Belitung, 5 Agustus 2026 – Mahasiswa KKNT IPB di Desa Pulau Seliu, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung, menghadirkan program Seliu Berdaya sebagai upaya meningkatkan kesadaran siswa terhadap pengelolaan sampah dan lingkungan. Program yang dilaksanakan pada 20 Juli hingga 5 Agustus 2026 ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan KKNT yang melibatkan 10 mahasiswa. Seliu Berdaya terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu Jelajah Lingkungan dan Aksi Hijau, yang masing-masing memfokuskan kepada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Pemilihan isu pengelolaan sampah tidak terlepas dari kondisi geografis Desa Pulau Seliu yang dikelilingi oleh perairan. Keberadaan sampah di wilayah pesisir menjadi salah satu perhatian karena sampah dapat berasal dari aktivitas masyarakat maupun terbawa dari wilayah lain melalui laut. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKNT IPB untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan, khususnya kepada generasi muda yang tinggal di wilayah pesisir.
Koordinator Desa KKNT 2026, Zharesyka Ferdy Saputra, menjelaskan bahwa persoalan sampah yang berkaitan dengan laut menjadi salah satu hal yang ingin diperhatikan melalui program tersebut. Menurutnya, kondisi Pulau Seliu yang dikelilingi perairan membuat kebersihan lingkungan pesisir perlu dijaga bersama.
“Desa Seliu merupakan desa yang cukup kecil dan dikelilingi perairan,” ujar Zharesyka.
Melalui kegiatan Jelajah Lingkungan, mahasiswa KKNT IPB memberikan edukasi kepada siswa-siswi SDN 27 Membalong dengan pendekatan studi interaktif. Siswa diajak memahami hubungan sebab-akibat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama ketika sampah tersebut berakhir di laut. Materi juga diarahkan untuk mengenalkan dampak keberadaan sampah terhadap ekosistem dan lingkungan sekitar.
Pendekatan sebab-akibat digunakan untuk membantu siswa memahami bahwa sampah yang dibuang ke laut tidak berhenti sebagai persoalan kebersihan. Sampah dapat memengaruhi ekosistem perairan dan berpotensi masuk ke rantai makanan melalui organisme yang hidup di laut. Dengan memahami proses tersebut, siswa diharapkan dapat melihat bahwa kebiasaan membuang sampah juga dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Selain membahas dampak sampah terhadap lingkungan, siswa-siswi SDN 27 Membalong juga diperkenalkan pada perbedaan sampah organik dan anorganik. Mahasiswa KKNT IPB memberikan pemahaman mengenai cara mengenali kedua jenis sampah tersebut serta kemungkinan pemanfaatannya.
“Kita memberikan pemahaman, kita memberikan studi interaktif kepada mereka. Kalau misalkan mereka membuang sampah ke laut, itu sebabnya seperti apa, ekosistemnya akan seperti apa,” jelas Zharesyka.
Menurut Zharesyka, kegiatan pada tingkat sekolah dasar lebih diarahkan pada pembentukan pemahaman sebelum siswa diberikan kegiatan yang lebih banyak melibatkan praktik. Hal tersebut disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman siswa terhadap persoalan sampah. Dengan dasar pengetahuan tersebut, siswa diharapkan dapat mulai mengenali persoalan sampah yang berada di lingkungan sekitar mereka.

Pendekatan yang berbeda diterapkan melalui kegiatan Aksi Hijau yang diberikan kepada siswa SMP 04 Membalong. Jika Jelajah Lingkungan lebih menekankan pemahaman mengenai dampak sampah, Aksi Hijau mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan pengelolaan sampah. Kegiatan tersebut diawali dengan kerja bakti di lingkungan sekolah dan praktik pemilahan sampah organik serta anorganik.
Setelah memahami proses pemilahan, siswa kemudian diperkenalkan pada pembuatan kompos dan dekomposer menggunakan EM4. Kegiatan tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kondisi tanah di Desa Pulau Seliu yang mayoritas berupa tanah berpasir. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan penanaman karena unsur hara tanah dinilai belum optimal.
