Di tengah gemerlap potensi Indonesia, masih banyak wilayah yang belum tersentuh secara merata. Wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) sering kali menyimpan kekayaan alam dan budaya luar biasa, tetapi menghadapi tantangan besar di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Kondisi tersebut mendorong lahirnya Sociotravelling, sebuah program pengabdian yang digagas oleh Departemen Sosial, Lingkungan & Masyarakat BEM FEM IPB University.
Program ini memadukan dua semangat sekaligus, yaitu pengabdian sosial dan eksplorasi potensi lokal. Socio merepresentasikan kepedulian terhadap masyarakat, sedangkan travelling merepresentasikan eksplorasi serta penghargaan terhadap potensi wisata desa. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa yang terlibat tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga memahami budaya setempat serta menyelami keindahan alam lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih utuh.
Pada periode ini, Sociotraveling menyambangi Desa Pengengat dan Desa Mertak di Lombok Tengah, NTB. Kedua desa tersebut memiliki potensi berupa kekayaan alam dan budaya yang menjanjikan. Di sisi lain, kedua daerah tersebut masih membutuhkan uluran tangan di berbagai sisi kehidupan. Kehadiran Sociotravelling di daerah ini menjadi babak baru dari perjalanan panjang program tersebut serta awal mula dari upaya dalam menjelajah dan membersamai masyarakat di berbagai daerah Indonesia.
Menariknya, setiap program yang dijalankan bukan sekadar dirancang dari meja kerja. Sebelum kegiatan dilaksanakan, tim melakukan observasi, berdialog dengan warga, dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta pihak terkait lainnya jauh sebelum kegiatan utama dimulai. Pendekatan tersebut memungkinkan tim memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat secara lebih mendalam. Hasilnya, setiap kegiatan benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar.
Sociotraveling berfokus pada empat bidang utama yang diwujudkan melalui berbagai langkah konkret. Pada bidang pendidikan, ada Adventure Learning yang menghadirkan metode belajar lewat permainan dan eksplorasi yang membuat anak anak desa lebih antusias menyerap ilmu. Pada bidang kesehatan, warga mendapat Medical Check Up, Pos Petualangan Sehat, Senam Sehat, Edukasi Kesehatan, serta Lomba Memasak Makanan Sehat. Di bidang lingkungan, ada Demonstrasi Sampah, Trash Hunter, dan Pembuatan Pupuk POC. Adapun di bidang ekonomi pariwisata, tim fokus pada Digitalisasi UMKM yang disertai pemasangan banner usaha agar produk masyarakat makin dikenal luas.
Berbagai kegiatan tersebut tidak hanya memberikan dampak bagi masyarakat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa yang terlibat. Mereka mengaku belajar banyak dari cara warga menjalani kehidupan, menjaga tradisi, dan bertahan dengan segala keterbatasan yang ada.
Sociotravelling tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berupaya meninggalkan manfaat yang dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat setelah program berakhir. Program Digitalisasi UMKM menghasilkan materi promosi, sistem pembayaran digital berupa QRIS, serta edukasi yang bisa dikelola mandiri oleh pelaku usaha. Pembuatan Pupuk POC meninggalkan produk pupuk organik sekaligus keterampilan baru bagi warga. Rangkaian Medical Check Up menghasilkan data dasar kesehatan yang bisa jadi acuan tindak lanjut, sementara Adventure Learning diharapkan menumbuhkan semangat belajar baru pada anak anak desa.
Prinsip yang dipegang tim sederhana namun kuat, menitipkan keterampilan, bukan menyelesaikan semuanya sendiri. Pelaku UMKM diajarkan mengelola promosi mereka sendiri, warga dibekali pengetahuan dan alat untuk mengulang proses pembuatan pupuk tanpa perlu pendampingan terus menerus. Dengan begitu, manfaat program tetap hidup meski tim mahasiswa sudah kembali ke kampus.
Bagi mahasiswa yang terlibat, Sociotraveling memberi pengalaman yang sulit didapat hanya dari ruang kelas. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat, memperluas jaringan relasi, sekaligus berkesempatan menjelajahi keindahan Lombok lewat rangkaian field trip ke Gili Trawangan, Pantai Tanjung Aan, hingga Bukit Merese.
Perjalanan ini terus berpindah dari satu desa 3T ke desa 3T lainnya, membawa semangat yang sama di setiap periodenya, yaitu mengabdi sambil terus belajar dari keragaman Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh tim penggagas program, “Sociotraveling bukan sekadar perjalanan mengabdi, tapi kesempatan untuk pulang membawa cerita, sekaligus meninggalkan jejak baik bagi desa yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita.”
***
Reporter: Mia Nur Aisyah
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar