Ratusan mahasiswa IPB University turun ke jalan dalam aksi yang berlangsung di Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 29 Agustus 2025. Mobilisasi massa diarahkan ke halaman depan Gedung Polda Metro Jaya, bergabung bersama perwakilan ojek online (ojol) dan mahasiswa dari berbagai kampus yang turut menyampaikan aspirasi.
Menurut Menko Soshum BEM KM IPB, Muhammad Syabril Diandra, setidaknya ada 368 mahasiswa IPB yang ikut serta dalam aksi ini. “Alasan keikutsertaan mahasiswa IPB dalam aksi ini adalah kami melihat adanya akumulasi permasalahan isu yang sampai saat ini menjadi problematika di negara ini. Salah satu isunya adalah represifitas aparat dan kendali terhadap sosial kontrol yang tidak berjalan baik,” ungkap Syabri.

Dalam aksi tersebut, massa membawa enam poin tuntutan yang terangkum dalam dua poin utama. Kedua poin utama tersebut adalah menuntut proses hukum yang adil terhadap aparat pelaku kekerasan kepada ojol serta mendorong adanya reformasi Polri, khususnya terkait ruang publik dan komunikasi dengan masyarakat. “Intinya tujuan aksi ini adalah menekan kebijakan untuk selalu tetap ada,” jelas Syabril.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Asep Edi Suheri sempat menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf atas tindakan represif aparat. Awalnya, Asep hanya menyebutkan inisial terduga pelaku, namun setelah didesak massa, nama lengkap mereka akhirnya dibacakan. Adapun nama-nama tersebut adalah Aipda M. Rohyani, Briptu Danang, Briptu Mardin, Baraka Jana Edi, Baraka Yohanes David, Bripka Rohmat, dan Kompol Cosmas K. Gae. Dalam press release, Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim juga menyatakan bahwa ketujuh pelaku tersebut telah terbukti melanggar kode etik profesi kepolisian. “Dari dasar fakta yang sudah ditemukan sementara, kami lakukan penempatan khusus di Divropam Polri selama 20 hari terhadap 7 orang terduga pelanggar terhitung 29 Agustus sampai dengan 17 September. Apabila 20 hari ini dirasakan kurang, ini masih bisa kita lakukan kembali,” ucapnya.

Aksi sempat diwarnai ketegangan dan kericuhan setelah dialog ditutup oleh Kapolda Metro Jaya. ”Yang rekan-rekan sampaikan akan kami laporkan kepada pimpinan dan akan kami rapatkan,” tutupnya tak menjawab. Diduga pula ada provokator yang merusak pagar pengaman dan melemparkan sampah ke dalam area Polda Metro Jaya. Perusakan tersebut berlanjut hingga api berkobar di tengah pintu gerbang.

TNI sempat terlihat lalu-lalang di sekitar area aksi, namun tidak melakukan intervensi langsung. Massa polisi juga tampak bersiaga di balik tameng. Sementara pihak Kapolda terlihat pergi dengan helikopter sebelum massa ada dalam kondisi yang kondusif.
Lebih lanjut, Syabril menegaskan bahwa aksi kali ini bukanlah akhir dari gerakan mahasiswa dan rakyat Indonesia. “Lanjutan dari ini kita akan melakukan eskalasi lanjut agar suara kita lebih banyak didengar, serta melakukan advokasi. Keberhasilan aksi hari ini bisa dilihat dari cara kita menekan aparat hingga mereka menyampaikan permintaan maaf secara langsung,” tegasnya.
***
Reporter: Farhan Ramadhan Abdullah, Fauzan Affan Zakiyya
Fotografer: Muhammad Gavin
Editor: Diana Rahmawati Pinandita




Tambahkan Komentar