Sulap Tutup Botol Jadi Karya, Tim KKNT IPB Ubah Cara Pandang Anak Pesisir Soal Sampah

Penumpukan sampah di kawasan pesisir kerap menjadi masalah lingkungan yang sulit dituntaskan. Dampaknya tidak hanya mengancam kebersihan dan ekosistem pesisir, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada sumber daya alam, salah satunya sektor perikanan. Berangkat dari pemahaman tersebut, tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University menghadirkan Pesisir Berseri (Bersih, Sehat, dan Lestari) di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.

Pesisir Berseri merupakan program kerja Tim KKNT Desa Eretan Wetan yang dilaksanakan pada 5 Juli–14 Agustus 2026. Program ini terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu PELITA (edukasi literasi lingkungan dan pemilahan sampah), Karya Pesisir (pemanfaatan limbah plastik menjadi kerajinan), dan Aksi Bersih (kerja bakti pembersihan kawasan pesisir bersama masyarakat).

Salah satu kegiatan dalam Pesisir Berseri, Karya Pesisir, secara khusus menyasar generasi muda di kawasan pesisir. Kegiatan yang digelar pada 8 Agustus 2026 di posko mahasiswa tersebut melibatkan sebanyak 20 anak untuk diajak mengolah limbah tutup botol plastik menjadi kerajinan gantungan kunci yang bernilai guna. Pemilihan anak-anak sebagai sasaran program bukan tanpa alasan. Setelah sebelumnya mendapatkan edukasi tentang cara memilah sampah melalui program PELITA, melalui Karya Pesisir mereka diajak melangkah lebih jauh dengan mengajak mereka untuk melihat sampah plastik sebagai bahan baku yang masih memiliki nilai guna. 

“Kami tidak sedang mengklaim kegiatan ini mengurangi volume sampah desa, karena skalanya memang kecil,” ujar Daniel Dinata, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana KKNT Inovasi IPB Desa Eretan Wetan. “Yang kami kejar adalah kebiasaan berpikir: sebelum membuang, tanya dulu apakah benda ini masih bisa dipakai. Itu yang bisa dibawa anak-anak sampai dewasa.” 

Pandangan tersebut juga diperkutat oleh I Gusti Ayu Agung Shanti Wahyu Dewanty, anggota tim dari Fakultas Pertanian (FAPERTA), Departemen Arsitektur Lanskap, menurutnya perubahan cara pandang menjadi salah satu kunci utama dari kegiatan ini.

“Tutup botol adalah benda yang setiap hari dilihat anak-anak di sini dan selalu dianggap sampah. Begitu benda itu berubah jadi sesuatu yang mereka buat sendiri dan bisa dibawa pulang, cara mereka memandangnya ikut berubah,” tuturnya. 

Dalam pelaksanaannya, pembuatan gantungan kunci menggabungkan kreativitas dan teknik sederhana. Rangkaian kegiatan dimulai dari pengumpulan bahan berupa tutup botol bekas, penyiapan alat kerajinan, dan diselingi edukasi singkat mengenai konsep recycle serta dampak sampah plastik di wilayah pesisir. Selanjutnya, mahasiswa mendampingi peserta secara langsung dalam proses pembuatan, mulai dari tahap merancang desain hingga meleburkan tutup botol plastik menggunakan setrika untuk menyatukan material menjadi bentuk gantungan kunci yang kokoh. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan apresiasi karya. 

Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukan antusisme yang tinggi. Seluruh anak berhasil menyelesaikan produk gantungan kunci hasil karya masing-masing. Bahkan, beberapa anak mulai terinspirasi untuk mengeksplorasi pengolahan limbah plastik lain, seperti membuat lampu hias dari botol bekas. 

Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, tim mahasiswa juga mencatat sejumlah tantangan lapangan, terutama terkait manajemen alur kerja dan aspek keselamatan. Tingginya semangat anak-anak sempat membuat suasana kurang kondusif saat berebut penggunaan alat setrika yang panas. Sebagai evaluasi, tim merekomendasikan pembagian kelompok yang lebih terstruktur serta pendampingan ekstra ketat pada penggunaan peralatan bersuhu tinggi. 

Pesisir Berseri dirancang untuk membantu mengatasi persoalan lingkungan utama di Desa Eretan Wetan, seperti penumpukan sampah, penurunan kualitas air, dan degradasi kawasan mangrove. Mengingat sekitar 46 persen warga menggantungkan hidup pada sektor perikanan, sehingga kondisi lingkungan pesisir turut berkaitan dengan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat setempat.

Kegiatan Karya Pesisir digerakkan oleh delapan mahasiswa IPB University dari berbagai latar belakang keilmuan, yaitu Daniel Dinata (FMIPA), I Gusti Ayu Agung Shanti Wahyu Dewanty (FAPERTA), Revandrea Aulia Listiadjie (Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis), serta Nadya Bilaaprilani, Shevina Yusfani, Nousa Pramadany, Athalah Pasha Al Ghifari, dan Locita Laksmi Maheswari (Fakultas Perikanan), dengan Dr. Ir. Gatot Yulianto, MS. selaku Dosen Pembimbing Lapang. 

Sebagai tindak lanjut jangka panjang, keberlanjutan pengelolaan sampah di Desa Eretan Wetan ditopang melalui sistem Bank Sampah botol plastik yang telah digagas dalam program PELITA dan terus dipantau rutin hingga akhir masa KKNT. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kebiasaan memilah dan mengolah sampah setelah program berakhir.

Melalui program-program yang telah digagas, tim KKNT Inovasi IPB University Desa Eretan Wetan berharap masyarakat dapat terus menjalankan kebiasaan menjaga lingkungan secara mandiri, terutama dengan membangun kesadaran sejak dini bahwa samoah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah.

***
Reporter: Athena Lovelyta Jasmine
Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.