Desa Malasari — Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) memasang rambu bahaya longsor di Kampung Kopo, Desa Malasari, Kabupaten Bogor. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program PPKO Himakova melalui Kabayan Ngawangun yang berfokus pada upaya adaptasi dan mitigasi bencana. Rambu dibuat menggunakan material yang tersedia di lingkungan sekitar, terutama bambu dan kayu, sebagai bentuk pemanfaatan kearifan lokal masyarakat setempat.
PIC Program Kabayan Ngawangun sekaligus Kepala Divisi Hubungan Masyarakat tim pelaksana, Andika Satria Putra, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian Kabayan Ngawangun yang dirancang sebagai upaya mitigasi bencana. Rambu dibuat dan dipasang bersama masyarakat di sejumlah titik yang dinilai rawan longsor di Kampung Kopo.
Menurut Andika, pemilihan Kampung Kopo sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada kondisi wilayah Desa Malasari yang berada di kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan memiliki kawasan yang rawan longsor. Selain Kampung Kopo, beberapa wilayah lain di Desa Malasari yang disebut rawan longsor meliputi Kampung Nyuncung, Kampung Sikantor, dan Kampung Hanjawar. Rambu kemudian ditempatkan di area pinggir jalan Kampung Kopo yang sebelumnya juga pernah mengalami longsor.
“Untuk tujuan utama, pada intinya adalah untuk upaya membangun kesadaran dan kesiapsiagaan dari masyarakat terhadap bencana. Kita berusaha untuk menyadarkan masyarakat ketika memang di area itu adalah area rawan bencana,” ujar Andika.
Rambu yang dipasang tidak hanya berfungsi sebagai penanda kawasan rawan longsor. Material yang digunakan juga menjadi bagian dari pendekatan kegiatan dengan memanfaatkan kearifan lokal, khususnya penggunaan bambu hitam dan kayu. Andika menyebut ketersediaan bambu di lokasi menjadi salah satu alasan pemilihannya sebagai material utama.
“Karena di lokasi tersebut ketersediaannya cukup melimpah. Karena memang dekat dengan kawasan hutan. Bambu juga sangat kuat untuk dijadikan material bangunan, khususnya rambu bencana ini,” jelasnya.

Menurut Andika, penggunaan bambu juga memiliki nilai filosofis dan ekologis yang dinilai selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Hal tersebut turut diperkuat melalui diskusi dengan kesepuhan setempat. Penggunaan material bambu, kata dia, masih menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat, termasuk dalam pembangunan pendopo dan saung.
Pemasangan rambu dilakukan dengan melibatkan masyarakat melalui kegiatan gotong royong. Masyarakat bersama tim pelaksana membersihkan jalan dan melubangi tanah sebagai tempat pemasangan rambu. Kegiatan tersebut melibatkan 10 orang tim pelaksana, sekitar delapan volunteer PPK Ormawa Himakova, serta 15 masyarakat Kampung Kopo yang terdiri dari bapak-bapak dari berbagai komponen masyarakat Dusun 2.
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut telah dibangun sejak tahap awal perancangan program. Andika mengatakan tim melakukan pendekatan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan setempat, mulai dari kepala desa, sekretaris desa, kepala lembaga, hingga ketua RT dan RW. Pendekatan tersebut dilakukan agar program dapat diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat.
Kedekatan dengan masyarakat juga didukung oleh kemampuan sebagian anggota tim dalam dalam berbahasa Sunda. Menurut Andika, kondisi tersebut membantu tim untuk berbaur dan berdiskusi dengan masyarakat. Pelaksanaan pemasangan rambu kemudian diselaraskan dengan kegiatan gotong royong yang rutin dilaksanakan masyarakat setiap Jumat.
“Kita selaraskan program masyarakat dengan program kita. Kita gabungkan gotong royong rutin mingguan setiap Jumat dengan program kita, sehingga masyarakat bisa ikut serta dalam program kita,” ungkapnya.
Melalui pemasangan rambu tersebut, tim berharap masyarakat yang melintasi kawasan Kampung Kopo dapat mengenali wilayah rawan longsor dan meningkatkan kewaspadaan saat berkendara. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai adaptasi dan mitigasi bencana serta kepedulian terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Andika menjelaskan bahwa tindak lanjut program dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan dan pemerintahan setempat. Tim berharap para pimpinan di wilayah tersebut memiliki komitmen yang sama dalam upaya pencegahan, adaptasi, dan mitigasi bencana sehingga masyarakat dapat mengikuti arahan yang diberikan.
Untuk mendukung keberlanjutan komunikasi, tim juga memanfaatkan grup WhatsApp yang dimiliki masyarakat untuk menyampaikan informasi terkait adaptasi dan mitigasi bencana. Selain itu, terdapat sosialisasi mengenai konservasi dan ketangguhan bencana kepada masyarakat Desa Malasari, khususnya Kampung Kopo, sebagai bagian dari tindak lanjut penggunaan dan tujuan pemasangan rambu.
Melalui kegiatan tersebut, Kabayan Ngawangun diharapkan tidak hanya menghasilkan rambu sebagai penanda kawasan rawan longsor, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kesadaran dan sistem adaptasi serta mitigasi bencana. Pemanfaatan bambu dan kayu dalam pembuatan rambu sekaligus menjadi bagian dari upaya mengangkat material yang telah dikenal dan digunakan masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari.
***
Reporter: Fauzan Affan Zakiyya
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar