Potensi sumber daya alam tersimpan melimpah di Desa Talagawangi. Pengelolaan wilayah di Kecamatan Pakenjeng ini membutuhkan tata kelola yang tepat dan rapi. Namun, pemanfaatannya masih terganjal status 4.000 hektare hutan KHDPK yang belum mengantongi izin SK Perhutanan Sosial hingga hari ini. Menjawab tantangan tersebut, tujuh mahasiswa KKNT IPB University hadir mengulurkan dedikasi. Beragam program dihadirkan untuk menambah wawasan warga, menumbuhkan kesadaran mitigasi, serta merawat lingkungan secara lestari.
Mengurai persoalan kawasan hutan tersebut, tim KKNT mengadakan sosialisasi dan pendampingan Perhutanan Sosial. Langkah awal diwujudkan melalui pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) sebagai wadah musyawarah bersama LMDH dan pemerintah desa setempat. Tak berhenti di situ, mahasiswa bersama para petani penggarap langsung bergerak merumuskan draf pengajuan SK PS demi memberikan kepastian hukum dan hak kelola lahan bagi masyarakat.
Selain itu, tim KKNT Desa Talagawangi turut merancang peta digital potensi dan kerawanan bencana. Hasil pemetaan ini diserahkan kepada perangkat desa sekaligus dipasang permanen di lokasi strategis agar warga bisa melihat langsung titik rawan, sekaligus lebih waspada terhadap potensi bencana. Upaya ini sekaligus merespons kondisi geografis desa yang berada di kawasan rawan longsor.
Tak berhenti di ranah lingkungan dan mitigasi, tim KKNT juga mengembangkan digitalisasi desa dengan meluncurkan situs resmi. Portal ini dirancang untuk mengelola informasi publik dan mempromosikan potensi lokal Desa Talagawangi, yang kini dapat diakses masyarakat luas secara terbuka melalui laman https://talagawangi.netlify.app.
Sejalan dengan upaya mitigasi bencana, tim KKNT mengusung program HIJAU untuk menjaga kelestarian lingkungan desa. Aksi ini direalisasikan bersama warga setempat yang bergotong royong menanam masing-masing 60 bibit alpukat dan durian di sepanjang jalur desa sejauh tiga kilometer.

Program HIJAU ini diharapkan turut menjaga daya serap air sekaligus membuat jalan desa kian asri. Deretan pohon yang ditanam pun menjadi simbol penyambut bagi warga maupun tamu saat memasuki kawasan yang masih didominasi hutan.
Penataan akses desa dilanjutkan dengan peningkatan keselamatan jalan lewat program SIGAP. Pemasangan reflektor difokuskan pada titik-titik rawan guna menekan risiko kecelakaan bagi pengendara di malam hari.
Program pengabdian tim KKNT juga merangkul generasi muda dan kelompok tani berbasis edukasi ekonomi kreatif serta kepedulian lingkungan. Pelatihan ecoprint teknik mencetak motif alami tulang daun langsung ke atas kain dikenalkan untuk siswa sekolah dasar. Sementara itu, pengolahan limbah rumah tangga menjadi eco enzyme, yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi sisa kulit buah dan sayur, serta pupuk organik cair dipraktikkan bersama para petani Desa Talagawangi guna mengurangi ketergantungan pada pupuk kimiawi.
Usainya masa pengabdian ini diharapkan bukan menjadi akhir, melainkan awal bagi warga Desa Talagawangi untuk terus merawat dan melanjutkan inisiatif yang telah dirintis bersama. Seluruh kegiatan yang telah dijalankan bersama warga menjadi langkah awal bagi penataan desa. Upaya penataan ini diharapkan terus hidup di tengah masyarakat. Kehadiran peta mitigasi bencana dan situs resmi desa disiapkan agar warga memiliki sarana informasi yang nyata dalam mengelola potensi wilayah mereka.
Annisa, anggota tim KKNT Desa Talagawangi, menegaskan pentingnya keberlanjutan tersebut.
“Kami melihat banyak potensi alam di sini yang bisa dikembangkan, khususnya pengelolaan kawasan hutan agar jauh lebih optimal. Harapan kami, masyarakat mulai terdorong untuk menyadari dan menjaga potensi tersebut, serta melanjutkan pemanfaatan website dan peta yang telah dibangun bersama,” tuturnya.
Pengabdian ini pun menorehkan dampak yang terus berlanjut. Bekal mitigasi bencana dan pembenahan tata kelola lingkungan yang telah dirajut diharapkan tidak ikut pudar, melainkan terus hidup menjadi kebiasaan baru warga Desa Talagawangi.
***
Reporter: Nauva Putri Lestari
Editor: Rahma Annisa




Tambahkan Komentar