PERNIK: Mengurai Pewarisan Nilai Kerja Keluarga Pemulung TPA Galuga oleh Tim PKM-RSH IPB University

“Yang penting ada bakal ke dapur,” tutur Pak R. (71), seorang pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, saat menceritakan perjuangan hidupnya. Di usianya yang telah senja, ia tetap bekerja memilah sampah hampir setiap hari bukan karena pekerjaan itu mudah, melainkan demi memastikan keluarganya tetap bisa makan. “Bakal makan. Saya takut nggak makan. Jadi kepaksa saya memulung,” tambahnya dengan jujur. Kalimat sederhana tersebut menjadi pintu masuk bagi Tim PERNIK dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) IPB University untuk menyelami dinamika kehidupan keluarga pemulung di kawasan tersebut.

“Kami memilih topik ini karena melihat aktivitas pemulung di TPA Galuga bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga lintas generasi. Kami ingin memahami nilai-nilai kerja yang diwariskan dari orang tua kepada anak serta bagaimana nilai tersebut memengaruhi pilihan hidup generasi berikutnya,” ungkap tim riset IPB University saat menjelaskan alasan di balik pemilihan topik penelitian bertajuk “Pewarisan Nilai Kerja sebagai Jalan Hidup: Studi Kasus pada Keluarga Pemulung di TPA Galuga”. 

Selama ini, profesi pemulung sering dipandang sebelah mata hanya dari kacamata kemiskinan materi. Padahal, di balik aktivitas memilah sampah, terdapat nilai kerja, tanggung jawab, serta perjuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang terus dibangun dan diwariskan lintas generasi.

Untuk membedah realitas sosial yang kompleks tersebut, riset ini menggunakan dua kerangka teoritis utama (Grand Theory). Teori pertama yang digunakan adalah Teori Konstruksi Sosial Realitas dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966), yang menjelaskan proses pembentukan persepsi pemulung mengenai pekerjaannya melalui tiga tahapan dialektika: eksternalisasi (interaksi pekerja dengan lingkungan fisik TPA), objektivikasi (institusionalisasi rutinitas memulung sebagai bagian dari tata realitas sosial), dan internalisasi (penyerapan nilai-nilai tersebut ke dalam kesadaran diri). Teori kedua adalah Teori Habitus dari Pierre Bourdieu (1977), yang menerangkan bagaimana pengalaman berulang di area TPA mengkristal menjadi kebiasaan yang mengendap (habitus), sehingga membentuk pola pikir dan disposisi mental yang diwariskan lintas generasi.

Melalui wawancara mendalam terhadap puluhan keluarga pemulung di Desa Galuga, temuan riset menunjukkan bahwa kondisi sosial-ekonomi dan sosial-budaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi pemulung, yang kemudian memperkuat pewarisan nilai kerja dalam keluarga hingga tiga generasi. Tim mengidentifikasi lima nilai kerja utama yang tumbuh dikalangan keluarga pemulung: resiliensi (ketangguhan menghadapi beban kerja fisik yang berat tanpa larut dalam keluhan), daya juang (pengorbanan tanpa henti demi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak), harga diri (rasa bangga bekerja halal tanpa minder), kemandirian (prinsip enggan menggantungkan hidup pada orang lain), serta penerimaan (acceptance atas pendapatan yang fluktuatif).

Di samping itu, riset ini menyingkap dilema mobilitas sosial yang dihadapi masyarakat setempat. Generasi muda sebenarnya pernah berupaya bekerja di sektor formal seperti restoran, tetapi keterbatasan kualifikasi pendidikan (mayoritas tamatan SD) dan ketidakbiasaan pada aturan kerja yang kaku membuat mereka kembali ke TPA Galuga yang menawarkan fleksibilitas waktu. Sementara itu, keterlibatan anak-anak memulung umumnya murni atas inisiatif pribadi untuk membantu orang tua, meskipun para orang tua tetap menaruh harapan besar agar anak-anak mereka kelak dapat meraih pendidikan tinggi.

Sebagai bentuk luaran (output) konkret, Tim PERNIK merumuskan rekomendasi kebijakan policy brief  bagi dinas dan instansi terkait. Usulan tersebut mencakup lima pilar utama yaitu pembentukan satgas darurat keselamatan dan kesehatan kerja di TPA, penyelenggaraan pelatihan keterampilan alternatif, penguatan pembiayaan usaha produktif, perluasan jaminan perlindungan sosial dan BPJS, serta kemudahan akses beasiswa pendidikan bagi anak-anak pemulung. Melalui riset ini, masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat melihat keluarga pemulung dari perspektif yang lebih utuh sebagai subjek yang memiliki ketangguhan etos kerja tinggi.

***

Reporter: Ari Yanto
Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.