Bogor—Kamis, 5 Maret 2026. Peneliti dari Departemen Biokimia FMIPA IPB University melakukan penelitian kesehatan santri melalui analisis urin di Pondok Pesantren Liwaul Furqan, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Penelitian yang bertajuk “Urin sebagai Jendela Kesehatan” ini bertujuan mendeteksi dini potensi penyakit berbasis lingkungan sekaligus memberikan gambaran kondisi kesehatan santri di lingkungan pesantren. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pendanaan Riset Kesehatan Pesantren (RISKESTREN) yang digagas oleh Pusat Riset Biomedis BRIN, didanai oleh Yayasan Santri Peduli Negeri (SAPIN), dan didukung oleh tenaga pendidik dari Departemen Biokimia IPB University. Melalui penelitian ini, para peneliti menganalisis berbagai parameter urin untuk melihat indikasi gangguan kesehatan, termasuk potensi penyakit seperti infeksi saluran kemih (ISK).
Ketua peneliti, Ilham, menjelaskan bahwa penelitian ini bermula dari pengajuan proposal riset yang mengikuti seleksi program RISKESTREN. Dari 94 proposal yang masuk, hanya 11 yang lolos untuk didanai. Ia bersama rekannya kemudian mengembangkan penelitian yang berfokus pada kesehatan santri di lingkungan pesantren. Menurut Ilham, proses penelitian tidak berlangsung mudah sejak tahap awal. Persiapan kegiatan lapangan sendiri hanya dilakukan dalam waktu sekitar dua minggu, sementara sebagian besar waktu sebelumnya dihabiskan untuk menunggu proses persetujuan etik penelitian dari IPB. “Karena sampelnya manusia dan mayoritas santri masih di bawah umur, proses ethical clearance cukup panjang. Banyak revisi karena mereka belum bisa mengambil keputusan sendiri sehingga harus melibatkan wali,” ujarnya.
Selain kendala administratif, tim peneliti juga menghadapi tantangan teknis selama pelaksanaan penelitian. Salah satunya terkait metode analisis urin yang harus dilakukan dalam waktu singkat setelah sampel diambil. Urin segar idealnya dianalisis dalam rentang satu hingga dua jam setelah ditampung. Awalnya, peneliti berencana menggunakan metode laboratorium dengan reagen lengkap. Namun, metode tersebut dinilai kurang efektif karena jumlah sampel cukup banyak dan waktu analisis terbatas. Tim kemudian mengganti metode dengan penggunaan urine strip yang memungkinkan pengujian berbagai parameter kimia secara cepat melalui indikator warna.

Distri, selaku partner Ilham, menjelaskan bahwa metode ini memungkinkan analisis beberapa indikator kesehatan sekaligus, seperti pH urin, urobilinogen, hingga senyawa kimia tertentu yang dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan. “Dalam satu strip urin bisa terlihat beberapa parameter sekaligus yang berkaitan dengan potensi infeksi saluran kemih,” jelasnya. Penelitian ini juga melibatkan pengukuran data kesehatan lain seperti tinggi badan, berat badan, serta tekanan darah santri.
Dimas Andrianto selaku dosen pembimbing penelitian menjelaskan bahwa metode yang digunakan telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian IPB untuk memastikan penelitian yang melibatkan manusia tidak merugikan subjek penelitian. “Etik penelitian penting agar penelitian memberikan manfaat bagi peneliti maupun subjek penelitian, dalam hal ini para santri,” paparnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Liwaul Furqan, Ustaz Rizqul Akbar, menyambut baik pelaksanaan penelitian tersebut. Ia menilai kegiatan ini bermanfaat karena dapat membantu santri mengetahui kondisi kesehatan tubuh sejak dini, sekaligus memberikan masukan bagi pengelola pesantren terkait pola makan dan lingkungan. “Kalau memang ada hal yang perlu ditindaklanjuti, kami bisa memberi tahu orang tua dan melakukan pencegahan, misalnya dengan mengontrol makanan atau minuman yang dijual di kantin,” ujarnya.

Para santri juga menunjukkan respons positif terhadap kegiatan ini. Muhammad Yazid, selaku ketua OSIS pesantren, menyebut pemeriksaan urin menjadi bentuk pencegahan dini sekaligus edukasi kesehatan bagi para santri.
Berdasarkan hasil analisis awal sampel yang terkumpul, sebagian besar data menunjukkan kondisi yang relatif homogen tanpa indikasi penyakit serius. Meski demikian, hasil tersebut masih bersifat sementara dan akan dianalisis lebih lanjut menggunakan metode statistik sebelum dipublikasikan. Ilham menyebut temuan awal ini memberi indikasi bahwa kondisi kesehatan santri cukup baik, yang kemungkinan berkaitan dengan lingkungan pesantren. “Secara observasi awal, hasilnya cukup bagus dan homogen. Itu bisa menjadi indikasi bahwa sanitasi di pesantren ini terjaga dengan baik,” ujarnya.
Hasil penelitian selanjutnya akan dianalisis lebih mendalam dan dijadikan bahan skripsi bagi mahasiswa serta rekomendasi bagi pengelola pesantren. Peneliti berharap temuan ini juga dapat menjadi gambaran awal kondisi kesehatan santri di wilayah Bogor. Sementara itu, kesimpulan awal penelitian menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan Pondok Pesantren Liwaul Furqan relatif baik, tercermin dari hasil analisis urin santri yang sebagian besar berada dalam kondisi normal.
***
Penulis: Fauzan Affan Zakiya
Editor: Neng Apap Apiani
Fotografer: Ibrahim Ahmad Idhofi




Tambahkan Komentar