IPB University secara resmi mengukuhkan seluruh pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) tahun kepengurusan 2026. Momentum ini menjadi langkah strategis universitas dalam memperkuat peran mahasiswa sebagai aktor utama pencapaian milestone IPB menuju internasionalisasi. Dalam rangkaian acara tersebut, ditekankan pentingnya sinergi organisasi dalam menjawab isu-isu global serta penguatan kemandirian tata kelola anggaran yang kini mencatat angka pertumbuhan signifikan.
Rangkaian pengukuhan diawali dengan laporan oleh Direktur Kemahasiswaan Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si. yang mengatakan bahwa terdapat pertumbuhan signifikan dalam periode 2022-2025 dengan jumlah 184 ormawa aktif termasuk 20 entitas baru, meski terdapat penurunan mahasiswa aktif yang mengikuti organisasi mahasiswa daerah (OMDA). Sebanyak 11.000 mahasiswa terlibat aktif dalam kepengurusan, dengan tingkat keaktifan tertinggi berasal dari mahasiswa Sekolah Vokasi. Kinerja program ormawa IPB menunjukkan produktivitas luar biasa dengan tingkat realisasi program kerja mencapai 94,6% sepanjang tahun 2025 dan tercatat 740.000 total keterlibatan mahasiswa dalam berbagai agenda, Pertumbuhan ini didominasi oleh munculnya komunitas-komunitas baru serta penguatan Ormawa di tingkat Fakultas dan Sekolah.
“Ormawa harus tetap menjadi laboratorium kepemimpinan yang relevan. Kami melihat kemandirian yang luar biasa, di mana mahasiswa mampu menghimpun dana non-BPPTN hingga Rp10,6 miliar melalui kolaborasi industri dan sponsor, jauh melampaui dukungan dana pemerintah (BPPTN) sebesar Rp1,4 miliar. Ini adalah bukti nyata kapasitas manajerial mahasiswa IPB,” lapor Direktur Kemahasiswaan.
Usai pemaparan laporan, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Rektor dan pengambilan sumpah jabatan. Ratusan pengurus dari berbagai elemen, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA), secara serentak berikrar untuk menjalankan amanat dengan integritas tinggi.
Dalam amanatnya, Rektor IPB University menegaskan bahwa tahun 2026 telah ditetapkan sebagai tahun Global Engagement. Visi ini menuntut pergeseran paradigma kegiatan mahasiswa dari skala domestik menuju kontribusi internasional. Rektor meminta mahasiswa mulai menyentuh isu-isu dunia seperti mitigasi perubahan iklim, pengentasan kemiskinan, dan kedaulatan pangan global dalam setiap program kerjanya “IPB di tahun 2026 adalah Global Engagement. Oleh karena itu, saya minta kegiatan-kegiatan mahasiswa juga harus naik kelas. Jangan lagi hanya sibuk dengan kompetisi bola antar-angkatan, tapi mulailah masuk ke isu-isu internasional, mulai dari climate change, kemiskinan, hingga masalah pangan dunia”, ujarnya.

Sebagai langkah konkret mendukung mobilitas internasional, Rektor mengumumkan program fasilitas paspor gratis bagi para Ketua Ormawa yang ditargetkan rampung dalam tiga hingga empat bulan ke depan. “Internasionalisasi membutuhkan kesiapan administratif. Bagaimana kalian bisa berdiplomasi di luar negeri jika paspor saja belum punya? Universitas hadir untuk memfasilitasi langkah awal tersebut,” tegas Rektor yang disambut antusias oleh para peserta.
Menambah dimensi strategis dalam pelantikan ini, universitas memperkenalkan rencana kebijakan “Dana Hijau” atau Student Organization Dream Fund dengan proyeksi alokasi mencapai Rp1-Rp2 miliar. Rektor IPB University menegaskan bahwa dana tambahan ini bukan merupakan hibah cuma-cuma, melainkan sebuah skema tantangan (challenge) yang pencairannya didasarkan pada kemampuan Ormawa dalam menginisiasi program inovatif untuk mengubah perilaku mahasiswa agar lebih peduli lingkungan, seperti program zero waste, efisiensi energi, hingga pengurangan emisi kendaraan di area kampus.
“Saya ingin mencoba challenge teman-teman melalui Student Organization Dream Fund ini. Saya akan siapkan dana, bisa 1 atau 2 miliar untuk Ormawa, namun dana tersebut harus diakses melalui aktivitas yang memiliki dampak (impact) langsung terhadap lingkungan,” ujar Dr. Alim Setiawan Slamet, S.T.P., M.Si. Beliau menjelaskan bahwa besaran dana yang dapat digunakan akan sangat bergantung pada kualitas perubahan yang dihasilkan. “Semakin hijau dan semakin kritis perubahan yang dibuat, maka dana yang bisa dipakai akan semakin besar. Sebaliknya, jika indikator keberhasilannya tidak bagus, maka alokasi dana tersebut akan semakin menyusut.”

Meskipun saat ini masih dalam tahap rencana, kebijakan ini diharapkan menjadi katalisator transformasi budaya di lingkungan IPB. “Sisi lainnya, saya ingin mentransformasi perilaku (behavior) mahasiswa IPB agar lebih hijau lagi, mulai dari hal sederhana seperti disiplin membuang sampah pada tempatnya hingga langkah strategis mengurangi emisi di dalam kampus,” pungkasnya.
Tantangan strategis dari pihak rektorat tersebut direspon secara visioner oleh Ketua BEM IPB (Presiden Mahasiswa) terpilih melalui komitmen penyelarasan gerak dengan target universitas. Dalam orasinya, Abdan Rofi menyatakan kesiapan untuk mendukung penuh visi Global Engagement melalui penyelenggaraan Summer Course internasional yang direncanakan berlangsung pada September 2026 mendatang. Agenda ini diproyeksikan melibatkan mahasiswa dari berbagai negara di kawasan ASEAN untuk mendiskusikan gagasan-gagasan solutif mengenai isu pertanian, sekaligus menjadi panggung unjuk gigi bagi mahasiswa IPB di level mancanegara.

“Kita ada agenda yang canggih tentunya untuk mendukung tujuan dari milestone IPB Global Engagement, yang mana kita ada kegiatan summer course bersama negara-negara ASEAN yang dilaksanakan di bulan September.” Ia menjelaskan bahwa kolaborasi ini akan melibatkan Direktorat Konektivitas Global guna menciptakan ruang bagi mahasiswa di tingkat internasional dalam menanggapi isu-isu krusial. “Harapannya itu bisa menjadi ruang bagi mahasiswa di tingkat internasional dan juga IPB untuk kemudian bisa memaparkan gagasan-gagasan solutif dalam menanggapi isu pertanian, khususnya ketahanan pangan.”
Menutup rangkaian prosesi yang penuh optimisme tersebut, Rektor memberikan pesan kunci mengenai keseimbangan hidup mahasiswa. Beliau mengingatkan bahwa prestasi di organisasi tidak boleh menegasikan capaian akademik, “Jadilah pemimpin yang mampu mengharmonisasikan kecerdasan intelektual dan kematangan organisasi. Mudah-mudahan sukses akademiknya, sukses organisasinya,” ujar Rektor IPB University.
***
Penulis: Habiburrahman Awaluddin Kadir, Ari Yanto
Editor: Dyaz Miftah
Fotografer: Diva Hasan Hariri




Tambahkan Komentar