KKN-T IPB Jayamekar Ubah Limbah Kulit Pisang Menjadi Eco-Enzyme. Apa Manfaatnya?

Maraknya sampah dapur rumah tangga yang terbuang tanpa diolah melatarbelakangi tim Mahasiswa KKN-T IPB University Desa Jayamekar, Pakenjeng, Garut, menggelar pelatihan pembuatan eco-enzyme berbahan kulit pisang. “Pelatihan ini berangkat dari masih banyaknya limbah organik rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal dan akhirnya hanya dibuang begitu saja,” terang pihak penyelenggara lewat keterangan tertulis.

Sisa kulit buah dan sayuran sebenarnya masih memiliki nilai guna tinggi apabila diolah dengan tepat. Melewati kegiatan ini, warga dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis untuk mengolah sisa bahan dapur menjadi produk yang bermanfaat sekaligus membangun kebiasaan menjaga lingkungan yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, warga diajarkan memilih bahan baku, menghitung rasio racikan, hingga memanfaatkan hasil fermentasinya untuk kebutuhan harian.

Kulit pisang dipilih sebagai bahan baku utama  karena jumlahnya melimpah dan mudah ditemukan di pemukiman warga sebagai limbah dapur harian. Selain itu, kulit pisang mengandung gula alami yang cukup tinggi sehingga dapat membantu proses fermentasi berlangsung dengan baik. 

Agar hasil eco-enzyme optimal dan aman digunakan, pelatihan ini menggunakan rasio 1 : 3 : 10, yakni satu bagian gula merah atau molase, tiga bagian limbah kulit pisang dan sepuluh bagian air. Seluruh bahan dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat untuk difermentasi selama kurang lebih tiga bulan. Pada minggu-minggu awal peraman, tutup wadah mesti dibuka secara berkala guna mengeluarkan penumpukan gas supaya kualitas cairan tidak rusak.

Cairan eco-enzyme kulit pisang ini memiliki sederet kegunaan praktis bagi rumah tangga. Cairan ini dapat digunakan sebagai pembersih alami untuk mengelap lantai, area dapur, hingga menyikat kamar mandi. Selain itu, eco-enzym juga dapat dimanfaatkan sebagai Pupuk organik cair, aktivator pembuat kompos, dan solusi praktis menekan volume sampah organik rumah tangga.

Dari segi biaya, pembuatannya tergolong sangat murah karena murni memanfaatkan sisa bahan yang sebelumnya dianggap sampah. Dengan demikian, pengeluaran bulanan warga untuk membeli pembersih rumah tangga atau pupuk kimia buatan pabrik pun bisa ditekan. Selain menghemat biaya, langkah ini efektif mengurangi volume timbunan sampah di lingkungan sekitar.

Program  ini tidak dilepas begitu saja setelah pelatihan selesai. Tim KKN-T IPB University menyiapkan skema pendampingan secara online untuk memantau perkembangan eco-enzyme yang dibuat warga secara mandiri di rumah, sekaligus membuka ruang konsultasi jika ada kendala teknis. Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat menjadikan pengolahan sampah organik  menjadi kebiasaan sehari-hari. “Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa sampah organik bukanlah sampah yang harus langsung dibuang, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat apabila dikelola dengan tepat,” jelas pihak penyelenggara.

Melalui kegiatan ini, warga diajak mulai bergerak dari tindakan kecil di rumah masing-masing agar volume sampah berkurang dan lingkungan yang lebih bersih, sehat, serta berkelanjutan bisa terwujud bersama.

***

Reporter: Nadia Firyal Syahrudin

Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.