKK dan Dasawisma serta limbah organik rumah tangga yang belum dimanfaatkan. Di sana ada dua lahan yang ditanami cabai, tetapi pengelolaannya belum maksimal karena keterbatasan pupuk dan perawatan,” ujar Chintya Indriani Ginting, Penanggung Jawab Proker KKN Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Lahan IPB Angkatan 60.

Melalui pelatihan ini, tim KKN IPB mengajak masyarakat memanfaatkan limbah sehari-hari menjadi POC sebagai solusi pupuk alternatif yang murah, mudah, dan ramah lingkungan.

Proses pelatihan tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi mengajak peserta langsung melakukan praktik pembuatan. Dimulai dari pemilahan limbah organik rumah tangga, bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan EM4 (Effective Microorganisms 4) dan molase sebagai permulaan atau starter fermentasi, lalu dimasukkan ke dalam wadah tertutup. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan berhasil menghasilkan empat galon media fermentasi untuk dipantau bersama.

Proses fermentasi ini memberikan banyak pembelajaran lapangan yang berharga bagi warga maupun tim KKN. Selama masa pemantauan, tim dan peserta menemukan peristiwa menarik, salah satunya adalah peningkatan tekanan gas dalam wadah hingga menyebabkan galon meledak saat proses fermentasi berlangsung.

Tim KKNT IPB University bersama ibu-ibu PKK dan Dasawisma melakukan sesi foto bersama

Selain itu, evaluasi juga menunjukkan bahwa beberapa fermentasi belum berjalan optimal dan aromanya belum mencapai aroma manis yang diharapkan. Setelah ditelusuri, hal ini disebabkan oleh ukuran bahan baku seperti kulit jeruk yang dimasukkan masih dalam bentuk potongan besar dan belum dicacah.

“Dari evaluasi, kami melihat kulit jeruk yang masih berukuran besar dan belum dicacah diduga membuat proses penguraian menjadi lebih lambat. Dari situ kami jadi belajar bahwa proses fermentasi perlu diperhatikan dan tidak selalu langsung berhasil pada percobaan pertama,” jelas Chintya.

Melalui evaluasi ini, warga memahami bahwa bahan organik sebaiknya dicacah lebih kecil terlebih dahulu agar proses penguraian dan fermentasi dapat berlangsung lebih cepat dan optimal.

Kegiatan ini disambut hangat oleh para warga. Tidak hanya menyimak penyuluhan, warga aktif berdiskusi dan mempraktikkan setiap tahapan pembuatan POC. Ketua Dasawisma, Ibu Buce, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat sesuai dengan kebutuhan warga, terutama karena mereka memang memiliki lahan tanaman yang membutuhkan pupuk.

Agar keterampilan ini tidak berhenti di lokasi pelatihan, mahasiswa KKN IPB membekali para peserta dengan leaflet panduan pembuatan dan pemanfaatan POC yang dapat dipraktikkan kembali di rumah masing-masing. Tim penyelenggara juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap hasil fermentasi bersama.

“Kami berharap masyarakat bisa melihat limbah rumah tangga bukan hanya sebagai sampah, tetapi juga sebagai sesuatu yang masih memiliki manfaat kalau dikelola dengan tepat. Kami berharap kebiasaan mengolah limbah organik ini bisa terus dilakukan secara mandiri,” pungkas Chintya.

Melalui program pemberdayaan ini, masyarakat diharapkan dapat terus mengolah sampah organik secara mandiri demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih sekaligus menghasilkan pupuk alternatif untuk tanaman mereka.

***

Reporter: Natasha Umaiza

Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.