Penutupan hari pertama Masa Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB 63 X Agrisymphony (AGSN) 2026 diwarnai dengan agenda yang tak biasa. Usai rangkaian orientasi mahasiswa baru tersebut berakhir, BEM KM IPB University menggelar mimbar bebas pada sore hari sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus menggaungkan semangat perjuangan mahasiswa. Lantas, mengapa BEM KM IPB memilih hari pertama MPKMB IPB 63 X AGSN 2026 sebagai momentum digelarnya mimbar bebas?
Ketua BEM KM IPB University, Muhammad Abdan Rofi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut pada awalnya berkaitan dengan rencana penyambutan seorang pejabat yang dijadwalkan hadir pada rangkaian kegiatan hari itu. Meskipun pejabat tersebut pada akhirnya tidak hadir, BEM KM tetap melaksanakan mimbar bebas. Menurutnya, absennya pejabat tersebut tidak mengurangi semangat mahasiswa untuk tetap menggelorakan perjuangan.
Namun, mimbar bebas tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai bentuk penyampaian tuntutan kepada pemerintah. BEM KM memandang kegiatan ini juga sebagai ruang penyadaran bagi mahasiswa baru mengenai posisi kampus sebagai wahana intelektual.
“Kampus adalah wahana intelektual,” ujar Abdan.
Melalui mimbar bebas, mahasiswa baru diajak untuk memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berkaitan dengan kegiatan akademik, tetapi juga dengan kemampuan memperoleh informasi secara utuh dan melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif. Mahasiswa diharapkan tidak sekadar menerima informasi untuk dikonsumsi, melainkan mampu memahami adanya sudut pandang yang pro maupun kontra dan berpikir secara holistik.

Pemilihan hari pertama MPKMB bukan tanpa alasan. BEM KM menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan mahasiswa baru pada kehidupan intelektual dan gerakan mahasiswa di IPB. Menurut Abdan, mahasiswa baru perlu mengetahui sejak awal bahwa IPB tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Melalui mimbar bebas, BEM KM ingin menunjukkan bahwa IPB merupakan “kampus rakyat” dan mahasiswa memiliki peran untuk turut memperjuangkan kepentingan rakyat.
Waktu pelaksanaan pada sore hari juga berkaitan dengan agenda penyambutan pejabat yang sebelumnya direncanakan hadir pada hari tersebut. Kendati agenda tersebut tidak berlangsung sebagaimana rencana, mimbar bebas tetap digelar karena tujuan kegiatan dinilai tidak berhenti pada kehadiran pejabat tersebut. Dengan demikian, momentum hari pertama MPKMB sekaligus menjadi ruang perkenalan mengenai salah satu wajah kehidupan mahasiswa di kampus, yaitu menjadi ruang untuk bersuara, berdiskusi, dan menyikapi persoalan secara kritis.
Abdan menyampaikan pesan kepada mahasiswa baru untuk menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk berproses dan berjuang. Mahasiswa baru diajak untuk menikmati berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan kampus, termasuk proses yang melelahkan dan penuh tantangan. Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu mudah, tetapi berbagai kesulitan tersebut merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dijalani.
“Selamat datang di kampus rakyat. Teman-teman di sini untuk berjuang, untuk berproses. Nikmatilah ruang proses, ruang lelah, dan ruang kesakitan ini. Belajar itu rasanya pahit, tapi nikmatilah kepahitan ini sebelum teman-teman menikmati kebodohan,” tutupnya.
***
Penulis: Alifa Lacita Khairani
Editor: Asni Kayla Azzahra




Tambahkan Komentar