BEM Fakultas Kedokteran IPB University Kembali Gelar SIKMA 2026, Hadirkan Layanan Sirkumsisi Gratis bagi Masyarakat

Bogor, 28 Juni 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran IPB University kembali sukses menyelenggarakan kegiatan SIKMA (Sirkumsisi Massal) secara gratis di Kantor Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti 27 peserta rentang usia 3-9 tahun dan satu peserta usia 25 tahun dari berbagai daerah di Bogor. Sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kesehatan masyarakat kegiatan ini menghadirkan layanan sirkumsisi gratis sekaligus memberikan edukasi kesehatan bagi peserta dan orang tua.

Tahun ini merupakan tahun kedua terselenggaranya Sirkumsisi Massal (SIKMA), salah satu program kerja tahunan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran IPB University. Kegiatan pengabdian masyarakat ini membuka kesempatan secara gratis bagi masyarakat yang ingin melakukan sunat tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Tujuannya adalah memberikan akses pelayanan kesehatan terkhususnya sirkumsisi yang sehat, berkualitas, dan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama masyarakat kurang mampu. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan dokter dari berbagai instansi mulai dari lingkup IPB sampai daerah Kabupaten Bogor dengan total 13 dokter serta 3 dosen. Mulai dari Fakultas Kedokteran IPB, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kabupaten Bogor, dan RS Medika Dramaga.

Tahun ini kegiatan SIKMA dilaksanakan di Kantor Kecamatan Dramaga mulai dari pukul 08.00-13.00. Rangkaian diawali dengan registrasi peserta, kemudian dibuka dengan sambutan dari berbagai pihak seperti Ketua Pelaksana, Wakil Ketua BEM FK IPB, serta Perwakilan Dosen Fakultas Kedokteran. Setelah itu peserta yang terdiri dari orangtua dan anak diajak untuk melaksanakan senam pagi bersama di lapangan. Mereka kemudian diarahkan masuk ke lobi Kantor Kecamatan untuk mengikuti rangkaian kegiatan inti, yakni Pre-test, Penyampaian materi Edukasi, Post-test, dan Proses Sirkumsisi. Sesi pre-test diikuti oleh orang tua sebagai tolak ukur sejauh mana pengetahuan mereka terkait perilaku hidup bersih dan sehat, sirkumsisi, serta perawatan luka pasca sunat. Pada sesi ini, peserta diberikan lembar pertanyaan tertulis.

Setelah sesi pre-test, beberapa peserta mulai dipanggil sesuai nomor antrian menuju ruang tunggu sirkumsisi di lantai dua. Sementara menunggu giliran, peserta dan orang tua yang nomor antriannya masih jauh mengikuti sesi edukasi materi dari dosen yang bertugas. Terdapat tiga materi utama yang disampaikan dalam sesi ini, yakni materi terkait PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang diperuntukkan untuk anak, Sharing Pengalaman dan Proses Sirkumsisi, serta Perawatan Luka Pasca Sunat yang diperuntukkan bagi orangtua.

Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima layanan kesehatan, tetapi juga memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah pemaparan materi selesai, dibuka sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin bertanya dan diakhiri dengan sesi post-test untuk mengukur kembali pemahaman orang tua setelah mendapatkan materi edukasi dari dokter yang bertugas. Orang tua kembali diberikan kertas yang sama saat sesi pre-test untuk memperbaiki jawaban mereka sebelumnya.

Beralih ke proses sirkumsisi di lantai dua, peserta yang sudah berada di ruang tunggu sirkumsisi selanjutnya akan menunggu giliran untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan tinggi badan, berat badan, tensi, dan suhu tubuh untuk memastikan kondisi kesehatannya layak sebelum tindakan sirkumsisi dilakukan. Proses anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh dua dokter dan dua asisten dokter dari mahasiswa kedokteran IPB yang nantinya akan bergantian sesuai shift.

Zahwa Rivanti Amalia

Jika kondisi peserta sudah memenuhi kriteria, selanjutnya peserta dipersilakan masuk ke ruang sirkumsisi. Dalam ruangan ini, terdapat delapan tempat tidur dimana setiap tempat tidur akan ditangani oleh seorang dokter dan dua asisten dokter dari mahasiswa Fakultas Kedokteran IPB University yang nantinya juga akan bergantian setiap 30 menit sesuai shift.

Proses sirkumsisi kurang lebih dilakukan sekitar 30 menit per peserta. Suasana di ruang tersebut riuh saat proses sirkumsisi dimulai, beberapa peserta menangis bahkan berteriak. Beruntung para asisten dokter yang bertugas dengan sigap menenangkan dan mengalihkan perhatian mereka sehingga seluruh proses sirkumsisi berjalan lancar dari awal sampai akhir.

