Kasih Sayang dalam Ruang-Ruang Sederhana

Halaman kedua dalam lembaran kalender tahun ini sudah mulai bergilir memancarkan sentuhannya. Dalam sudut lembarnya, cahaya merah jambu dan aroma bunga sudah mulai terpancar seolah menjadi pertanda bahwa waktu untuk kehangatan dan kasih sayang telah tiba. Biasanya, orang-orang memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berbagi kasih sayang bersama pasangan mereka sebagai bentuk romantisasi atas hubungannya. Pemberian bunga, cokelat, serta makan malam romantis merupakan hal yang identik dengan momen ini. Namun, jika dilihat lebih dalam, kehangatan dan kasih sayang sejatinya tidak hanya dapat ditafsirkan sebagai cinta yang romantis dengan pasangan, melainkan sebuah bentuk perasaan yang menyentuh setiap sudut kehidupan manusia.

Kasih sayang merupakan bentuk apresiasi terhadap hubungan interpersonal yang dapat diutarakan kepada siapapun. Bagaimana prosesnya dan kepada siapapun alamatnya, kasih sayang tetaplah wujud yang menjadi fondasi dalam hati manusia. Narasi kasih sayang kali ini tampaknya menjadi wadah baru bagi manusia, terutama anak muda, dalam meningkatkan self-love atau konsep yang memberikan ruang kasih sayang untuk diri sendiri. Kehadirannya memberikan ruang untuk refleksi terhadap diri sendiri. Kepada yang telah berdiri, kepada yang telah berjuang, dan kepada yang telah bertahan.

Di tengah hiruk pikuk perkuliahan, konsep itu hadir sebagai pengakuan atas segala hal yang telah diperjuangkan. Naura, salah satu mahasiswi IPB, menerjemahkan hal ini melalui ritual sederhana tetapi bermakna. “Saya biasanya memberi cokelat untuk diri sendiri sebagai bentuk apresiasi, ucapan terima kasih, dan kasih sayang karena telah berjuang selama ini. Ini juga salah satu bentuk self-love bagi diri saya,” ungkapnya. Menurutnya, hadiah kecil tersebut menjadi simbol penghormatan atas dirinya yang sudah berjuang dan selalu bangkit. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa mencintai diri sendiri adalah ketersediaan untuk selalu hadir menjadi teman bagi diri sendiri apapun kondisi dan keadaannya.

Namun, kasih sayang tidak berhenti pada diri sendiri. Ia dapat meluap dan menuangkannya kepada orang terdekat. Nada, mahasiswi IPB, memandang bahwa kasih sayang itu bentuknya bebas dan tidak terikat pada hubungan romantis saja. Baginya, memberikan buket bunga atau cokelat kepada sahabat terdekat juga merupakan bentuk apresiasi atas kehadiran mereka yang telah hadir dan mendukung ketika kita membutuhkannya. Ia meyakini bahwa kasih sayang dapat diutarakan kepada siapapun yang memberikan rasa aman. Kasih sayang dalam lingkup pertemanan menjadi dasar yang kuat ketika kita tahu mereka akan selalu datang di kala kita merasa sendirian.

Momen ini juga dilengkapi akar yang mendasar, yaitu keluarga. Nabil, mahasiswa IPB, Ia menganggap momen ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan penghargaan kepada sosok yang memberikan kasih sayang sejak lahir. Nabil memilih untuk mengutarakan rasa terima kasihnya kepada Ibunya melalui buket bunga dan cokelat sebagai simbol kasih sayang yang hadir. Bagi Nabil, orang tua adalah sosok yang paling pantas mendapatkan manifestasi cinta dalam bentuk apapun. Langkah ini menunjukkan bahwa kasih sayang keluarga merupakan sebuah kontinuitas, Ia tak hanya hadir, tetapi juga memberikan arus kasih sayang sehingga menjadi alasan kita untuk terus melangkah.

Pada akhirnya, kasih sayang bukan hanya soal tanggal atau hadiah yang kita berikan, melainkan tentang keberanian yang mampu menghangatkan di tengah dinginnya kehidupan. Kehadirannya memberikan ruang untuk kita refleksi bahwa mencintai berarti bersedia untuk hadir, menemani, dan menghargai eksistensi satu sama lain. Menjadi pengingat bahwa kita tidak harus menjadi sempurna untuk merasa berharga. Kasih sayang sejatinya tumbuh tanpa batasan ruang dan waktu, di dalam penerimaan diri sendiri, di dalam eratnya persahabatan, bahkan di dalam hangatnya pelukan keluarga.

Dalam ujung lembar ini tertulis bahwa kita berdiri, kita berjuang, dan kita tidak pernah benar-benar sendirian. Sebab selama kita masih ingin menuang dan menerima hangat, kasih sayang akan terus menghidupkan langkah kita dan menemani kita layaknya secangkir teh yang masih hangat di kala dinginnya udara hujan yang menusuk.

***

Penulis: Aghniya Mufida

Editor: Rahma Annisa

Fotografer: Elvin Ramadhani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.