Sukabumi 18 Juni 2026 – Rangkaian program Implementing Partner FOLU Net Sink 2030 penguatan kapasitas petani di desa penyangga TNGHS resmi ditutup dengan peluncuran strategi optimalisasi sistem agroforestri. Melalui kolaborasi antara DKSHE IPB University dan pemerintah daerah ini, pola kebun campur tradisional warga kini diintegrasikan dengan manajemen modern. Langkah praktis tersebut sengaja dirancang agar lahan pertanian mampu menyerap karbon maksimal, sekaligus menempatkan masyarakat lokal sebagai garda terdepan dalam memulihkan lingkungan dan meningkatkan pendapatan ekonomi secara berkelanjutan.
Fokus utama pada hari kelima pelatihan diarahkan pada tema “Optimalisasi Sistem Agroforestri” demi memastikan ribuan bibit komoditas kehutanan dan Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang telah ditanam dapat dikelola secara produktif. Penjelasan tersebut dibedah langsung oleh Dr. Adisti Permatasari Putri Hartoyo, S.Hut., M.Si., pakar agroforestri dari Departemen Silvikultur Fakultas Fahutan IPB University. Dalam paparannya, ia menjabarkan cara menggabungkan tanaman pertanian jangka pendek dan pohon kayu jangka panjang dalam satu hamparan lahan. Pola kebun campur tradisional yang sejatinya sudah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat lereng Halimun Salak kini dirombak melalui sentuhan manajemen modern agar memiliki nilai jual tinggi di pasaran tanpa menggerus fungsi ekologis hutan.

Gerakan nyata di lapangan ini lebih kuat berkat hadirnya dukungan penuh pemerintah daerah, yaitu Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Sukabumi serta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sukabumi.
Kepala Subbagian Tata Usaha Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Sukabumi, Hadi Purwana, S.Hut., M.M., menegaskan bahwa edukasi agroforestri bagi warga desa penyangga memiliki peran sangat strategis dalam mempercepat pencapaian target rendah emisi dan mendongkrak serapan karbon bumi. Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Sukabumi, Adi Gumbara Putra, M.Si., turut mengapresiasi sinergi erat ini sebagai sebuah investasi jangka panjang di mana kesejahteraan ekonomi masyarakat dapat terpenuhi beriringan dengan lestarinya alam konservasi.
Melalui model pembelajaran yang interaktif, Dr. Adisti Permatasari mengajak para petani lokal untuk terus mempertahankan bentang lahan hijau mereka sebagai kontribusi nyata bagi generasi masa depan. Hasil akhir dari penutupan rangkaian pelatihan ini sekaligus menunjukan bahwa konservasi selalu membatasi ruang gerak ekonomi warga. Sebaliknya, lewat bimbingan intensif DKSHE IPB University, sistem agroforestri resmi menjelma menjadi solusi berkelanjutan yang diharapkan dapat menguntungkan petani, menjaga kestabilan air dan tanah, serta memperkuat upaya nasional dalam menekan emisi gas rumah kaca global.
***
Reporter: Ananda Ayu Pertiwi
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar