Garut, 20 Februari 2026—Kegiatan Six University Initiative Japan-Indonesia Service Learning Program (SUIJI-SLP) yang berlangsung hingga 2 Maret 2026 menjadi momen yang tak terlupakan bagi mahasiswa dan masyarakat di desa Jayamekar, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Program pengabdian masyarakat ini diikuti oleh mahasiswa dari tiga universitas terkemuka di Indonesia (IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin) serta mahasiswa dari tiga universitas Jepang (Kochi University, Kagawa University, dan Ehime University).
Seirama dengan latar belakang universitas dan lokasi desa, perhatian utama program ini adalah agroforestry, khususnya pada komoditas teh dan kopi. Selama sepuluh hari, mahasiswa melaksanakan berbagai program kerja yang relevan dengan isu sekitar wilayah tersebut dan melibatkan masyarakat secara langsung. Bekerja sama dengan lembaga koperasi di daerah Garut dan disambut ramah oleh pimpinan desa, hal ini memudahkan mahasiswa untuk membaur dan berkoordinasi dengan warga sekitar mengenai program kerja yang dijalankan.
Melalui program kerja bidang agroforestry, mahasiswa diajak oleh masyarakat untuk turut serta mempelajari proses produksi biji kopi. Mulai dari menanam, memberi pupuk, pruning, memetik, membedakan kopi merah dan hijau, menimbang, grading, hingga berbagai metode pengolahan kopi menjadi siap konsumsi. Di akhir acara, peserta diajak mencicipi kopi hasil olahan sendiri. Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar memahami sudut pandang para petani kopi di Desa Jayamekar sekaligus mengenal lebih dekat proses pengolahan kopi.

SUIJI-SLP Garut Site juga turut melibatkan lembaga pendidikan di desa sebagai bentuk pelayanan yang berdampak. SDN 2 Jayamekar dan TK Nurul Huda dipilih karena letaknya tidak jauh dari desa tempat mahasiswa tinggal sementara. Dalam pelaksanaanya terdapat tiga program yang dibangun, yaitu:
Program pertama adalah belajar membuat bangau dari origami. Menurut para mahasiswa Jepang, tradisi senbazuru—melipat 1.000 burung bangau menjadi satu kesatuan—sangat mencerminkan anak-anak tentang masa depan. Selain itu, mahasiswa juga mengajarkan filosofi di balik tradisi dan simbol sebagai bentuk pertukaran budaya yang indah.
Program kedua adalah penyuluhan terkait mitigasi bencana. Lokasi desa yang berada di kaki gunung dengan wilayah cukup tinggi dinilai sangat rawan terhadap bencana alam. Pengetahuan mengenai mitigasi bencana sejak dini menjadi sangat penting, oleh karena itu mahasiswa miengajak anak-anak untuk siaga akan resiko penebangan hutan yang dapat menyebabkan longsor dan banjir. Hal ini sejalan dengan pendidikan bencana alam yang telah membudaya di Jepang.

Program ketiga adalah menanam pohon bersama. Para mahasiswa membawa sekitar 80 bibit pohon dari IPB University. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok bersama para siswa SDN 2 Jayamekar. Anak-anak diharapkan bisa memahami peran krusial pohon dalam kehidupan manusia sehingga penanaman sekecil apapun akan memiliki dampak yang besar.
Ketiga program kerja tersebut juga dilaksanakan di TK Nurul Huda dengan pendekatan yang lebih menyenangkan sesuai dengan usia siswa. Melalui penyampaian materi di awal dan praktik langsung di akhir kegiatan, SUIJI-SLP Garut Site optimis pendidikan yang diberikan bisa berdampak terhadap setiap anak.
Permasalahan lain di Desa Jayamekar juga muncul dari pengelolaan sampah yang terabaikan. Menurut Kepala Desa, masalah utama di desa adalah pembuangan dan pengelolaan sampah yang buruk. Setelah perombakan program kerja untuk mencari jalan keluar, mahasiswa bersama masyarakat sepakat untuk melakukan kegiatan pemungutan sampah bersama. Setelah semua sampah dibersihkan dan dikumpulkan, mahasiswa mengajarkan masyarakat tentang cara membedakan dan mengelola sampah dengan baik. Tempat sampah dengan label organik dan anorganik juga dibagikan oleh mahasiswa untuk setiap rumah. Sebagai hasil dari kegiatan tersebut, masyarakat memahami sekaligus difasilitasi pengetahuan seputar sampah sehingga masalah dapat perlahan teratasi.

Berbagi takjil di hari terakhir juga dilakukan sebagai penutup rangkaian program kerja SUIJI-SLP Garut Site setelah sepuluh hari mengabdi di Desa Jayamekar. Mahasiswa memasak sekaligus mengenalkan makanan khas Jepang pada masyarakat. Kebersamaan ini diharapkan dapat menumbuhkan mimpi-mimpi dan harapan baru.
Mengusung konsep service learning program, perwakilan partisipan SUIJI-SLP Garut Site, Arahma Khairunnisa, menekankan bahwa program tersebut bukan sekadar ajang menuang ilmu pengetahuan, melainkan proses belajar bersama masyarakat hingga ilmu dapat diimplementasikan melalui berbagai kegiatan dan pendekatan yang menyenangkan. “Pengabdian kami memberikan sebuah pelayanan melalui belajar langsung dengan masyarakat. Hal ini seringkali diabaikan oleh banyak akademisi,” tuturnya.
Arahma menambahkan, melalui kegiatan belajar langsung bersama masyarakat, SUIJI-SLP berharap para mahasiswa yang turut serta mampu memahami basis komunitas dan masyarakat, pengabdian yang ideal, serta proses pemecahan masalah sebagai seorang akademisi. Hal ini memungkinkan media pembelajaran yang lebih luas, efektif, dan berdampak. Sebagai output fisik, mahasiswa membuat jurnal terkait rangkaian kegiatan selama mengabdi di Desa Jayamekar baik terkait agroforestry, pendidikan, maupun community service. Maka, SUIJI-SLP Garut Site bukan hanya perjalanan sepuluh hari yang meninggalkan jejak kebaikan tetapi juga memori bagi mahasiswa dan masyarakat Desa Jayamekar.
***
Penulis: Azizah
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar