Sukabumi 16 Juni 2026 – Keberhasilan tumbuhnya ribuan bibit pohon Multi Purpose Tree Species (MPTS) yang telah ditanam di kawasan penyangga TNGHS kini mendapat dukungan ilmiah. DKSHE IPB University menerjunkan Guru Besar Ilmu Tanah untuk membekali petani lokal dengan keterampilan praktis mendiagnosis kesehatan tanah dan kandungan unsur hara menggunakan alat sederhana secara langsung di ladang mereka.
Pelatihan bertajuk “Pengelolaan Lahan Pertanian dan Pemeliharaan Tanaman MPTS” ini menjadi sangat krusial karena fase awal pertumbuhan pohon sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi lahan. Selain mendukung pemulihan lingkungan dan meningkatkan serapan karbon, program di bawah naungan FOLU Net Sink 2030 ini dirancang untuk mendongkrak perekonomian masyarakat secara berkelanjutan serta menyiapkan warga menuju pengusulan areal preservasi kawasan.

Pada sesi pertama, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, Prof. Dr. Ir. Arief Hartono, M.Sc. Agr., mengupas tuntas karakteristik dan kesuburan tanah sebagai fondasi utama pertanian berkelanjutan. Dalam pemaparannya, para petani dibekali pengetahuan praktis mengenai jenis dan fungsi unsur hara yang dibutuhkan tanaman agar tumbuh optimal, faktor-faktor alam dan lingkungan yang memengaruhi tingkat kesuburan tanah, penggunaan alat sederhana untuk mengevaluasi kondisi kesehatan tanah secara langsung.
Melalui materi ini, petani diharapkan mampu mendiagnosis kondisi tanah mereka sendiri secara mandiri dan menentukan tindakan pemupukan atau pengelolaan yang tepat sesuai kebutuhan lahan.
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Endang Gunawan, S.P., M.Si., pakar produksi tanaman IPB University, yang memfokuskan bimbingan pada teknik pemeliharaan awal pascatanam. Dr. Endang menegaskan bahwa kualitas bibit unggul tidak akan memberikan hasil optimal jika tidak diimbangi dengan perawatan yang konsisten pada fase awal pertumbuhan.

Tidak sekadar teori di dalam kelas, para pakar langsung mengajak peserta ke lapangan untuk melakukan praktik langsung. Di area kebun, petani diajarkan teknik penyiangan atau pengendalian gulma yang efektif, dosis dan cara pemupukan yang tepat, serta metode proteksi fisik tanaman pada fase kritis.
Sesi demonstrasi lapangan memicu antusiasme yang sangat tinggi dari para peserta. Ruang pelatihan berubah menjadi forum diskusi interaktif saat para petani aktif berkonsultasi dan membagikan hambatan nyata yang mereka hadapi sehari-hari, seperti serangan gulma dan kendala kondisi tanah setempat.

Melalui sinergi erat antara DKSHE IPB University dan Balai TNGHS ini, kapasitas masyarakat di empat desa penyangga diharapkan meningkat drastis. Dengan menguasai ilmu pengelolaan lahan dan perawatan MPTS secara mandiri, masyarakat tidak hanya berkontribusi langsung dalam menjaga kelestarian paru-paru lanskap TNGHS, tetapi juga dapat memanen manfaat ekonomi jangka panjang dari tanaman serbaguna tersebut.
***
Reporter: Ananda Ayu Pertiwi
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar