Desa Cinangka – Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Keamanan Pangan IPB University Desa Cinangka sukses melaksanakan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan keamanan pangan. Program ini merupakan kolaborasi antara KKN-T IPB University dengan BPOM RI yang melibatkan 200 mahasiswa di 20 desa. Mahasiswa IPB University yang tergabung dalam program ini dibekali secara langsung oleh BPOM RI, seperti mentoring hingga diberikan fasilitas pendukung berupa dokumen dan alat peraga yang bisa digunakan ketika melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat.
Program keamanan pangan di Desa Cinangka ini terbagi menjadi dua fokus, yaitu pendampingan bagi pelaku usaha pangan dan pembentukan kader keamanan pangan. Tim dari Fasilitator Pendampingan bagi Pelaku Usaha Pangan menghadirkan tiga program utama guna mendampingi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam meningkatkan standar keamanan pangan serta kualitas pangan di Desa Cinangka.

Program pertama yang diusung adalah Pangan Bercerita. Program ini berfokus pada sosialisasi dan bimbingan teknis kepada para pemilik UMKM yang digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu pangan siap saji, olahan rumah tangga, dan ritel. Masing-masing UMKM akan diberikan materi yang sesuai dengan kategorinya. Pangan bercerita ini terbukti berhasil berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-T Desa Cinangka.
Selanjutnya, melalui program kedua, yaitu program KEDELAI (Kelas Desain Label Kemasan Kilat), tim fasilitator memanfaatkan Kecerdasan Buatan (AI) untuk membantu pelaku usaha dalam membuat label kemasan yang sesuai dengan standar BPOM RI. Program ini hadir atas kesulitan yang sering dihadapi peserta saat menggunakan aplikasi desain seperti Canva.
“Canva itu kayak cukup rumit dan juga tidak apa ya? Tidak user-friendly, gitu. Karena kan kalau Canva kayak kita harus tahu idenya dulu kan, baru kita susun layout segala macamnya itu. Nah, karena itu kita menggunakan teknologi AI. Untuk masalah prompting-nya itu dari kita. Jadi nanti si para pelaku UMKM-nya tinggal ngubah-ngubah saja. Misalnya warnanya mau apa, terus habis itu harus ada apa. Itu nanti disesuaikan lagi dengan para pelaku UMKM-nya.” jelas Putri Fitria, salah satu anggota KKN.
Program KEDELAI ini sangat membantu bagi para pelaku usaha yang masih kesulitan dalam membuat label kemasan, terlebih bagi pelaku usaha lanjut usia yang belum terbiasa menggunakan aplikasi desain digital.
Program ketiga yaitu UMKM Naik Kelas, program ini bertujuan untuk membantu pelaku usaha dalam mengurus dan memperbarui dokumen legalitas, seperti NIB (Nomor Induk Berusaha) dan SPP-IRT (Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga). Tim fasilitator juga membantu mengecek fasilitas produksi usaha. Dari 11 UMKM yang didampingi, tim berhasil memfasilitasi penerbitan 22 SPP-IRT, jauh melampaui target awal sebanyak 6 dokumen. Selain itu, terdapat 4 NIB yang diterbitkan atau diperbarui, 11 desain untuk kebutuhan UMKM, 6 SOP produksi, pembukaan 1 akun ShopeeFood dan 1 akun SeaBank, serta pendampingan berbagai kebutuhan digital usaha.
Disisi lain, Tim Pembentukan Kader Keamanan Pangan yang diketuai oleh Rafi Prasetya berfokus membangun sistem edukasi keamanan dan kualitas pangan yang dapat terus berjalan meskipun KKN telah berakhir. Tim fasilitator pembentukan kader keamanan pangan memiliki dua program kerja, yaitu Program Pembentukan Kader Keamanan Pangan dan Desa Sadar Pangan Aman.

Pprogram yang pertama yaitu Program Pembentukan Kader Keamanan Pangan. Pada program ini, telah dibentuk 10 kader keamanan pangan yang diberikan berbagai pelatihan mengenai keamanan pangan dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa. 10 kader ini terdiri dari 6 kader keluarga, 2 kader remaja dan 2 kader sekolah yang nantinya mereka akan menjadi penggerak edukasi di tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah.
Program selanjutnya adalah Desa Sadar Pangan Aman, yang diwujudkan melalui sosialisasi di sekolah, karang taruna, posyandu, hingga sejumlah titik penting pangan di masyarakat Desa Cinangka. Tim fasilitator juga melakukan pengecekan terhadap dapur rumah tangga, dapur karang taruna, serta pedagang jajanan di sekitar sekolah untuk mengidentifikasi potensi risiko dan memberikan saran perbaikan.
Keberhasilan program dapat diukur salah satunya dengan melihat antusiasme masyarakat. Masyarakat Desa Cinangka mengaku bahwa program-program ini sangat membantu dalam meningkatkan keamanan dan kualitas pangan di desa, terutama membantu para pelaku UMKM agar dapat memaksimalkan usaha.
“Kerja yang memudahkan hasil yang maksimal itu langka, penuh dengan perjuangan dan mental yang kuat. Alhamdulillah sertifikasi PIRT sudah selesai sehingga kami para pelaku UMKM siap mencari cuan dan siap berkolaborasi dengan mitra-mitra yang lebih luas.” ungkap Dede Cumantini, pemilik Pinang Kitchen.
Selain itu, siswa kelas 5 dari SD Cinangka 4 juga menyampaikan bahwa program ini sangat bermanfaat dan membantu mereka untuk mengenali produk pangan yang sehat dan tepat.
Melalui rangkaian program tersebut, mahasiswa Tim KKN-T Keamanan Pangan Desa Cinangka tidak hanya menghadirkan pendampingan dan bimbingan selama masa KKN, tetapi juga membagun fondasi keberlanjutan keamanan pangan di sebuah desa. Harapannya, pengetahuan, legalitas serta praktik keamanan pangan yang telah diajarkan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Cinangka.
***
Reporter: Naura Putri Kamila
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar