Sorak dan antusiasme 5.512 mahasiswa baru sarjana IPB University memenuhi Graha Widya Wisuda IPB, Dramaga, Bogor, pada Senin, 10 Agustus. Menyandang titel sebagai bagian dari keluarga besar IPB University untuk pertama kalinya, mahasiswa baru angkatan 63 Mahadipta Nabhaskara memulai perjalanan perkuliahan melalui pembukaan Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB 63 X Agrisymphony (AGSN) 2026.
Semarak pembukaan semakin terasa ketika parade bendera fakultas dimulai. Satu per satu bendera fakultas hadir di tengah arena, disambut sorak dan antusiasme mahasiswa baru. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling meriah dalam pembukaan, sekaligus memperkenalkan keberagaman bidang keilmuan yang akan menjadi bagian dari perjalanan Mahadipta Nabhaskara di IPB University.

Pembukaan tahun ini juga memiliki keistimewaan tersendiri. MPKMB IPB dan AGSN untuk pertama kalinya hadir dalam satu rangkaian kegiatan yang terintegrasi. Koordinator MPKMB IPB 63 X AGSN 2026, Alyssa Fidelia Akbar, menyampaikan bahwa sebelum memasuki rangkaian utama, mahasiswa baru telah melalui Harmoni Satu dan Harmoni Dua yang diisi dengan perang yel-yel antarkelompok besar Nabhaskara dan simulasi rekor. Rangkaian tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mulai mengenal satu sama lain sekaligus membangun semangat kebersamaan. Lebih dari sekadar mengenalkan kehidupan kampus, rangkaian MPKMB juga membawa pesan tentang proses bertumbuh secara utuh.
“Kami ingin mahasiswa baru dapat tumbuh secara holistik, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga memiliki kondisi fisik dan mental yang baik.” ujar Alyssa.
Suasana pembukaan berlanjut dengan sambutan Ketua BPKM, Muhammad Abdan Rofi. Sambutan tersebut diawali dengan menyanyikan lagu “Buruh Tani”, lagu yang disebut akan kerap hadir dalam perjalanan mahasiswa karena memuat nilai keberpihakan kepada rakyat. Menurutnya, mahasiswa memiliki mandat lebih sebagai aktor perubahan. Kampus bukan hanya ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat untuk ditempa melalui berbagai proses, termasuk menghadapi kepedihan dan tantangan. Semangat tersebut kemudian ditutup dengan seruan yang menggema di hadapan mahasiswa baru.
“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hidup pertanian Indonesia! Hidup seluruh perempuan yang melawan!”
Pesan tentang perjalanan mahasiswa juga disampaikan Ketua Himpunan Alumni IPB, Fauzi Amro, yang menekankan pentingnya peran alumni dalam mendampingi mahasiswa menentukan langkah selama perkuliahan maupun setelahnya. Ia mengingatkan bahwa menjadi mahasiswa membutuhkan langkah konkret, salah satunya dengan menjaga kepercayaan serta membangun kebiasaan berdialog dan berpegang pada fakta dalam menghadapi persoalan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti Beasiswa Yayasan Alumni Peduli IPB (YAPI) dan Program HA IPB Peduli. Sembari mencairkan suasana, Fauzi juga menyampaikan tiga prioritas mahasiswa, yakni menyelesaikan kuliah, berorganisasi, dan menemukan pasangan dari sesama alumni IPB setelah lulus.

