“Petani Halimun Salak Bawa Cabai dan Tomat Layu ke Pelatihan IPB, Ini Solusi Instan dari Pakar Proteksi Tanaman “

Sukabumi, 15 Juni 2026 – Suasana pelatihan di lereng Halimun Salak mendadak berubah menjadi ruang konsultasi interaktif saat sejumlah petani membawa langsung sampel tanaman cabai dan tomat yang rusak ke hadapan para ahli. Program yang diinisiasi oleh Implementing Partner FOLU Net Sink 2030 dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) IPB University ini sengaja menerjunkan tim pakar proteksi tanaman untuk memberikan formula praktis agar petani mampu mendeteksi dini dan membasmi serangan hama baru akibat dampak perubahan iklim

Pelatihan hari kedua ini bertema “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman” salah satu bagian penting dalam peningkatan kapasitas petani desa penyangga TNGHS. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan pangan warga sekaligus menyiapkan mereka menuju pengusulan areal preservasi secara partisipatif.

Sumber: Narasumber

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan hangat ketika sejumlah petani membawa langsung contoh tanaman mereka yang rusak, seperti cabai dan tomat, untuk diperiksa oleh para ahli. Dua pakar dari Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB University dihadirkan sebagai narasumber, yaitu Bonjok Istiaji, S.P., M.Si. (Pakar Entomologi/Ilmu Serangga) Dr. Efi Toding Tondok, S.P., M.Sc. (Pakar Fitopatologi dan Mikologi/Penyakit dan Jamur Tanaman) 

Melalui sesi bedah tanaman ini, petani diajarkan cara melihat gejala awal kerusakan, mulai dari perubahan warna daun hingga pola serangan serangga, serta diberikan langkah pengendalian praktis yang bisa langsung diterapkan di kebun masing-masing. Dalam pemaparannya, bonjok Istiaji mengingatkan para petani bahwa perubahan iklim global, seperti naik-turunnya suhu dan curah hujan yang tidak menentu, memicu munculnya jenis serangan hama baru yang lebih ganas. Oleh karena itu, kemampuan mendeteksi penyakit tanaman sejak dini menjadi kunci agar petani tidak gagal panen. 

Bonjok juga menegaskan bahwa dengan merawat tanaman secara benar, petani sebenarnya sedang melakukan aksi nyata mitigasi iklim lewat penyerapan karbon dari atmosfer. “Petani sejatinya merupakan pahlawan lingkungan karena tidak hanya menghasilkan produk pertanian untuk masyarakat, tetapi juga membantu menyediakan udara yang lebih segar dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman,” ungkap Bonjok. 

Sumber: Narasumber

Apresiasi tinggi datang dari Camat Kabandungan, Lilih Resmiati, S.KM., S.Tr.Keb., M.Si., yang turut hadir meninjau jalannya pelatihan. Menurutnya, program edukasi yang diinisiasi oleh DKSHE IPB University ini sangat menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat bawah. “Pelatihan ini sangat sesuai dengan kebutuhan petani. Pengetahuan mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman merupakan investasi jangka panjang yang penting bagi keberlanjutan usaha tani. 

Program FOLU Net Sink DKSHE IPB juga menjadi contoh yang baik dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat,” Ujar Lilih Resmiati. Melalui pembekalan ilmu yang mudah di aplikasikan ini, IPB University bersama warga empat desa penyangga berkomitmen mendorong praktik pertanian yang tangguh dan adaptif. Dengan demikian, produktivitas panen masyarakat meningkat drastis, sementara kelestarian ekosistem Taman Nasional Gunung Halimun Salak tetap terjaga seutuhnya.

***

Reporter: Ananda Ayu Pertiwi

Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.