Bogor – Pada Kamis, 4 Juni 2026, sebuah angka muncul di layar perdagangan valuta asing dan membuat banyak orang terdiam dengan sebuah angka : Rp18.001 per satu dolar Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik ini, rupiah menembus batas yang selama ini hanya menjadi skenario terburuk di atas kertas.
Jatuhnya nilai tukar rupiah mulai menggedor pintu-pintu ruang kuliah dan warung makan. Bagi mahasiswa, fluktuasi mata uang Garuda bukan lagi sekadar deretan angka teoretis, melainkan sebuah ancaman nyata yang langsung merembes ke urat nadi perekonomian dan isi dompet mereka. Fenomena ini memicu gelombang diskusi kritis di kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa yang mempertanyakan efektivitas bauran kebijakan otoritas moneter serta dampaknya bagi masyarakat luas.
“Saya akui naiknya sedikit-sedikit, tapi terasa. Apalagi kalau kita makan tiga kali sehari di sini,“ ujar Ahmad Syauqie, mahasiswa Program Studi Agribisnis IPB angkatan 2025, saat ditemui di sela jam makan siang, Senin (15/6/2026).

Efek berantai dari pelemahan kurs ini paling instan dirasakan melalui imported inflation atau inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga komoditas impor. Komoditas pangan pokok seperti kedelai dan gandum. Yang dimana itu semua adalah bahan baku utama dari tahu, tempe, serta mi instan yang menjadi tiga pilar penyelamat kelangsungan hidup mahasiswa. Harganya ikut terkerek naik karena ikut terdampak oleh pelemahan kurs. Akibatnya, para pelaku usaha mikro di sekitar kampus terpaksa memutar otak agar tidak kehilangan konsumen.
“Biaya bahan baku harian naik hampir 15 persen udah sebulan ini mas. Kita ya jadi serba salah, kalau harga seporsi dinaikkan secara tiba tiba, pembeli pasti kabur. Solusinya, porsi terpaksa kami sesuaikan sedikit buat nutupin modal,“ keluh Sukardi (48), salah satu pedagang warung nasi di kawasan Babakan Raya, Dramaga, saat ditemui pada Minggu (14/6/2026).
Tak hanya pangan. Sektor energi juga menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap penguatan dolar AS. Perdagangan minyak dunia menggunakan dolar sebagai mata uang utama, sehingga ketika dolar naik, biaya impor energi Indonesia ikut meningkat. Hasilnya bisa kita lihat langsung: harga BBM nonsubsidi Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 pada 10 Juni 2026, sebuah keputusan yang dinilai mahasiswa terlalu mendadak tanpa mempertimbangkan kesiapan masyarakat.
Di tengah situasi yang kian membara, waktu seolah memutar ulang rekaman yang sama. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto itu kembali berputar di kepala banyak orang. Bukan karena ingin mengungkit, melainkan karena kenyataan hari ini terasa seperti jawaban pahit atas kalimat yang dulu sempat viral, sempat dibela, sempat dijelaskan, namun tak pernah benar-benar selesai menjawab kegelisahan yang ia tinggalkan.
“Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok.” Ucap Bapak Presiden saat meresmikan Museum Marsinah dan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) (Sumber: BBC)
Dalam kesempatan yang berbeda di hari yang sama, ia menambahkan: “Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar.” Pernyataan Bapak Presiden tadi sontak memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan di seluruh negri. (Sumber: BBC)
Mengutip detikNews, Jubir Partai Gerindra, Bahtra Banong, mencoba meluruskan. “Pidato Presiden dipotong hanya pada satu kalimat, lalu dibangun framing seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru dan tidak fair. Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat,” kata Bahtra, Senin (18/5/2026). (Sumber: detikNews)
Sayangnya, ilmu yang diajarkan di kampus pertanian ini tidak mengizinkan penyederhanaan semacam itu. Di Dramaga, mahasiswa dilatih untuk membaca sesuatu yang luput dari kalimat presiden, bahwa di balik setiap karung pupuk, setiap botol pestisida, dan setiap benih yang ditanam petani desa, tersembunyi tagihan dalam mata uang asing yang nilainya kini terus merangkak naik.
“Tidak tepat jika pelemahan rupiah dianggap hanya membuat pusing pejabat, pengusaha, atau orang yang sering bepergian ke luar negeri. Rakyat kecil tidak perlu memegang dollar untuk merasakan dampak dollar.” Tegas Bintang Nusantara, Ketua Badan Legislatif Ormawa PPKU IPB saat dimintai tanggapan pada Senin (15/6)
Memang tidak bisa kita pungkiri, menghadapi permasalahan ini pemerintah tidak tinggal diam. Meski jawabannya belum sepenuhnya memuaskan.
Mengutip Republika One, Bank Indonesia menerapkan berbagai kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar. Pada April 2026, BI menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari USD 100.000 menjadi USD 50.000 per orang per bulan. Mulai Juni 2026, batas itu diperketat lagi menjadi USD 25.000 per orang per bulan. BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. (Sumber: Republika One)
Dari Istana, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah berterimakasih dan menghargai aspirasi mahasiswa dalam mengkritisi hal ini, namun menekankan bahwa persoalan ekonomi saat ini tidak mudah diatasi karena dipengaruhi banyak faktor. Ia menyatakan pemerintah berupaya keras menyelesaikan problem nilai tukar rupiah dan optimistis dengan koordinasi yang erat antar lembaga. (Sumber: Detik News)
Namun bagi mahasiswa, optimisme itu belum cukup. Mereka ingin aksi nyata, bukan sekedar retorika. “58 persen suara kemenangan dari rakyat yang sedari dulu dibanggakan, itu bukan hanya untuk menunggu Bapak Presiden mengucapkan terimakasih saja ketika sedang dikritik. Kami perlu solusi konkret atas segala permasalahan yang menimpa negri ini. Kalau cuma terimakasih terimakasih saja bar code scan qriss juga selalu berbunyi terimakasih setiap hari, tidak harus menunggu pemilu dulu” Sindir Mahasiswa Universitas Indonesia, Fatimah Azzahra, pada sebuah acara televisi. (Sumber: Instagram)
Realitas pahit di lapangan ini turut memantik kritik dari fungsionaris Ormawa Eksekutif PPKU IPB University. “Kami melihat ada ego moneter yang dipaksakan. Jamu pahit berupa kenaikan suku bunga itu tidak hanya menahan modal asing, tetapi juga mempersulit akses kredit dan menaikkan beban bunga cicilan bagi pelaku UMKM serta orang tua kami di daerah. Otoritas moneter harus transparan, apakah kebijakan ini murni untuk menyelamatkan stabilitas ekonomi rakyat atau sekadar kosmetik untuk menjaga wajah pasar saham jangka pendek?“ tegas fungsionaris Departemen Kajian dan Aksi Strategis Ormawa Eksekutif PPKU IPB University, Davin Ferdiansyah, saat dimintai tanggapan pada Senin (15/6).

