Arif Satria Pamit ke BRIN, Rektor Alim Dapat ‘Oleh-Oleh’ PR Setumpuk

“…Dengan penuh rasa tanggung jawab, menjaga integritas…,” ulang rektor baru itu mengucap sumpah dibimbing Ketua Majelis Wali Amanat (MWA). Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP., M.Si., mantan Wakil Rektor bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur (WR II), per Kamis (11/12), resmi dilantik menjadi rektor IPB University pengganti antar waktu (PAW). Pengangkatan ini mengekor dari penunjukkan Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., rektor pendahulu, sebagai kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru di Istana. Dinamika ini menyisakan rentetan “pekerjaan rumah” bertenggat tahun 2028 (sesuai periode kepemimpinan) yang ditumpahkan MWA dan Arif pada penerusnya.

Tugas pertama Alim adalah mencarikan WR II baru dalam sepekan ke depan, begitu kata Hardinsyah, Ketua MWA. Ini adalah akibat dari keputusan MWA yang mengharuskan wakil rektor sebagai syarat penerusnya. Seakan merekomendasikan, “Sudah dua periode belum ada WR perempuan,” ucap Hardinsyah mengutip bisikan seseorang di sekitarnya. “Di ruangan ini (auditorium Andi Hakim Nasution) 70%-nya perempuan,” dia meyakinkan hadirin. “Semua bergantung pada 17 orang (anggota MWA),” tutupnya.

Sumber Gambar: YouTube IPB TV

Kini giliran Arif yang naik ke mimbar. Ia memulai pidatonya yang “benar-benar terakhir” ini dengan bernostalgia singkat perjalanan dengan Alim semasa rezimnya. Berawal dari direktur kemahasiswaan (Ditmawa) di 2018, dilanjut WR II di 2023, hingga kini menjadi rektor. Ia turut bangga, bak seorang ayah pada putranya, bisa mengestafetkan kepemimpinannya pada yang lebih muda. (Diketahui Alim berusia 43 tahun, lebih muda 11 tahun dari Arif.) Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa sivitas melihat pada visi, bukan orangnya.

“Hanya ada dua rektor yang diundang,” Arif bercerita soal pertemuan pentingnya di Stanford University. TU Munich mewakili Eropa; IPB University mewakili Asia kala itu. “Mengapa kami yang diundang?” Tanya Arif kebingungan pada pimpinan kampus top Amerika itu. “Kami melihat dampak besar IPB pada sekitarnya.”

Konferensi prestisius itu berjudul Living Lab Summit. Di sana, Arif tak sekadar duduk manis. Melainkan didapuk sebagai pembicara kunci, memamerkan “dapur” riset IPB yang terkoneksi langsung dengan masyarakat. Salah satu primadonanya adalah Jonggol Innovation Valley. Kawasan seluas 260 ha ini ia pamerkan sebagai bukti hidup bagaimana warga, peneliti, dan industri berdialog langsung di lapangan, bukan hanya di atas kertas. Maka IPB untuk dapat menjadi pemimpin di negara global selatan (global south) dalam bidang Innopreneurship—atau kewirausahaan berbasis inovasi—menjadi cita besar Arif. Kepercayaan dari Stanford menandakan kerja nyata IPB, menurutnya.

Arif berpendapat bahwa penguatan reputasi ini juga perlu dibarengi dengan menggeser fokus riset: menitikberatkan pada omic science, akal imitasi (AI), dan keberlanjutan (sustainability) yang memang menjadi prioritas dunia. IPB juga semestinya sadar, ada kedekatan antara dia dengan antariksa. Kata Arif, kini BRIN sedang meneliti satelit bertenaga AI yang mampu menarasikan citra yang ditangkapnya. Remote sensing semacam ini akan membawa kemudahan untuk keamanan negara, konversi lahan, hingga pangan, gagas Arif.

Dengan adaptabilitas tinggi semacam ini, IPB pasti bisa melesat peringkatnya dari 399 ke-275 kampus sedunia QS WUR (World University Ranking). Selain itu, IPB juga mesti meluaskan sayapnya hingga ke negeri seberang. “Logo IPB tak hanya akan ada di Bogor, tapi seluruh dunia.” Malaysia jadi incaran awal. Ada rencana mendirikan Kedokteran Hewan di sana. Pejabat setingkat gubernur setempat sudah dilobinya. Namun, masih perlu ada lanjutan.