Melalui pembuatan kompos dan dekomposer, siswa diperkenalkan pada cara memanfaatkan sampah organik agar dapat kembali memberikan manfaat bagi lingkungan. Hasil pengolahan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah sehingga dapat mendukung kegiatan penanaman. Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk tanaman obat, tanaman hias, maupun jenis tanaman lain yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Kegiatan Aksi Hijau juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikaitkan dengan kebutuhan lingkungan di sekitar masyarakat. Sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang dapat diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat diolah. Melalui praktik tersebut, siswa-siswi tidak hanya belajar memilah sampah, tetapi juga memahami salah satu bentuk pemanfaatannya.
Mahasiswa KKNT IPB menyadari bahwa edukasi mengenai lingkungan tidak cukup jika hanya berlangsung selama kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh siswa perlu terus diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah program selesai. Karena itu, pihak sekolah dan orang tua turut dipandang memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan pembelajaran tersebut.
Zharesyka menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua diperlukan agar pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah dapat kembali diterapkan ketika berada di rumah. Pihak sekolah juga diharapkan dapat terus mengingatkan siswa mengenai kebiasaan memilah dan mengelola sampah. “Harapannya dari situ orang tua maupun pihak sekolah bisa membantu anak-anaknya untuk selalu mengingat apa yang sudah dipelajari dan bisa dipraktikkan ke dalam kehidupannya sehari-hari,” jelasnya.
Dukungan dari pihak sekolah juga terlihat dalam proses pembuatan kompos dan dekomposer. Proses tersebut membutuhkan waktu yang lebih panjang, sementara masa pelaksanaan KKN memiliki keterbatasan waktu untuk melakukan pemantauan secara langsung. Karena itu, pihak sekolah turut membantu melanjutkan proses pengolahan agar hasilnya tetap dapat dimanfaatkan oleh siswa.
Sebelum program dilaksanakan, mahasiswa KKNT IPB terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pihak sekolah mengenai kegiatan yang akan diberikan. Menurut Zharesyka, pihak sekolah memberikan respons positif terhadap program tersebut dan menunjukkan antusiasme selama pelaksanaan kegiatan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Pelaksanaan Seliu Berdaya tidak hanya menjadi sarana edukasi bagi siswa, tetapi juga memberikan pembelajaran bagi mahasiswa KKNT IPB. Selama berinteraksi dengan siswa dan pihak sekolah, mahasiswa melihat bahwa kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga telah mulai tumbuh di lingkungan sekolah. Pengalaman tersebut memperkuat pandangan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Menurut Zharesyka, upaya menjaga lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu kelompok. Kesadaran tersebut perlu dibangun mulai dari individu, keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah melalui dukungan dan kolaborasi yang berkelanjutan. “Pentingnya menjaga sampah adalah kolaborasi kita semua,” tuturnya.
Melalui Seliu Berdaya, mahasiswa KKNT IPB berharap siswa dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan tidak hanya memahami perbedaan sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengetahui dampaknya terhadap lingkungan serta cara sederhana untuk mengolahnya. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat terus diterapkan di sekolah maupun di rumah setelah rangkaian kegiatan KKNT berakhir.
Bagi masyarakat Desa Pulau Seliu yang hidup berdampingan dengan wilayah perairan, pemahaman mengenai pengelolaan sampah menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan. Melalui edukasi di SDN 27 Membalong dan praktik pengelolaan sampah bersama SMPN 04 Membalong, Seliu Berdaya berupaya memperkenalkan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak usia sekolah. Program tersebut diharapkan dapat menjadi awal bagi tumbuhnya kebiasaan menjaga lingkungan secara bersama dan berkelanjutan di Pulau Seliu.
***
Reporter: Fitri Oktaviani
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar