Kepulauan Seribu–Mahasiswa program studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, angkatan 60 bersiap menuju Pelabuhan Muara Angke pada Sabtu (2/5) dini hari untuk memulai ekspedisi ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Fokus utama dari perjalanan ini ialah pemetaan empat ekosistem perairan, yakni mangrove, lamun, terumbu karang, dan wilayah intertidal. Di tengah keterbatasan waktu, mahasiswa bahu-membahu melakukan pengambilan sampel. Sebagian mahasiswa bertugas memetakan kondisi tutupan mangrove yang ternyata luasannya baru berkisar 12 meter persegi di tiap titik karena masih dalam tahap awal penanaman. Sebagian lainnya menganalisis kepadatan lamun, hingga ada pula yang menyelam untuk meneliti kondisi di keempat stasiun terumbu karang yang berbeda.
Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Abimanyu, menjelaskan bahwa data yang dikumpulkan di atas bersifat krusial. Dengan menganalisis data lapangan, strategi pengelolaan dan rehabilitasi untuk tiap-tiap ekosistem pun dapat ditentukan secara presisi, untuk kemudian dikembalikan pada pihak pengelola sebagai rujukan tindakan selanjutnya.
Presisi kerja selama kegiatan berlangsung bukan tanpa alasan. Jauh sebelum keberangkatan, mahasiswa MSP telah dibekali melalui serangkaian pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta simulasi di Aquatic Center kampus guna mematangkan kesiapan fisik dan teknis.
Selain bergelut dengan parameter ekologi, rombongan juga mengumpulkan data sosial ekonomi di kawasan pesisir. Mahasiswa membaur langsung dengan rakyat pesisir, wisatawan, serta pemangku kepentingan. Dialog yang mengalir hangat ini tidak hanya menghasilkan data kuantitatif untuk mengukur indeks kesesuaian wisata (IKW), daya dukung kawasan (DDK), dan valuasi ekonomi, melainkan juga mendekatkan mahasiswa dengan realitas kehidupan kepulauan yang sesungguhnya.
“Tolong dong, mahasiswa bantu menyuarakan nasib-nasib kami di sini,” keluh seorang warga. Secara realistis, Abim menyadari bahwa harapan pemulihan ekonomi yang terkesan instan berada di luar kapasitas kegiatan ini. Namun sejatinya, perbaikan kualitas ekosistem tetap menjadi investasi jangka panjang yang kelak juga mendongkrak kesejahteraan seluruh elemen masyarakat pesisir.
Dedikasi angkatan ini untuk menghasilkan data akurat benar-benar diuji. Setelah seharian berpeluh di bawah terik matahari pesisir, kegiatan tidak lantas usai. Bahkan, minimnya sinyal internet dan akses listrik di basecamp belum cukup jadi penghambat. Pada malam harinya, ruang kumpul tetap diwarnai riuh diskusi produktif. Mahasiswa berkoordinasi melakukan input data dan menyusun laporan progres hingga pukul sepuluh malam demi memastikan tidak ada satu pun parameter sampel yang terlewat atau dianggap janggal.
“Bila memang ada yang terlewat, maka setidaknya kita masih punya esok,” ujar Abim.

Salah satu puncak bakti lingkungan dari ekspedisi ini berpusat di Pulau Tidung Kecil, kawasan pelestarian tak berpenghuni. Berkolaborasi dengan Pusat Budidaya Konservasi Laut (PBKL) setempat yang diwakili oleh Bayi Sudiyana, atau yang akrab disapa Ubay, keluarga besar MSP 60 menuntaskan misi penanaman 2.000 bibit mangrove. Secara estafet, tangan-tangan muda ini menyalurkan ribuan bibit, menanamkan harapan baru bagi pesisir.
Semangat menjaga kelestarian tersebut pun terus dibawa hingga hari kepulangan. Sebelum kembali ke Angke, pada keesokan harinya, seluruh rombongan kompak melaksanakan operasi semut. Mereka membersihkan area sekitar untuk memastikan tidak ada jejak sampah yang tertinggal, sebuah komitmen yang menegaskan jati diri mereka sebagai pelestari lingkungan.
Krisis iklim adalah salah satu ancaman nyata yang perlahan merusak ekosistem perairan, tegas Abim. Ia berharap mahasiswa senantiasa tanggap berkontribusi, salah satunya tentu lewat kajian ilmiah seperti ini untuk mendukung tercapainya target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga akhirnya manfaat dapat berimbas positif pada ekonomi masyarakat itu sendiri.
Kegiatan yang dibimbing langsung oleh tiga dosen pembimbing, yakni Fredinan Yulianda, Intan Rabiyanti, dan Firsta Kusuma Yudha, ini bukan sekadar praktikum. Lebih dari itu, adalah ruang nyata tempat pembelajaran sains, kepedulian sosial, dan kekeluargaan yang berpadu dalam satu perjalanan.
***
Reporter: Ariz Nuruddin Pasya
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar