Dari tahun ke tahun, IPB University secara konsisten menyelenggarakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) IPB yang dibina langsung oleh tim PKM Center. Ajang ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan inovatif guna memberikan solusi bagi permasalahan bangsa. Melalui pembinaan dan pendampingan, para mahasiswa dibantu untuk mengembangkan dan mengemas ide kreatifnya dalam sebuah proposal yang siap diajukan kepada Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendikti Saintek.
Sebagai agenda tahunan, PKM IPB senantiasa menyuguhkan berbagai perubahan baru yang diarahkan untuk terus berkembang dan mendukung mahasiswa dan ide-idenya. Hal yang menjadi salah satu sorotan adalah timeline pelaksanaan. Sejumlah mahasiswa menilai timeline PKM IPB tahun ini terasa lebih padat dan cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
Nabila, salah satu peserta PKM-K (Kewirausahaan) angkatan 62, mengungkapkan bahwa alur kegiatan berlangsung cepat. “Lumayan kerasa cepatnya. Berasa banget gedebak-gedebuknya, tiba-tiba udah H-1 ngumpulin proposal,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Hasbi, peserta PKM-RSH yang telah mengikuti program ini selama tiga tahun berturut-turut. Ia menilai bahwa timeline tahun ini terasa lebih dipercepat dibandingkan tahun sebelumnya. “Kalau yang kemarin itu rada longgar timeline-nya. Tapi kalau sekarang agak mepet, kayak tiba-tiba harus ada upload proposal lagi, udah harus ada pitching,” katanya.
Timeline pelaksanaan tersebut menimbulkan tantangan bagi peserta. Nabila mengungkap keikutsertaan dalam PKM IPB memerlukan pengorbanan waktu, terutama kegiatan tersebut bersamaan dengan agenda kuliah. Pada beberapa waktu, Ia mengaku sempat kewalahan. Sementara, Hasbi yang kini berada di semester enam juga mengungkapkan hal serupa. Ia juga menambahkan kesulitannya dalam mengatur waktu kumpul dengan teman-teman tim dan mengerjakan revisi.
Kehadiran masa inkubasi juga menjadi salah satu inovasi dari PKM IPB pada tahun ini. Sebagai peserta yang telah mengikuti PKM IPB beberapa kali, Hasbi menilai masa inkubasi memiliki dua sisi. “Sisi positifnya, teman-teman yang benar pengen ikut PKM itu nggak langsung mundur karena gugur. Mereka bisa dibantu oleh fakultas untuk merombak ide mereka,” jelasnya.
Dengan adanya pendampingan masa inkubasi, mahasiswa tetap mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki gagasan agar lebih relevan. Namun demikian, Hasbi juga melihat adanya tantangan. Menurutnya, sistem inkubasi membuat tim PKM tidak hanya berfokus pada proposal yang berpotensi dikirim ke pusat, tetapi juga harus membantu tim yang belum memiliki ide matang. “Jadi PR-nya nambah”.
Selain masa inkubasi, terdapat pula sesi pitching yang mulai diselenggarakan tahun ini. Hasbi menilai sesi pitching cukup efektif karena memberikan ruang interaksi langsung dengan juri. Hal tersebut memberikan kesempatan berkomunikasi yang lebih leluasa antara tim dan dosen reviewer, serta fasilitator.
Tahun ini sistem pengumuman juga menjadi lebih tertutup karena hanya diinformasikan melalui email ketua tim. Hal ini berbeda dengan mekanisme tahun sebelumnya yang menggunakan spreadsheet. Sistem tersebut mengakibatkan sesama tim IPB tidak dapat melihat ide dan hasil review dari tim lain, bahkan tidak mengetahui tim-tim yang lolos seleksi IPB.
Menanggapi berbagai perubahan dalam pelaksanaan PKM tahun ini, Wana selaku fasilitator PKM-PM IPB 2026 memberikan penjelasan terkait penyesuaian yang terjadi. Ia menyampaikan bahwa perubahan timeline tidak terlepas dari jadwal PKM nasional. Ia menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan masa transisi sehingga pelaksanaan pada tahun sebelumnya mengalami keterlambatan. Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh Fika selaku koordinator Wilayah Sekolah Vokasi. Fika menyatakan jadwal nasional sebetulnya tidak maju, hanya saja kembali menargetkan bulan Oktober untuk Pimnas, puncak kompetisi PKM nasional.

Wana dan Fika juga menegaskan bahwa setiap tahun IPB University berupaya melakukan peningkatan sistem. Salah satu pembaruan yang diterapkan adalah mekanisme inkubasi. Keduanya memberikan penjelasan serupa, bahwa inkubasi bertujuan agar ide-ide yang pada tahap awal dinilai kurang optimal tidak langsung dieliminasi, melainkan diberi kesempatan untuk diperbaiki dan dikuatkan kembali. Dengan demikian, mahasiswa tetap memperoleh pembinaan dan peluang untuk menyempurnakan gagasannya sebelum melangkah ke tahap berikutnya.
Adapun, Fika memaparkan sesi pitching ditujukan agar mahasiswa dapat mengasah kemampuan public speaking yang diperlukan di seleksi PKM hingga Pimnas nanti. Pada tahap itu, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan proposal di hadapan dosen reviewer. “…juga ada pengalaman, ada pembelajaran yang bisa diambil. Gimana sih mental teman-teman ditempa di seleksi internal ini.” tutur Fika.
Terkait sistem pengumuman yang kini disampaikan melalui email kepada ketua tim, Wana menyebutkan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk menjaga eksklusivitas dan orisinalitas proposal. Mengingat yang diseleksi masih berupa gagasan, publikasi terbuka dikhawatirkan berpotensi memicu plagiarisme ide. Fika menambahkan hal tersebut juga agar peserta tidak patah semangat dan membandingkan diri dengan tim lain. Oleh karena itu, pengumuman dibuat lebih terbatas sebagai bentuk perlindungan terhadap peserta dan karyanya.
Secara umum, Wana menilai bahwa sistem tahun ini justru lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena dinilai lebih matang dengan adanya tahapan inkubasi tambahan. Ia menambahkan bahwa mekanisme PKM akan terus mengikuti hasil evaluasi setiap tahunnya. Tidak hanya itu, Fika juga mengungkapkan PKM Center senantiasa mendengarkan masukan-masukan dari peserta yang ditampung oleh fakultas. Meski begitu, Wana mengakui bahwa jadwal PKM kerap bersifat dinamis dan terkadang terasa mendadak bagi mahasiswa.
Sebagai penutup, Wana menyampaikan pesan kepada seperti untuk tetap semangat dan fokus untuk mencapai progress pada setiap tahapnya. Baginya, PKM lebih dari sekedar status lolos atau tidak, tetapi proses tim untuk belajar bekerja sama untuk mengembangkan ide dan menyusun proposal. “Selama ada perkembangan, itu sudah merupakan pencapaian yang berarti.” Ungkap Wana.
Pesan tersebut selaras dengan harapan dari Fika yang turut mengucapkan selamat kepada peserta yang terus melangkah mengikuti berbagai tahapan seleksi. Fika berharap peserta PKM IPB dapat terus merasakan perkembangan. Fika berharap, “…beberapa perkembangan yang kalian dapatkan ini bisa bertambah lagi ke fase-fase berikutnya.” Selain itu, dirinya juga berharap piala adikarta, trofi juara umum Pimnas, dapat pulang kembali ke IPB University.
***
Penulis: Helga Elvaretta, Alifa Lacita, Rika Nur Amanah
Editor: Dyaz Miftah Hidayat




Tambahkan Komentar