Sumedang – Di ketinggian 600–900 meter di atas permukaan laut, Desa Wado membentang sebagai dataran bergelombang hingga perbukitan di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk dan tak jauh dari Waduk Jatigede, desa seluas 2,22 kilometer persegi ini menyimpan potensi besar di sektor perikanan dan pertanian berkat tanah yang menopang kesuburannya. Namun di balik potensi itu, satu persoalan sederhana masih luput dari perhatian. Yaitu sampah organik rumah tangga yang menumpuk tanpa pengelolaan yang berkelanjutan.
Menjawab persoalan tersebut, delapan mahasiswa yang tergabung dalam KKNT Inovasi IPB University 2026 hadir di Desa Wado selama periode 6 Juli hingga 14 Agustus 2026, di bawah bimbingan Dr. Majariana Krisanti, S.Pi., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Tim yang beranggotakan Moch Rifan Ramdhani (Koordinator Desa, FPIK 60), Kayla Fathiya Anindita (Sekretaris, SKHB 60), Mohamad Julficor (Bendahara, FPIK 60), Fatkhia Khairahmadania (Acara, FPIK 60), Prahasti Setia Mulia (Humas, FPIK 60), Pangeran Sunday Marcellino (Logistik dan Umum, SSMI 60), Rafilah Izdihar Andoni (Publikasi, Dokumentasi, dan Desain, FPIK 60) dan Sofia Aila (Publikasi, Dokumentasi, dan Desain, FAHUTAN 60) ini tak hanya datang menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membawa misi mengubah kebiasaan warga dalam mengelola limbah rumah tangga mereka sendiri.
Sofia Aila, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa pemilihan biopori sebagai solusi bukan tanpa alasan. Sifatnya yang multifungsi menjadi pertimbangan utama. “Biopori bersifat multifungsional, jadi dapat membantu dalam pengelolaan sampah dapur, meningkatkan nutrisi tanah, dan resapan air,” ujarnya. Ia menambahkan, persoalan pengelolaan sampah di Desa Wado memang belum sepenuhnya berjalan optimal, sehingga biopori dipandang sebagai jalan keluar yang sederhana namun berdampak luas, sekaligus membantu warga menghadapi risiko genangan air di wilayah berkontur perbukitan seperti Wado.
Program bertajuk Sosialisasi Biopori ini dijalankan secara bertahap dan menyatu dengan program kerja lain, yakni pengenalan aplikasi Digitani, sebuah platform digital untuk informasi seputar pertanian. Pada pekan keempat masa pengabdian, tim lebih dulu menyampaikan materi dasar kepada warga Dusun Wadocirang. Mulai dari pengertian, manfaat, fungsi, hingga cara pembuatan lubang resapan biopori sebagai solusi sederhana mengurangi genangan air sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos.
Sofia menjelaskan, tahapan sosialisasi ini dirancang berjenjang agar warga benar-benar memahami manfaatnya sebelum turun ke praktik. “Sebelum kami melakukan penanaman, kami melakukan sosialisasi ke kelompok tani Desa Wado mengenai biopori, setelah itu kami berdiskusi dengan warga untuk lokasi pemasangan, dan ketika dilakukan pemasangan kami melakukan sosialisasi lagi kepada warga yang hadir dalam praktik penanaman tersebut, termasuk kepada kelompok tani wanita,” jelasnya.
Memasuki pekan kelima, sosialisasi berlanjut ke tahap yang paling dinanti, praktik langsung. Bersama warga, mahasiswa turun tangan menggali dan memasang lubang biopori di titik-titik yang telah disepakati sebelumnya. Namun proses ini tidak semulus rencana di atas kertas. Kontur tanah Desa Wado yang berbukit dan berbatu membuat tahap penggalian menjadi tantangan tersendiri di lapangan. “Untuk mengedukasi tidak ada masalah, mungkin masalahnya hanya dalam praktik pemasangan, menggali lubang lumayan susah karena banyak batu dan kerikil,” ungkap Sofia.
Di luar program biopori, tim KKNT Inovasi IPB University juga menjalankan sederet inisiatif lain di Desa Wado, salah satunya “Si Cantik” (Strategi Cerdas Pengolahan Ikan), mengolah ikan nila lokal menjadi bakso ikan bergizi yang kemudian dibagikan kepada balita dan ibu hamil melalui kegiatan Posyandu. Keberagaman program ini menunjukkan bahwa pengabdian yang dijalankan tim tidak berhenti pada satu isu, melainkan menyentuh berbagai lini kebutuhan masyarakat Desa Wado secara menyeluruh.
Bagi Sofia dan timnya, keberhasilan program biopori tidak diukur dari seremoni penggalian lubang semata, melainkan dari sejauh mana warga mau merawatnya dalam jangka panjang. Harapannya sederhana, semakin banyak warga yang menanam biopori di pekarangan atau kebun mereka, dan lubang tersebut tetap terawat setelah masa KKN berakhir. Komitmen itu pun tak berhenti begitu program usai. “Harapannya kami dapat terus berkontak dengan warga di Desa Wado dan menanyakan jika terdapat peningkatan minat, jika mereka terdapat kendala atau pertanyaan akan selalu kami bantu,” tambah Sofia.
Menutup masa pengabdiannya, Sofia dan tim menitipkan harapan besar untuk keberlanjutan kebiasaan ini di Desa Wado. “Semoga pengelolaan limbah dapat dilakukan setiap warga dan mereka mengetahui bahwa terdapat fungsi dalam mengelola limbah, dan bisa dipraktikkan bersama upaya-upaya lain seperti serapan air, dan lain-lain,” pungkasnya. Lubang-lubang kecil yang tertanam di pekarangan warga Desa Wado kini menjadi saksi, bahwa langkah sederhana dapat menjadi awal dari perubahan yang membawa manfaat dan keberlanjutan.
***
Reporter: Habiburrahman Awaludin
Editor: Neng Apap Apiani





Tambahkan Komentar