Mahasiswa Kritisi Kebijakan Parkir Terpusat, KMKKPK: Penataan Kendaraan dan Realisasi Titel Green Campus

IPB University mulai menerapkan kebijakan parkir terpusat sejak Senin, 28 September 2026. Sivitas IPB kini tidak lagi diperkenankan parkir di fakultas maupun wilayah selain kantor parkir pusat. Dilansir dari akun media sosial Safe-K IPB, terdapat 4 kantong parkir pusat yang disediakan: Graha Widya Wisuda, Gymnasium, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Namun, baru sehari penerapan, kebijakan ini sudah menuai berbagai pertanyaan dan kritik dari mahasiswa.

Sebagian besar mahasiswa mengaku keberatan dengan kebijakan parkir terpusat. Muncul pertanyaan tentang latar belakang dan esensi kebijakan yang dinilai terlalu terburu-buru serta kurang mempertimbangkan kondisi mahasiswa.

Terdapat keluhan lainnya seputar kantong parkir yang mempersulit mobilisasi ke gedung lain. Terutama jadwal kelas dengan jeda singkat yang tetap mengharuskan mahasiswa datang tepat waktu, sementara kinerja bus dirasa masih belum optimal—sering terlambat dan tidak sesuai jadwal.

Mahasiswa juga menyoroti jumlah penduduk kampus yang kian membludak sejak penerimaan mahasiswa baru hingga menyebabkan kelangkaan tempat parkir. Adanya parkir terpusat semakin menyulitkan mahasiswa untuk mencari tempat parkir terutama di jam sibuk.

Informasi lain beredar bahwa beberapa kantong parkir motor fakultas akan diubah menjadi parkiran mobil. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan baru, mengapa kampus mengorbankan parkiran motor yang jumlahnya jauh lebih banyak untuk mobil yang sedikit?

Tim Koran Kampus mewawancarai Rudi Firmansyah, Kepala Bidang Manajemen Keamanan dan Transportasi Kampus pada Selasa pagi. Ia menjelaskan bahwa kebijakan parkir terpusat ini diangkat dari kondisi tempat-tempat parkir di lingkungan kampus yang sebelumnya tidak beraturan dan tersebar di berbagai fakultas. Menurutnya, kondisi tersebut juga menyulitkan petugas dalam melakukan pengawasan keamanan. “Helm tertukar, hilang, kunci motor tertinggal, kan menyulitkan kami juga yang terkuras energinya,” katanya. Melalui kebijakan parkir terpusat ini, pihak kampus berupaya menata titik parkir agar lebih terpusat dan terlihat rapi. Alih fungsi parkir motor menjadi parkir mobil juga dinilainya sebagai salah satu usaha agar kampus lebih enak dilihat.

Rudi memaparkan bahwa langkah penataan parkir terpusat merupakan respons atas tingginya volume kendaraan yang masuk ke dalam kampus. “Bayangin, di jam 7 sampai 8 pagi ada 8.500 motor yang masuk berdasarkan catatan kami,” jelasnya. Hal ini menyebabkan emisi karbon di dalam kampus semakin parah sehingga harus dilakukan upaya pengurangan.

Pihak kampus juga ingin membangkitkan semangat seluruh sivitas IPB untuk terbiasa berjalan kaki dan mengurangi kendaraan pribadi. Dengan adanya kebijakan ini, pihak kampus berharap dapat mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh sivitas IPB. Sehingga titel ‘Green Campus’ dan kebiasaan berjalan kaki dapat terealisasikan. “Jangan hanya mengandalkan fasilitas kampus, tapi bersama-sama komitmen hidup sehat dengan berjalan kaki,” katanya.

Rudi menjelaskan bahwa saat ini, kebijakan parkir terpusat masih dalam proses uji coba dan akan terus berlanjut setidaknya dalam kurun waktu 6 bulan dalam rentang pukul 7 pagi hingga 5 sore. Pihak kampus akan mengiringi uji coba dengan sosialisasi dan evaluasi menyeluruh, termasuk menampung saran dan kritik mahasiswa.

Menanggapi keluhan mahasiswa yang kesulitan berpindah gedung kuliah dengan jeda waktu singkat, Rudi berkomitmen meneruskan kritik ini sebagai evaluasi serta berkoordinasi dengan pimpinan terkait untuk menyesuaikan jadwal mahasiswa dan kebijakan baru ini. “Informasi seperti ini yang kami perlukan. Hari Senin depan, kami akan kembali meninjau ulang jam bubaran mahasiswa dan waktu kepadatan,” terangnya.

Kepala Kantor Manajemen Keamanan, Keselamatan, dan Perlindungan (KMKKPK), Muhammad Isbayu menambahkan bahwa kebijakan ini bukan muncul tiba-tiba. Pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada perwakilan BEM KM dan BEM Wilayah pada 3 September lalu bersamaan dengan Aksi Simbolik di Koin IPB. Sosialisasi dilanjut dengan menginformasikan di sosial media.

Isbayu menekankan bahwa kebijakan ini didukung oleh optimalisasi bus yang kini diwajibkan untuk mobilisasi setiap 5 menit sekali sehingga keterlambatan dapat diminimalisasi. “Tadi kami ikut di bus bersama mahasiswa, mereka semua senang karena sekarang bus tepat waktu, tidak seperti biasa,” kata Isbayu. Ia juga menambahkan bahwa rute bus baru di IPB Mobile akan segera diperbaharui oleh pihak kampus. Selain itu, layanan bus juga akan diperluas agar dapat menjangkau area yang sebelumnya tidak terlewati, khususnya Fateta dan Fahutan.

Isbayu dan Rudi menekankan bahwa kampus sedang mengusahakan fasilitas pendukung seperti atap kantong parkir dan sepeda sehingga kebijakan dapat berjalan dengan lancar. Namun, KMKKPK tetap menginginkan kebijakan ini menghasilkan kebiasaan jalan kaki seluruh sivitas IPB tanpa bergantung pada fasilitas. “Kita bersama-sama merubah kebiasaan untuk gaya hidup yang lebih baik. Nggak hanya mahasiswa, tapi dosen dan pegawai juga. Intinya, seluruh sivitas IPB harus bekerjasama,” tutup Isbayu.

Reporter : Azizah, Felia Nazwa

Fotografer : Nijwa Rayya, Nadiny Fitriani, Progresio Logika Setiaguna

Editor : Fauzan Affan, Asni Kayla

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.