BOGOR, 9 September 2026 – Pertanian kita seringkali terjebak pada asumsi lama bahwa lebih banyak pupuk berarti lebih baik bagi tanaman. Padahal, realita di lapangan menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar seberapa banyak pupuk yang diberikan, melainkan seberapa efektif tanaman mampu memanfaatkan pupuk tersebut. Beranjak dari tantangan efisiensi pemupukan inilah, inovasi MycoCaps lahir.
Untuk menjawab tantangan efisiensi tersebut, tim mahasiswa dari IPB memformulasikan Complete Bio-Organic Booster berbasis agen hayati dan limbah biomassa, yang kemudian dikemas ke dalam bentuk kapsul slow-release yang biodegradable.
Dalam penerapannya, di tengah banyaknya produk pertanian yang mengklaim diri sebagai solusi ajaib, MycoCaps justru bersikap realistis dengan menolak diposisikan sebagai pupuk utama, melainkan sebagai booster yang bekerja spesifik di sekitar zona akar. Secara teknis, formulasi ini cukup menjanjikan dengan kandungan NPK sebesar 7,2%, C-organik 39%, dan pH 6,19 yang telah terstandar SNI dan Permentan.
Tak hanya unggul secara formulasi teknis, inovasi kepraktisan dari produk ini juga patut disorot. “Kepraktisan MycoCaps paling terasa pada cara aplikasinya. Petani tidak perlu menimbang serbuk atau mengukur volume cairan setiap kali aplikasi,” ungkap Ketua Pelaksana Tim MycoCaps, Okta Fitra Vidian. Selain itu, dosis MycoCaps dibuat tepat satu kapsul untuk satu tanaman pada setiap aplikasi.
Kemudahan tersebut berlanjut saat kapsul ditanam dan bersentuhan dengan kelembapan tanah, di mana cangkangnya akan meluruh. Di fase inilah agen hayati bekerja, melepaskan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) yang berfungsi layaknya ‘perpanjangan akar’ untuk menjangkau hara, serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dari rizosfer bambu. Sikap objektif nan bijak dari tim juga patut diapresiasi. Alih-alih menjual janji persentase efisiensi, mereka secara terbuka mengakui bahwa konsep pelepasan bertahap (slow-release) produk ini masih dalam tahap validasi berkelanjutan. “Jadi nilai utama yang sudah paling nyata adalah presisi dosis dan kemudahan aplikasinya,” tegas tim.
Selain efisiensi pemupukan, perhatian tim juga tertuju pada isu lingkungan, sebab dalam tren keberlanjutan, istilah zero waste sering menjadi bualan saja. Tim MycoCaps menghindari hal tersebut dan memilih narasi yang lebih sesuai. “Narasi yang paling tepat bagi kami saat ini adalah menuju sistem produksi yang minim limbah, bukan mengklaim sudah sepenuhnya zero waste,” tutur perwakilan tim.
Sebagai langkah nyata dari narasi tersebut, mereka mengintegrasikan dua residu biomassa bernilai rendah, yakni bulu ayam dari Tanti Farm dan ampas kopi dari Hopes Kopi. Limbah ini tidak sekadar dicampurkan. Bulu ayam diproses khusus untuk memecah struktur keratinnya, sementara ampas kopi dikeringkan. Keduanya diproses menjadi bagian matriks organik pembawa agen mikroba. Penggunaan kapsul biodegradable juga memastikan inovasi ini tidak mewariskan sampah plastik baru di lahan garapan. Tim menegaskan bahwa “keberlanjutan bagi kami bukan hanya berasal dari bahan bakunya, tetapi dari bagaimana seluruh siklus produksinya terus diperbaiki”.
Keberhasilan merangkai formulasi hingga konsep sirkular tersebut berakar dari pemahaman bahwa banyak riset mahasiswa layu sebelum berkembang karena hanya berkutat di satu kepakaran dan buta terhadap kenyataan pasar. MycoCaps mendobrak kelemahan itu melalui kolaborasi lintas program studi. Dalam perjalanannya, mahasiswa Teknik Pertanian dan Biosistem mengambil peran untuk mengawal rekayasa, proses produksi, serta aplikasinya di lapangan. Aspek teknis ini kemudian diperkuat oleh mahasiswa Manajemen Sumberdaya Lahan yang memastikan bahwa pondasi tanah, interaksi mikroba, dan sisi agronominya benar-benar valid secara sains. Tidak membiarkan inovasi ini gagap secara komersial, tim turut melibatkan mahasiswa Agribisnis untuk membaca pergerakan pasar dan kebutuhan nyata konsumen, sementara mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah bertugas menakar kelayakan usahanya secara finansial. Kolaborasi ini membentuk cara pandang tim dalam setiap pengambilan keputusan, “apakah secara ilmiah masuk akal, dan apakah secara bisnis benar-benar bisa dijalankan”.
Namun, meski dibekali kolaborasi lintas disiplin yang matang, bagi tim MycoCaps tantangan terberat justru muncul ketika produk harus keluar dari zona nyaman laboratorium. “Justru tantangan terbesarnya muncul ketika produk keluar dari kondisi yang terkontrol,” ungkap tim menjelaskan dinamika pengujian. Di laboratorium, suhu dan bahan bisa dikontrol konsisten. Namun di lapangan, inovasi ini harus berhadapan dengan variasi tanah, cuaca ekstrem, dan beragam praktik budidaya. Uji efektivitas biologis menuntut waktu yang tidak singkat. Pengujian membutuhkan satu siklus tanaman penuh, pengulangan berulang kali, dan biaya analisis yang besar.
Untuk menjawab kerumitan pengujian lapang tersebut, langkah menuju hilirisasi sedang digarap serius. Tim mulai memperkuat validasi produk, meningkatkan kapasitas agar lepas dari produksi manual, dan membangun kemitraan bahan baku. Kedepannya, mereka menargetkan untuk menggandeng kelompok tani, nursery, hingga toko pertanian. Semua ini dilakukan dengan satu tujuan utama, “agar MycoCaps tidak berhenti sebagai inovasi mahasiswa, tetapi benar-benar sampai ke tangan pengguna”.
Pada akhirnya, perjalanan panjang MycoCaps adalah pengingat penting bahwa riset kampus yang baik adalah riset yang menolak berhenti di awal keberhasilan, melainkan terus bergerak mencari validasi hingga benar-benar sampai dan bermanfaat di tangan para petani.
***
Reporter: Natasha Umaiza
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar