Keterbatasan lahan tidak menjadi halangan untuk menghasilkan pangan yang sehat. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University memperkenalkan program “SEHARI: Selada Hidroponik Ramah Limbah” kepada warga Desa Sidorejo sebagai solusi budidaya tanaman dengan lahan terbatas. Program dilaksanakan pada Kamis (10/7) di Balai Desa Sidorejo, Kabupaten Sukoharjo, dengan menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai sasaran utama.
Hidroponik adalah teknik budidaya tanaman menggunakan air tanpa media tanah yang semakin populer dewasa ini. Dalam program SEHARI, digunakan sistem hidroponik wick atau sumbu untuk menghubungkan larutan nutrisi dengan media tanam. Sistem ini merupakan jenis hidroponik yang paling sederhana dan mudah diterapkan. namun hanya dapat digunakan untuk tanaman tertentu, seperti selada atau sejenisnya, dan dalam skala kecil. Oleh karena itu, teknik ini dinilai tepat untuk diaplikasikan oleh ibu rumah tangga di rumah.

Mahasiswa KKN-T IPB memberikan demonstrasi langsung pembuatan instalasi hidroponik menggunakan galon bekas, netpot, rockwool, sumbu flanel, benih selada, serta larutan nutrisi AB Mix dalam 3 liter air. Galon ukuran 15 liter dipotong melintang, kemudian bagian atasnya dibuat sekitar 5–6 lubang untuk meletakkan netpot, sementara bagian bawahnya diisi air yang sudah dilarutkan dengan 5 ml nutrisi AB Mix per liternya. Pasang sumbu flanel pada bagian bawah setiap netpot, lalu susun netpot bersumbu di lubang-lubang galon yang telah dibuat. Terakhir, masukkan rockwool berisi benih selada pada masing-masing netpot. Pastikan benih telah disemai di rockwool selama 10–14 hari sebelum dipindahtanamkan ke instalasi hidroponik.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman hidroponik tetap memerlukan perawatan rutin. Air serta nutrisi harus dicek secara berkala (3–5 hari) dan ditambahkan jika berkurang. Letakkan instalasi hidroponik di tempat yang terkena sinar matahari minimal 4–6 jam sehari dan amati pertumbuhan tanaman. Daun yang menguning atau batang yang meninggi dan lemah merupakan pertanda bahwa tanaman tersebut kekurangan nutrisi atau cahaya. Dengan perawatan yang tepat, Tanaman selada dapat dipanen sekitar 25–30 hari setelah pindah tanam.
Ibu-ibu PKK dan KWT Desa Sidorejo menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan aktif mengikuti dan bertanya selama program berlangsung. Bahkan, salah satu anggota Tim Penggerak PKK, Hartini, mengaku mempraktikkan metode ini secara mandiri setelah mengikuti program SEHARI. “Saya langsung coba di rumah buat nanem pakcoy. Tumbuh loh, Mbak,” ujarnya kepada salah satu mahasiswa KKN-T IPB dalam suatu kesempatan.

Melalui program SEHARI, mahasiswa KKN-T IPB berharap dapat memberikan pemahaman dasar kepada warga Desa Sidorejo mengenai sistem hidroponik sebagai teknik budidaya tanaman alternatif yang efisien dan berkelanjutan. Selain itu, program ini juga mendorong inovasi dalam pemanfaatan limbah galon plastik sehingga dapat membantu mengurangi sampah lingkungan.
“Terima kasih telah menambah ilmu. Karena kebetulan di Desa Sidorejo ini banyak ibu-ibu KWT, jadi untuk limbah plastik seperti galon dapat kita manfaatkan dan juga dapat dikembangkan dengan menanam tanaman jenis lain. IPB terus maju!” ucap salah satu anggota KWT pada sesi penutupan.
***
Reporter: Syifa Shabreena
Sumber foto: Narasumber
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar