100 tahun sudah jejak pemikiran Sajogyo, sang rektor kedua Institut Pertanian Bogor, mengenai cara membumi pada petani, berseliweran. Maka pameran arsip dan napak tilas yang diselenggarakan meriah di Perpustakaan IPB pada 20–23 Mei 2026 ini menjadi bentuk aksi merawat pemikiran dan cara pandang itu.
Pameran ini dikemas dengan apik melalui empat zona kronologis yang dimulai dari masa mudanya, kemudian kritik menohoknya terhadap kebijakan transmigrasi kala itu yang cenderung top-down, penyorotan peran penting dalam gizi dapur yang membidani lahirnya Posyandu, hingga pergerakan bersama lembaga swadaya masyarakat lainnya yang memimpikan hal yang sama. Pengunjung disuguhkan bukti nyata bagaimana ilmu sosial (di antaranya antropologi, ekonomi, komunikasi hingga psikologi) bisa dan mesti melebur dengan ilmu terapan seperti pertanian.
Mengapa pameran ini penting tuk dihadiri mahasiswa?

Pengunjung akan diajak berkenalan kembali sembari menyelami moral seorang akademisi yang sepatutnya. Sajogyo dikenal sebagai figur yang menjaga jarak dan kerap mengkritisi narasi pemerintahan Soeharto. Di saat negara menggembar-gemborkan keberhasilan Revolusi Hijau, Ia justru membuat artikel tandingan bertajuk “Modernization without Development in Rural Java” yang membuktikan bahwa modernisasi tersebut tak menyejahterakan petani, alias mereka yang termarjinalkan justru semakin terpinggirkan.
Sajogyo selalu memosisikan diri setara dengan petani, bukannya malah sok menjadi pahlawan yang serba tahu. Silih asah, silih asih, dan silih asuh. Hingga kemudian barulah pengamatannya tersebut disintesis menjadi teori. “Itulah judul pamerannya: Dari Praktik ke Teori dan Ke Praktik yang Berteori” ujar Shela, edukator pameran tersebut.
Menjadi penting pula tuk para mahasiswa untuk menanamkannya dalam kepala, bahwa teori-teori yang diimpor dari belahan dunia lain itu barangkali belum tentu cocok dipakai di tanah air. “Apa pun yang diambil dari Barat paling banter menjadi hipotesis,” kata Sajogyo dikutip dari Tempo. Justru radikalisme itulah yang membuka mata dan hati Sajogyo untuk bisa menelisik langsung kondisi riil.
Apa Visi Besarnya?

Bagi Sajogyo, cita-cita besarnya harus membangun sebuah keberpihakan nyata bagi golongan yang selama ini tak terdengar, yakni para petani gurem (termasuk di dalamnya buruh tani), bahkan hingga perempuan dan anak-anak yang selama ini kerap hanya dianggap sebagai pelengkap.
Beliau percaya bahwa ilmu tidak eksis untuk kenetralan, melainkan sebagai wadah keberanian untuk memihak kaum yang lemah. Semangat ini kini diteruskan oleh Sajogyo Institute, yang digagas anak-anak didikannya atas restu beliau sebagai komitmen moral agar konsep “ilmu pengetahuan yang tetap memiliki jiwa dan keberpihakan” ini terus bergema.
Bagaimana Sosok Sajogyo Tetap Mampu Menginspirasi Generasi?

Untuk memastikan relevansinya dengan generasi muda, pameran dari Sajogyo Institute ini “menghadirkan kembali” sang tokoh sebagai penutur cerita. Melalui narasi orang pertama, Sajogyo seolah-olah sedang berdiri dan berdialog langsung membagikan keresahannya kepada pengunjung. Pendekatan ini memosisikan Sajogyo sebagai sosok yang jujur dan apa adanya. Sentuhan humanis inilah yang menjadi kunci; menyadarkan kita bahwa rentetan perjuangan Sajogyo puluhan tahun silam, pada hakikatnya, juga merupakan masalah yang masih kita hadapi hari ini.
Sebagai wujud nyata untuk terus merawat diskursus kritis tersebut, peringatan seabad ini tidak hanya berhenti pada ruang pameran. Rangkaian agenda turut diperkaya dengan Konferensi Internasional bertema “Autonomous Social Sciences and Alternative Development in Times of Multiple Crises“. Selain itu, terdapat pula diskusi panel tematik dan panel khusus, seni puisi, bazar buku, hingga pameran dari Gerakan Masyarakat Sipil. Seluruh rangkaian ekspresi kepedulian terhadap kaum yang termarginalkan ini pun diakhiri dengan Solidarity Night pada 23 Mei 2026.
***
Reporter: Ariz Nuruddin Pasya, Nadia Firyal, Azizah
Editor: Asni Kayla Azzahra
Fotografer: Zaskia Zahra




Tambahkan Komentar