“Jangan stres dulu, Pak Alim. Pasti bisa!”

Selain itu, ada Rp3,1 triliun yang mesti diolah Alim hingga sedemikian rupa untuk pembangunan tahap 3. Bergepok-gepok uang itu berasal dari kepercayaan besar Bappenas, KOICA (Korea International Cooperation Agency), hingga PRIME STeP (program Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) pada IPB. Mulai dari kebun riset perpadian, hingga rumah sakit tipe C. “Biar adil: ada rumah sakit hewan, juga harus ada manusia,” ujar Arif berjenaka.

Selanjutnya, perlu ada penyesuaian jurusan dan fakultas di kampus. Sekolah Teknik dan Fakultas Teknologi Pertanian yang bertransformasi jadi Fakultas Teknik dan Teknologi, contohnya yang baru terjadi. Begitu juga masuknya Gizi Masyarakat ke Fakultas Kedokteran dan kini menjadi “FK GIZ.” Perlu ada kebijaksanaan dan partisipasi dari berbagai elemen kampus untuk terus mengejar perubahan zaman yang kian melaju.

Sumber Gambar: YouTube IPB TV

Di penghujung, Arif tersedu mengingat betapa letihnya menjadi seorang rektor. Disebutkan olehnya satu persatu batu pijakan pemimpin kampus terdahulu: Sitanala, Andi, Satari,… “Rif,” Arif menirukan suara Mattjik, salah satu rektor lawas. “Jangan ragu mengubah kebijakan yang saya buat.” Waktu itu, Arif yang hanya mengubah hal-hal sepele, tersentuh. Dia juga tak ingin Alim merasakan yang sama. “Saya sudah ikhlas melepas IPB dengan capaian hari ini.” Bermimpi lah terus yang besar, Alim.

Dalam pidatonya, Alim menilai bahwa Arif berhasil menorehkan pondasi yang kuat di IPB melalui pola pikir yang terus bertumbuh, transformasi kelembagaan, penguatan ekosistem informasi, serta penguatan reputasi global. Sehingga tugasnya serta sivitas lain adalah menjaga, melanjutkan, dan mempercepat laju perkembangan legasi transformasi tersebut. Tidak lupa memikirkan lompatan baru untuk terus menjadi yang terdepan di kancah nasional maupun global. “Prof. Arif selalu menyampaikan bahwa IPB harus menjadi institusi yang resilience. IPB harus selalu terdepan dengan mutu, inklusif, relevan, adaptif, impactful–mirai, dalam bahasa Jepang berarti masa depan yang saya harapkan atas IPB,” jelas Alim. Ia optimis dapat melanjutkan tugas Arif sebagai rektor sekaligus menciptakan perubahan IPB University ke arah yang lebih baik.

Sumber Gambar: YouTube IPB TV

Dengan keyakinan atas amanah yang baginya bukan hanya sekadar jabatan, melainkan panggilan untuk meneruskan sebuah gerak besar, sejarah, dan masa depan IPB, sebuah kalimat penuh makna diucapkan Alim penuh bangga, “Saya besar dan tumbuh dari keluarga guru SD dan petani. Guru yang menanam nilai ilmu dan akhlak, serta petani menanam padi untuk kehidupan. Maka ketika menjadi dosen IPB, saya menyadari bahwa tugas saya sejatinya adalah meneruskan dua pekerjaan mulia tersebut, yaitu menanam ilmu dan masa depan.”

Alim percaya bahwa berdirinya ia di auditorium tak lain atas dasar cinta dan dukungan orang-orang di sekitarnya. Baginya, mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan keahlian tentu akan memberikan hasil yang terbaik pula. “Bukan titik yang membuat tinta, tapi karena tinta kita bisa membuat titik. Bukan cantik yang membuat cinta, tapi dengan cinta semuanya akan jadi cantik,” tutup Alim dengan pantun jenaka namun penuh makna.

***

Reporter: Ariz Nurrudin, Azizah

Editor: Asni Kayla, Dyaz Miftah

Layouter: Aufa Rafli

Marcomm: Ghawa Gibran

 

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.