Dari Gulma Ke Guna: Mahasiswa KKN-T IPB University Racik Eceng Gondok Jadi Pupuk Kompos di Desa Tambaksumur

Desa Tambaksumur  Di balik suburnya hamparan sawah dan tambak di Desa Tambaksumur, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, tersimpan persoalan lingkungan yang cukup mengganggu. Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali sering kali menyumbat saluran irigasi dan menghambat pasokan air ke lahan pertanian. Kehadiran tumbuhan ini tidak hanya mengganggu aliran air, tetapi juga menambah beban petani yang harus rutin membersihkannya secara manual.

 

Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) IPB University KARAWANGKAB06 tergerak untuk mencari solusi. Tim yang beranggotakan Muhammad Naufal Haidar Aidin, Kayla Kallista, Ayesha Ghaida Munawwara Syihab, Muhammad Rifqi Kaizar, Putri Ayu Aziizah, Auresyifa Ahysta Putri Margono, dan Akbar Maulana sepakat menggagas pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos. Gulma yang sebelumnya dianggap merugikan pun diolah menjadi bahan dasar pembuat pupuk kompos.

 

Gagasan ini berawal dari diskusi hangat saat mahasiswa berkunjung ke kediaman Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tambaksumur. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa petani setempat tidak hanya mengeluhkan irigasi yang tersumbat, tetapi juga kondisi tanah sawah yang kian asam akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus. Kondisi tersebut mendorong lahirnya solusi yang mampu menjawab kedua persoalan sekaligus, yakni membersihkan saluran irigasi sekaligus mengolah eceng gondok menjadi pembenah tanah alami.

 

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, pada 19 Juli 2026, Tim KKN-T Inovasi berkolaborasi dengan Gapoktan Desa Tambaksumur dalam rangkaian sosialisasi dan praktik pembuatan kompos. Sebanyak 13 perwakilan petani dari berbagai kelompok tani beserta Sekretaris Desa hadir dengan antusiasme tinggi. Sesi pelatihan berlangsung interaktif. para petani tidak sekadar menyaksikan demonstrasi, tetapi aktif berdiskusi dan bertukar ide berdasarkan pengalaman mereka di lapangan.

 

Pembuatan kompos dilakukan dengan mencampur 25 kg cacahan eceng gondok, 10 kg sekam padi, 10 kg kotoran kambing, serta larutan EM4 dan molase. Campuran disusun berlapis membentuk kubus 60 cm × 60 cm dan ditutup terpal untuk proses fermentasi. Setelah matang, kompos ditambahi tepung cangkang telur sebagai alternatif kapur pertanian murah untuk meningkatkan pH dan kesuburan tanah.

Sumber: Narasumber

Perjalanan mengolah eceng gondok ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Di tahap awal, tim mahasiswa sempat kesulitan mencacah puluhan kilogram eceng gondok secara manual. Masalah ini akhirnya teratasi berkat bantuan Kepala Dusun yang menghubungkan mahasiswa dengan pengusaha pakan ternak lokal. Pengusaha tersebut tidak hanya meminjamkan mesin pencacah, tetapi juga menyumbangkan sekitar 15 kg tepung cangkang telur secara gratis demi mendukung program ini.

 

Program pemanfaatan eceng gondok ini menjadi gambaran nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat pedesaan, di mana limbah lingkungan berhasil diubah menjadi sumber daya baru yang bernilai ekonomis. Penggunaan pupuk ramah lingkungan ini diharapkan mampu perlahan meretas ketergantungan petani pada bahan kimia, sekaligus memulihkan kesehatan ekosistem tanah dalam jangka panjang.

 

​Mengingat masa pengabdian mahasiswa terbatas oleh waktu, keberlanjutan program ini digantungkan pada kolaborasi erat bersama Gapoktan Tambaksumur sebagai penggerak utama. Naufal, selaku Koordinator Desa Tim KKN-T Inovasi, berharap kemandirian warga dalam mengolah eceng gondok dapat terus berjalan. Dengan begitu, eceng gondok yang dulunya menyumbat irigasi tak lagi dianggap masalah, melainkan peluang baru untuk mewujudkan pertanian Desa Tambaksumur yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

***
Reporter: Rika Nur Amanah
Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.