Mahasiswa IPB University Gelar Aksi Simbolis “Hitamkan IPB”, Rektor Beri Apresiasi

Pada Rabu, 03 September 2025, wilayah kampus IPB University dipenuhi lautan hitam. Ribuan mahasiswa dari berbagai fakultas kompak mengenakan pakaian serba hitam dalam seluruh aktivitas mereka. Aksi simbolis bertajuk “Hitamkan IPB” ini menjadi bentuk perlawanan moral mahasiswa atas kegagalan negara dalam memenuhi hak rakyat, sekaligus wujud duka, kemarahan, dan tuntutan perubahan.

Aksi ini dimulai dengan marching dari CCR menuju Gedung Rektorat AHN, diiringi poster-poster propaganda yang tersebar di berbagai sudut kampus. Meski tidak semua mahasiswa ikut dalam barisan marching, banyak dari mereka berdiri di pinggir jalan dan area kampus, memberi dukungan moral.

Sumber: Khansa Saifanah

Adapun sebelas tuntutan yang disuarakan BEM KM IPB University meliputi: 

  1. Evaluasi besar-besaran terhadap DPR meliputi transparansi anggaran yang digunakan dan urgensinya dan turunkan tunjangan serta pecat anggota yang menantang dan menghina rakyat.
  2. Perkuat lembaga KPK dan sahkan RUU Perampasan Aset. 
  3. Reformasi total Polri (termasuk dalam rekrutmennya). Bersihkan dari mafia, bubarkan kartel kekuasaan, wujudkan institusi yang benar-benar pro rakyat.
  4. Bebaskan segera kawan-kawan kami, hentikan represifitas aparat, adili aparat pembunuh rakyat, dan berikan keadilan bagi korban. 
  5. Evaluasi total Kabinet Merah Putih.
  6. Reformasi Undang-Undang Peradilan Militer.
  7. Libatkan rakyat dalam pembahasan RUU KUHAP dan KUHP.
  8. Realisasikan janji wapres untuk menciptakan 19 juta lapangan pekerjaan.
  9. Evaluasi MBG.
  10. Prioritaskan sektor pendidikan dan wujudkan kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia.
  11. Tarik mundur TNI ke barak dan tolak dwifungsi TNI di ranah sipil.

Rektor IPB University, Arif Satria beserta jajarannya ikut hadir dalam aksi simbolis ini. Arif menyebutkan bahwa dirinya sangat mengapresiasi mahasiswa IPB yang selalu menyampaikan aspirasinya dengan bermartabat. Dalam wawancara singkat bersama Tim Koran Kampus, ia juga menegaskan apresiasinya terhadap gerakan mahasiswa IPB. 

Sumber: Khansa Saifanah

“Saya mengapresiasi gerakan mahasiswa IPB yang bermanfaat, gerakan mahasiswa IPB yang masih menjunjung tinggi mencintai rakyat Indonesia. Saya bangga karena gerakan IPB selalu dilandasi kekuatan intelektual dan aktivitas moral, itu adalah ciri mahasiswa IPB,” ungkap Arif Satria, Rektor IPB University saat diwawancarai pada Rabu, 03 September 2025.

“Oleh karena itu, mari kita terus jaga tradisi intelektual, tradisi gerakan yang bermartabat, yang selalu mengedepankan perdamaian. Kami juga sangat berpesan agar para mahasiswa menjaga diri dari berbagai provokasi, menjaga diri dari berbagai informasi hoaks, dan terus menjaga diri dari anarkisme,” tambahnya.

Deni Novianto, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University juga menyebutkan jika aksi yang dilakukan oleh mahasiswa IPB ini disampaikan dengan cara yang sangat baik. 

“Pertama, tentu menyampaikan aspirasi itu hak konstitusional ya. Jadi siapapun berhak, mahasiswa apalagi. Menurut saya ini hal yang sangat baik dan positif karena memberikan sanksi kepada elit, pemerintah dan juga kepada DPR. Kalian sudah menyampaikannya dengan cara yang sangat baik,” kata Deni. 

Sumber: Khansa Saifanah

Ketua BEM KM IPB University, Muhammad Afif Fahreza turut menyampaikan harapannya pada aksi simbolik kali ini. Afif berharap DPR dan aparat pemerintahan dapat mendengar apa yang menjadi keluh kesah rakyat. 

“Kami berharap presiden, DPR dan aparat pemerintah mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah rakyat adalah representasi rakyat indonesia. Mulai hari ini, kami tidak butuh video yang mereka upload di Instagram pribadi atau permohonan maaf mereka yang normatif itu. Saya butuh mereka turun langsung ke rakyat dan menjawab tuntutan mereka. Itu yang kami butuhkan,” jelas Afif.

Aksi ditutup dengan suasana berkabung, mahasiswa menyalakan api lilin di depan tugu Peletakan Batu Pertama IPB University. Sebelum itu, Rektor IPB University Arif Satria mengajak berbela sungkawa, mendoakan korban demo. Drama teater juga turut digelar, menggambarkan representasi aparat terhadap rakyat.

***

Reporter: Muhammad Diki Syawaludin, Neng Apap Apiani

Fotografer: Khansa Saifanah

Editor: Diana Rahmawati Pinandita

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.