Suasana tentram terasa cukup damai di Student Center (SC) pada malam 14 September 2026. Alunan suara dari Agriaswara yang sedang latihan menjadi pengiring bagi seluruh aktivitas di dalam SC. Ibra selaku ketua KPUM sedang memandu sidang yang menentukan bagaimana seharusnya Pemira berlangsung. Para peserta, baik yang menghadirinya secara daring maupun luring, menyimak dengan saksama jalannya sidang.
Sayangnya suasana tersebut tidak berlangsung lama. Lampu tiba-tiba padam, listrik yang menjadi sumber energi lenyap. Sontak hal tersebut menimbulkan kepanikan dan kebingungan, terlebih lagi bagi mereka yang mengikuti sidang di dalam SC. Lalu, tanpa aba-aba, beberapa orang tidak dikenal mulai merangsek masuk ke dalam SC, menodong Ibra dengan berbagai tuntutan yang dipenuhi tekanan. Sidang yang seharusnya berjalan secara egaliter mulai ada dalam kondisi tidak seimbang. Namun, Ibra tetap bergeming, mencoba menolak seluruh tuntutan mereka.
Merasa usahanya sia-sia, mereka pun langsung membawa Ibra ke luar SC, lalu secara sporadis, mereka membawa Ibra ke berbagai titik di dalam kampus. Demi menjaga keselamatan, Ibra tidak bisa menceritakan secara detail keseluruhan wilayah yang didatangi. Namun, pada suatu tahap, Ibra memberikan kesaksian bahwa dirinya dikerubungi oleh sekitar 20 orang lebih. Di sana, Ibra menerima ancaman, tekanan, serta kekerasan, baik secara fisik maupun mental. “Jadi kemarin itu aku dari jam 8 malam sampai jam 10 malam tuh mereka full ngintervensi supaya aku merubah keputusannya dan akhirnya mereka menang lah waktu itu,” tuturnya.
Menghadapi kondisi tersebut tentu membuat psikologis Ibra cukup terguncang. Kondisi malam hari, jumlah massa yang masif, serta aura intimidatif; semua terjadi tanpa dugaan dan perkiraan apapun. Hasil sidang berhasil diintervensi, psikolog didatangi untuk rehabilitasi, hingga sempat muncul wacana bahwa eksistensi KPUM sebaiknya dieliminasi. Trauma yang dialami tidak hanya mempengaruhi personal, namun hingga keberlangsungan organisasi.
Mereka berhasil, setidaknya untuk sementara waktu. Apa yang mereka inginkan telah tercapai. Di tengah kondisi tersebut, Ibra justru memutuskan untuk tidak mempublikasikan kejadian tersebut secara terbuka. Alih-alih mencari dukungan dari khalayak umum, ia lebih mengkhawatirkan kondisi anggota timnya. Ia ingin agar setidaknya mereka dan dirinya bisa memulihkan diri dari trauma yang mendalam.
Setelah pulih, Ibra langsung mengambil tindakan tegas. Setelah diskusi dan konsultasi dengan teman-teman KPUM KM, Ibra membulatkan tekad. Bagi Ibra, sebuah keputusan yang lahir dari tekanan tidak seharusnya menentukan bagaimana Pemira dilangsungkan. Berbekal dukungan serta koordinasi dengan berbagai pihak (BEM KM, Kongres KM, hingga Safe-K), Ibra mengadakan sidang lanjutan, berusaha menganulir keputusan sidang sebelumnya demi hasil yang lebih adil bagi semua pihak. Ibra memutuskan bahwa tanggal 28 September adalah waktu yang paling tepat untuk melaksanakan sidang lanjutan.
Aula Al-Hurriyyah pun menjadi saksi bisu dari pelaksanaan sidang lanjutan tersebut, setelah mempertimbangkan berbagai tempat. Walaupun demikian, tempat itu justru merupakan last option yang mereka miliki. Bahkan dari sisi keamanan pun, aula tersebut relatif mudah didatangi oleh massa karena lokasinya yang ada di dekat jalan utama. Namun, bukankah terkadang tempat bersembunyi yang paling baik adalah di tengah keramaian?
Oleh karenanya, dengan modal ‘nekad’, sidang pun diadakan. Hasil sidang yang sebelumnya berlaku berhasil dianulir. E-vote sebagai sarana utama dalam pelaksanaan Pemira berhasil diresmikan kembali. Kembalinya e-vote kemudian menyisakan satu pertanyaan: mengingat bahwa adanya sistem e-vote adalah salah satu usaha meminimalisir adanya kecurangan, mengapa sebelumnya ada pihak yang menginginkan penggunaan kertas dalam Pemira?
Ibra tidak ingin ambil pusing. Ibra bersyukur semuanya telah selesai dengan baik-baik saja dan berharap agar ke depannya pun tetap baik-baik saja. Ibra menegaskan bahwa mahasiswa sepatutnya menjaga marwah intelektualitas mereka, alih-alih melakukan intervensi paksa serta pengancaman secara personal. Ibra juga berharap besar bahwa ia dan seluruh mahasiswa IPB dapat saling membangun, memberikan kritik secara dewasa, serta berkembang bersama-sama. “Marwah intelektual kita harusnya dikedepankan dibanding tindakan-tindakan yang mungkin justru mencederai lah daripada Institut Pertanian Bogor ini yang dikenal dengan kampus intelek,” pungkasnya.
***
Reporter : Fauzan Affan, Agusta Aura Ekifara
Layouter : Agusta Aura Ekifara
Editor : Asni Kayla




Tambahkan Komentar