Komitmen sebagai bagian dari IPB University ditegaskan melalui pembacaan Pakta Integritas oleh seluruh mahasiswa baru yang dilanjutkan dengan opening simbolik oleh Rektor IPB University, Alim Setiawan, bersama Alyssa. Simbolisasi uncal dan layar sentuh menjadi penanda dimulainya perjalanan Mahadipta Nabhaskara dalam mengeksplorasi diri dan dunia perkuliahan. Momen tersebut kemudian dilengkapi dengan penyematan almamater kepada dua perwakilan mahasiswa baru angkatan 63 oleh Alim dan Alyssa, yang dilanjutkan dengan pemakaian almamater secara serentak oleh seluruh mahasiswa baru sebagai penanda dimulainya perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar IPB University.
Memasuki sesi kuliah umum, Alim membawa mahasiswa baru pada refleksi mengenai makna menjadi mahasiswa melalui tema “Becoming More Than You Are!”. Ia mengingatkan pentingnya mengingat doa orang tua sekaligus beradaptasi dengan pola pikir baru, bahwa perkuliahan bukan sekadar mengejar nilai, melainkan memahami, mempertanyakan, mengintegrasikan ilmu, dan menerapkannya untuk menjawab persoalan nyata. Di tengah tantangan seperti krisis pangan dan energi, perubahan iklim, krisis keanekaragaman hayati, hingga perkembangan teknologi, mahasiswa dituntut mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan teknologi untuk menghasilkan solusi. Empat tahun di IPB University diharapkan tidak hanya menghasilkan gelar, tetapi membentuk pemimpin yang berintegritas, berani, empatik, tangguh, menguasai ilmu sekaligus rendah hati, berpikir global tanpa kehilangan pijakan pada Indonesia, dan mampu mengabdi kepada masyarakat.
Untuk menghidupkan pesan tersebut, Alim membagikan lima kisah inspiratif. Kisah Andi Hakim Nasoetion mengajarkan keberanian mencari kebenaran melalui ilmu dan data, sementara Norman Borlaug menunjukkan bahwa ketekunan dalam ilmu pertanian dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia. Kisah Jennifer Doudna dan Emmanuelle Charpentier menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin, sedangkan Wangari Maathai menunjukkan bahwa perubahan besar dapat bermula dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Sementara itu, kisah Kasim Arifin mengingatkan bahwa makna pendidikan tidak berhenti pada gelar, tetapi tercermin melalui kontribusi dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
“Bintang tak pernah bertanya untuk siapa dia bersinar, tapi dia tetap menyala sampai para pengembara menemukan cahayanya,” tutup Alim. Mahadipta Nabhaskara diajak untuk terus bersinar dengan berpegang pada keluhuran budi, ketinggian ilmu, dan sebanyak-banyaknya karya. “Banggalah menjadi bagian dari IPB,” pesannya, bukan karena merasa lebih tinggi, melainkan karena membawa tanggung jawab yang lebih besar sebagai mahasiswa IPB University.
Sesi berikutnya menghadirkan kuliah umum “The Future We Build” oleh Azzahra Putri Santi, alumni mahasiswa berprestasi IPB angkatan 57. Mengangkat cita-cita Indonesia Emas 2045, ia mengingatkan bahwa masa depan perlu dibangun melalui tindakan, bukan sekadar dibicarakan. Mahasiswa didorong untuk terus berkembang melalui konsep ‘Dream, Believe, Achieve’, terus berani bertanya, dan menjadi change maker hingga tingkat contributor. Kontribusi pun dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membagikan informasi yang bermanfaat bagi sesama.
“Jangan tunggu nanti. Jangan menunggu hebat untuk berkontribusi, tetapi berkontribusilah untuk menjadi hebat.” tutup Azzahra.
Memasuki sesi siang, Direktur Direktorat Kejasama, Komunikasi, dan Pemasaran (DKKP) IPB University, Alfian Helmi, melalui pemaparan “Komunikasi Publik dalam Kehidupan Kampus” mengajak mahasiswa baru memahami pentingnya menyeimbangkan pengetahuan dengan keterampilan dan karakter. Salah satu kemampuan utama yang ditekankan adalah critical thinking, terutama di era post-truth, dengan membiasakan diri membedakan fakta dan emosi, memahami persoalan secara utuh, serta menyusun solusi berdasarkan realitas. Mahasiswa juga diingatkan bahwa setiap karya dan prestasi turut membawa nama IPB University, sehingga masa perkuliahan perlu dimanfaatkan untuk tumbuh, bereksplorasi, dan membangun pengalaman.
Keseruan kembali berlanjut melalui talkshow “Beyond One Label” bersama Gojek yang dibawakan oleh Annisa Pratiwanda dan Arga Syauqi, dengan Manik Nurul Alfiya sebagai moderator. Mahasiswa diajak memanfaatkan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) secara bijak sebagai alat bantu belajar tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus membangun kemandirian, mengatur waktu, dan memanfaatkan masa perkuliahan untuk terus bereksplorasi.
Rangkaian hari pertama MPKMB IPB 63 X AGSN 2026 ditutup dengan Narasi Besar berjudul “Rangkai Harmoni” yang ditampilkan oleh Theater Cheetal. Mengisahkan sekelompok mahasiswa yang dihadapkan pada perbedaan pendapat, ego, hingga kesalahpahaman dalam menjalankan sebuah proyek bersama, Rangkai Harmoni mengajak mahasiswa baru untuk memahami pentingnya keterbukaan, komunikasi, dan kebijaksanaan dalam bermedia sosial. Konflik yang terjadi pada akhirnya membawa mereka kembali pada satu hal, yakni perbedaan tak harus menjadi alasan untuk berjarak, sebab keharmonisan dapat kembali dirangkai melalui sikap saling memahami dan memaafkan.
Hari pertama MPKMB IPB 63 X AGSN 2026 menjadi lebih dari sekadar seremoni penyambutan, tetapi juga menjadi awal perjalanan Mahadipta Nabhaskara dalam mengenal kehidupan sebagai mahasiswa. Meski perjalanan ke depan mungkin diwarnai kebingungan, kegagalan, dan tantangan, satu hal menjadi bekal utama, yaitu menjadi mahasiswa IPB University bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi tentang mengamalkan ilmu, menciptakan karya, dan memberi kontribusi bagi masyarakat.
Selamat datang di IPB University, Mahadipta Nabhaskara.
***
Penulis: Alifa Lacita Khairani
Editor: Asni Kayla Azzahra




Tambahkan Komentar