Bagi mereka, kebijakan Bank Indonesia yang terus menguras cadangan devisa sekaligus menaikkan BI-Rate demi mematok rupiah di kisaran Rp17.700–Rp17.900 ibarat membangun tembok penahan banjir dengan menjebol fondasinya sendiri — rupiah mungkin terlindungi sementara, namun sektor riil yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat justru kian rapuh di bawah tekanan bunga yang mencekik.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling relevan bukan lagi mengapa rupiah jatuh, melainkan apa yang seharusnya kita lakukan ketika ia jatuh.
Masa-masa sulit ini menjadi ujian pembuktian bagi idealisme mahasiswa. Bukan lagi saatnya terjebak dalam perdebatan politik praktis, melainkan waktu yang tepat untuk menuntut akuntabilitas publik secara ilmiah. Di tengah badai ekonomi global, mahasiswa berkomitmen untuk terus berdiri di garis depan, menjadi penyambung lidah masyarakat yang terhimpit inflasi, sekaligus mitra kritis yang menguliti setiap lembar kebijakan pemerintah demi memastikan kedaulatan ekonomi bangsa tidak digadaikan demi selembar dolar.
Mahasiswa Indonesia sudah berbicara di konsolidasi nasional, di jalan Bundaran HI, di depan Kantor BI Semarang. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan bergerak. pertanyaannya adalah seberapa jauh gerakan itu akan membawa perubahan nyata.
***
Reporter: Habiburrahman Awaludin Kadir
Editor: Asni Kayla
Fotografer: Penulis




Tambahkan Komentar