Setelah proses sirkumsisi selesai, peserta diarahkan menuju meja konsultasi dan obat yang ada di sisi pojok ruangan. Di sini, peserta yang didampingi orang tua akan berkonsultasi lebih lanjut terkait reaksi yang mungkin timbul pascasunat, perawatan luka, serta edukasi pascasunat lainnya. Kemudian setiap peserta akan mendapatkan obat-obatan seperti amoksisilin antibiotik, parasetamol dan salep gentamisin. Peserta juga mendapatkan sarung, celana batok, makanan, mainan, dan uang saku sebagai apresiasi dan partisipasinya dalam kegiatan SIKMA.

Zahwa Rivanti Amalia

Peserta kloter terakhir yang masih menunggu antrean di lobi juga diajak untuk bermain games oleh panitia supaya mereka tidak bosan dan tetap bersemangat untuk mengikuti sirkumsisi. Peserta yang berhasil memenangkan games mendapatkan hadiah snack dari panitia. Selain itu mereka juga diajak untuk sharing session agar tidak takut untuk menjalani proses sirkumsisi.

Rangkaian kegiatan SIKMA (Sirkumsisi Massal) yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari tersebut tidak hanya sekedar memberikan pelayanan kesehatan dan juga edukasi kepada masyarakat, tetapi juga meninggalkan pesan, kesan dan harapan mendalam bagi orang tua, tenaga medis, maupun panitia yang terlibat. Melalui kolaborasi berbagai pihak, SIKMA 2026 menjadi wujud nyata pengabdian Fakultas Kedokteran IPB University kepada masyarakat.

Dampak pengabdian tersebut turut dirasakan oleh Feni, salah satu orang tua peserta. Ia mengatakan bahwa dirinya sangat terbantu dengan adanya kegiatan SIKMA karena banyak sekali warga kurang mampu yang memang membutuhkan wadah sirkumsisi gratis. “Saya sangat terbantu dengan adanya kegiatan SIKMA, kegiatannya sangat bermanfaat sekali, terlebih untuk masyarakat yang kurang mampu. Semoga kegiatan ini bisa terus terlaksana setiap tahunnya,” ujar Feni.

Kesan positif juga disampaikan oleh dosen Fakultas Kedokteran IPB, dr. Ditia Gilang Shah Putra Rahim, Sp.A, M.A.R.S. “SIKMA di tahun kedua berjalan lebih baik dan tertib dibanding tahun pertama serta tidak ada kendala dari para pesertanya. Harapannya kegiatan SIKMA di tahun selanjutnya bisa berjalan lebih baik, lebih banyak mencakup anak-anak terkhususnya di lingkungan IPB, serta lebih banyak mahasiswa yang ikut berkontribusi dalam kegiatan SIKMA,” ujarnya.

Kesan, pesan, dan harapan lainnya juga turut disampaikan oleh Ketua Pelaksana kegiatan SIKMA 2026, Keisya Salsabila Senjaya. Sebagai ketua pelaksana pertama dari mahasiswa di tahun kedua terlaksananya SIKMA, ia cukup merasakan bagaimana progress serta hambatan selama merencanakan kegiatan ini, mulai dari sebelum dan saat hari H.

Zahwa Rivanti Amalia

Sebelum hari pelaksanaan, ia mengatakan hambatan ada di pendanaan dan jumlah peserta yang masih belum mencapai target. Sementara di hari H, ia merasa suasananya cukup kacau yang disebabkan karena beberapa peserta menangis kemudian beberapa rundown yang harus disesuaikan kembali. Walaupun ada beberapa hambatan yang terjadi, Keisya tetap senang karena di tahun ini jumlah asisten dokter dari mahasiswa Fakultas Kedokteran IPB bertambah dari tahun sebelumnya, dari yang hanya berjumlah belasan orang, di tahun ini menjadi 38 orang untuk angkatan 61. Sisanya yakni angkatan 62 yang bertugas mensterilisasi alat sebanyak empat orang.

Keisya berharap bahwa kegiatan SIKMA di masa mendatang dapat dikemas secara lebih matang. “Harapan saya semoga kegiatan SIKMA di tahun selanjutnya bisa berjalan dengan baik dan terstruktur lebih detail, kemudian juga peserta yang ikut sirkumsisi lebih banyak dibanding tahun ini dan tahun sebelumnya, serta semoga asisten dokter di tahun depan bisa lebih banyak dari tahun ini, selain untuk menangani peserta yang jumlahnya mungkin lebih banyak, mereka juga bisa belajar secara langsung bagaimana cara melakukan sirkumsisi secara langsung,” ujar Keisya. Ia juga menambahkan “Kemudian aku juga berharap dari berbagai pihak ikut senang selama proses kegiatan SIKMA berlangsung, baik dari dokter, peserta sirkumsisi, orangtua, dan teman-teman panitia.”

Berbagai harapan yang disampaikan oleh orang tua peserta, tenaga medis, maupun panitia mencerminkan bahwa SIKMA 2026 tidak hanya menjadi kegiatan pelayanan kesehatan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran IPB University. SIKMA diharapkan tidak hanya terus berlanjut sebagai program tahunan, tetapi juga mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat serta menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu kedokteran secara langsung kepada masyarakat.

***

Reporter: Rifania Aufadira

Editor: Neng Apap Apiani

Fotografer: Zahwa Rivanti Amalia

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.