Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya—termasuk bahasa. Lebih dari 700 bahasa daerah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ribuan dialek berbeda terucap fasih dari setiap sudut kota. Dari pesisir pantai hingga lereng gunung, setiap daerah memiliki logat berbeda bahkan untuk sekadar mengucap “iya”. Di tengah keberagaman ini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas dan warisan budaya daerah.
Di Indonesia, bahasa ibu memiliki hubungan erat dengan bahasa daerah. Sebagian besar masyarakat Indonesia tumbuh besar di lingkungan yang menggunakan bahasa daerah. Tingginya interaksi sosial masyarakat dan minimnya paparan internet mendorong penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Dengan keberagaman bahasa daerah, Indonesia juga kaya akan berbagai macam bahasa ibu.

Menurut dosen Bahasa Indonesia serta Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Dr. Defina, S.S., M.Si., beberapa faktor seperti kondisi keluarga, lingkungan, dan teknologi memengaruhi pembentukan bahasa seorang anak. Bahasa yang digunakan dalam keluarga menjadi input utama seorang anak dalam belajar berbahasa. Namun, seiring bertambahnya interaksi sosial, anak mulai terpengaruh dengan bahasa yang digunakan masyarakat sekitarnya. Perkembangan teknologi dan internet juga turut memperkaya kosakata anak melalui berbagai konten di media sosial. Hal-hal tersebut yang kemudian memengaruhi kemampuan berbahasa, dialek, dan logat seorang anak.
Keberagaman bahasa ibu dapat terasa di lingkungan kampus. Ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dunia hadir dalam satu ruang lingkup yang sama. Berbagai bahasa terdengar bergantian digunakan para penuturnya. Masing-masing membawa cerita dan latar belakang berbeda. Keberagaman ini akhirnya menjadikan kampus sebagai miniatur Indonesia—atau bahkan dunia.
Kisah menarik datang dari Faizan, mahasiswa internasional IPB asal Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan yang menggunakan bahasa Pashto sebagai bahasa ibu. Faizan bercerita bahwa di minggu awal merantau, ia sedikit kesulitan untuk berinteraksi dengan para pedagang karena sebagian besar mereka hanya menggunakan bahasa lokal. Tantangan adaptasi dalam berbahasa ini membuatnya rindu dengan rumah dan keluarga. Namun, ada suatu momen tak terlupakan bagi Faizan ketika sedang berjalan di Bara, ia tidak sengaja mendengar seseorang berbicara dengan bahasa Pashto. Momen itu membuatnya merasa memiliki teman untuk berbincang dengan bahasa Pashto.

Hal serupa juga dialami Dewo, Mahasiswa IPB asal Manna, Bengkulu Selatan yang berbahasa Melayu dengan dialek Serawai. Meski bahasa Melayu cukup banyak digunakan di lingkungan kampus, tetapi dialek Serawainya membuat Dewo sulit menemukan teman untuk berbicara dengan bahasa ibu. Ia hanya menggunakan bahasa ibunya ketika menghubungi keluarganya di Bengkulu. Meski demikian, Dewo tetap merasa bangga menggunakan bahasa ibu karena menurutnya bahasa Melayu Serawai adalah bahasa yang lembut dan enak didengar.
Selain dari wilayah pesisir barat Sumatra, Alin, mahasiswa Sekolah Vokasi IPB asal Bali juga berbagi cerita mengenai kehidupan semester pertamanya di Bogor. Ia mengaku cukup jarang menemukan mahasiswa yang memiliki asal yang sama dengannya. Komunikasi menggunakan bahasa bali pun sangat terbatas. Namun, ia bercerita bahwa selalu menggunakan bahasa bali ketika berbicara dengan keluarganya via telepon.
Di sisi lain, ada Padoli, mahasiswa asal Indramayu yang tinggal di asrama milik Omda (Organisasi Mahasiswa Daerah) Indramayu. Dalam kehidupan sehari-hari di kampus, Padoli menggunakan bahasa Indonesia. Ketika pulang ke asrama, ia menggunakan bahasa ibunya yaitu Bahasa Jawa Dermayon. Tinggal di lingkungan yang sama-sama menggunakan bahasa Jawa Dermayon membuat Padoli sering menggunakan bahasa ibunya. Padoli justru mengaku sering terbelit-belit ketika menggunakan bahasa Indonesia karena terbiasa menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Jawa Dermayon.
Mahasiswa asal Jawa memiliki popularitas yang lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang datang dari daerah lain. Namun, perihal kerap berbicara menggunakan bahasa daerah dengan teman-teman di sekitarnya, mahasiswa dari Padang juga dapat merasakannya. Namanya Habi, mahasiswa jurusan Analisis Kimia yang mengaku dapat berbicara menggunakan bahasa Minangkabau setiap harinya. Ia menjelaskan bahwa di jurusannya (Analisis Kimia), cukup banyak mahasiswa asal Padang yang dapat berbicara menggunakan bahasa Minangkabau, sehingga dapat mengurangi rasa ‘homesick’ pada kampung halamannya. Meskipun begitu, Habi tetap menghubungi orang tuanya setiap malam dan berkomunikasi lewat bahasa Minangkabau.
Beberapa kisah mahasiswa IPB dari berbagai daerah tersebut cukup menggambarkan bahwa bahasa ibu memiliki keterkaitan emosional yang kuat antara individu dengan keluarga dan daerah asalnya. Menurut Ibu Defina, bahasa adalah cerminan dari hati. Mendengar atau mengucapkan bahasa ibu dapat secara spontan memunculkan memori alam bawah sadar. Karena itulah penggunaan bahasa ibu dapat menghadirkan perasaan “pulang” bagi para perantau seperti mahasiswa.
Bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa ke-10 yang diakui sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia. Dalam rangka menyambut Hari Bahasa Ibu Internasional, Ibu Defina berpesan untuk senantiasa menjaga bahasa ibu yang telah membentuk jati diri kita sedari kecil. Beliau juga berpesan untuk selalu mencintai dan mendukung bahasa indonesia, dengan harapan besar agar bahasa indonesia dapat melangkah lebih jauh dan diakui sebagai bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian terhadap bahasa ibu, terutama bahasa yang terancam punah, agar tetap dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.
***
Penulis: Naura Putri Kamila, Alda Muyassaroh
Editor: Dyaz Miftah
Fotografer: Zahwa Rivanti




Tambahkan Komentar