Bermain Sambil Belajar, Inovasi Mahasiswa IPB University Perkuat Fungsi Psikososial Lansia Melalui “Nalar Gerak”

IPB University — Menjaga kualitas hidup lansia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dengan kemampuan kognitif, emosional, dan sosial. Berangkat dari kondisi tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University menghadirkan berbagai kegiatan untuk mendukung kesejahteraan psikososial lansia. Salah satu implementasinya diwujudkan melalui kegiatan Nalar Gerak, sebuah permainan estafet bola interaktif yang dirancang untuk melatih konsentrasi sekaligus membangun hubungan yang hangat antara lansia dan generasi muda.

Program yang dilaksanakan pada 2 Juli 2026 di Panti Wreda, Kamilus, Bogor ini berangkat dari hasil identifikasi tim terhadap kondisi psikososial lansia. Mereka menemukan adanya penurunan pada beberapa aspek penting, seperti kemampuan intelektual, kesejahteraan emosional akibat rasa kesepian, serta kualitas interaksi sosial dengan lingkungan, khususnya dengan generasi muda. Melalui kegiatan Nalar Gerak, tim memfokuskan intervensi pada peningkatan konsentrasi sebagai bagian dari stimulasi fungsi intelektual lansia.

Kegiatan diawali dengan pendekatan yang sederhana namun hangat. Alih-alih langsung melaksanakan program, mahasiswa terlebih dahulu berbincang santai dengan para lansia untuk membangun kedekatan. Suasana kemudian semakin hidup melalui drama singkat yang memperkenalkan tema kegiatan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu yang akrab di telinga para lansia, termasuk Mars Lansia.

Memasuki sesi utama, para peserta mengikuti permainan estafet bola yang dikemas secara interaktif. Selama permainan, lansia diminta memperhatikan instruksi, mengingat aturan yang berubah, dan merespons secara cepat ketika musik berhenti. Aktivitas sederhana tersebut ternyata mampu menggabungkan gerakan fisik ringan dengan proses berpikir sehingga menjadi media stimulasi konsentrasi yang sesuai dengan kondisi para lansia. Permainan berlangsung dalam dua babak. Pada babak pertama, bola diedarkan dengan bantuan fasilitator, sedangkan babak kedua dilakukan secara mandiri oleh para lansia dengan pola estafet yang terus berubah. Tim mahasiswa juga melakukan observasi terhadap fokus, respons, dan kemampuan konsentrasi setiap peserta selama permainan.

Hal yang membuat kegiatan ini berbeda adalah adanya challenge bagi peserta yang kalah dalam permainan. Mereka diminta membagikan cerita kehidupan, pengalaman, maupun nasihat kepada generasi muda. Momen tersebut tidak hanya menjadi bagian dari permainan, tetapi juga ruang untuk mentransmisikan nilai-nilai kehidupan yang telah mereka pelajari selama puluhan tahun. Salah satu pesan yang paling membekas disampaikan oleh seorang lansia yang mengingatkan bahwa kegiatan sosial sebaik apa pun tidak boleh membuat seseorang melupakan orang tua sendiri. Menurutnya, membahagiakan lansia di panti merupakan hal yang baik, tetapi perhatian kepada orang tua di rumah tetap harus menjadi prioritas. Pesan sederhana tersebut menjadi refleksi mendalam bagi seluruh mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan.

Selain memberikan manfaat bagi para peserta, Nalar Gerak juga menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa. Pendekatan yang digunakan tidak berorientasi semata pada pelaksanaan program, melainkan pada hubungan antarmanusia. Tim membangun kedekatan dengan mengikuti ritme komunikasi para lansia, mencari kecocokan karakter, hingga lebih banyak bercanda dibandingkan menjalankan aktivitas formal. Pendekatan tersebut membuat interaksi berlangsung lebih alami sehingga para lansia merasa nyaman untuk berbagi cerita.

Dampak program tidak berhenti pada kegiatan satu hari. Seluruh pesan, pengalaman, dan nasihat yang disampaikan para lansia selama permainan akan dihimpun menjadi sebuah buku antologi berjudul “Menyala Lansiaku”. Buku tersebut direncanakan menjadi media transmisi nilai lintas generasi agar pembelajaran hidup dari para lansia dapat dinikmati oleh lebih banyak anak muda, bahkan setelah program selesai dilaksanakan. Dari sisi keberlanjutan, tim PKM-PM juga menjalin kolaborasi dengan berbagai instansi terkait untuk mendukung pengembangan program pada rangkaian kegiatan berikutnya. Nalar Gerak sendiri merupakan salah satu bagian dari sebelas rangkaian program yang masing-masing mengangkat aspek berbeda dalam penguatan fungsi psikososial lansia, seperti daya ingat dan regulasi emosi.

Melalui inovasi sederhana berbasis permainan, mahasiswa IPB University menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan dengan teknologi yang kompleks. Aktivitas yang menyenangkan, penuh interaksi, dan dibangun atas dasar kepedulian mampu menjadi sarana efektif untuk menjaga kualitas hidup lansia sekaligus mempererat hubungan antar-generasi. Program ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kehidupan dapat diwariskan melalui ruang-ruang kebersamaan yang sederhana, hangat, dan penuh makna.

***

Reporter: Alifa Lacita Khairani

Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.