SiMata: Inovasi Mahasiswa IPB University Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA lewat Analisis Pupil Mata Berbasis AI

Sekelompok mahasiswa IPB University mengembangkan SiMata VGK, sebuah sistem skrining dini untuk mengidentifikasi risiko penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) melalui perubahan respons pupil mata. 

Inovasi yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini menawarkan pendekatan berbeda dalam proses skrining. Pemeriksaan NAPZA umumnya menggunakan sampel urine atau pemeriksaan laboratorium, SiMata dirancang untuk memanfaatkan respons pupil terhadap cahaya sebagai salah satu indikator yang dianalisis. Ide tersebut berangkat dari karakteristik pupil yang dapat berubah ketika seseorang terpapar zat psikoaktif tertentu. Zat tersebut dapat memengaruhi sistem saraf yang mengatur pupil sehingga menyebabkan perubahan ukuran maupun kecepatan pupil dalam menyempit dan melebar saat terkena cahaya.

Cara kerja SiMata dimulai dengan mengambil gambar mata siswa menggunakan perangkat pemindai khusus. Perangkat ini dirancang dengan kamera beresolusi tinggi, fitur inframerah atau close-up, serta sumber cahaya yang dapat dikontrol. Cahaya diberikan ke mata untuk melihat bagaimana pupil memberikan respons terhadap rangsangan tersebut. Gambar dan data respons pupil kemudian diproses oleh sistem kecerdasan buatan (AI). Pada tahap ini, sistem akan mengenali bagian pupil dari citra mata, mengukur perubahan ukurannya, serta melihat pola respons pupil terhadap cahaya. Tim merancang penggunaan algoritma Convolutional Neural Network (CNN) untuk membantu sistem mengenali pola tersebut.

Hasil analisis kemudian ditampilkan melalui dashboard SiMata. Sistem dirancang untuk mengelompokkan hasil skrining menjadi tiga kategori, yakni Aman, Perlu Perhatian, dan Perlu Pemeriksaan Lanjutan. Dashboard juga dapat menyimpan riwayat hasil pemeriksaan sehingga perubahan respons pupil dapat dipantau dari waktu ke waktu, jika sistem menunjukkan adanya indikasi yang perlu diperhatikan, hasil tersebut dapat menjadi dasar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Konsep implementasi SiMata mengusung roadmap bertahap 2025–2030 berbasis kerangka kolaborasi lintas sektor antara BNN sebagai pembuat kebijakan, Kementerian Kesehatan untuk verifikasi medis, kementerian pendidikan sebagai fasilitator, serta pihak sekolah atau kampus sebagai pelaksana. Melalui karya ini, tim mahasiswa IPB University berupaya mengawal gagasan SiMata menuju ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan terlindungi dari ancaman NAPZA.

Guru bimbingan dan konseling (BK) dapat mengarahkan siswa untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan atau pendampingan sesuai prosedur yang berlaku. Tim SiMata menekankan bahwa hasil yang diberikan bukan diagnosis penyalahgunaan NAPZA. Sistem hanya berfungsi sebagai alat skrining awal untuk membantu menentukan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Selain perangkat pemindai, inovasi ini juga dirancang agar dapat digunakan di lingkungan sekolah oleh petugas seperti guru BK atau UKS. Dengan demikian, proses skrining diharapkan dapat dilakukan tanpa prosedur pengambilan sampel biologis. Saat ini, SiMata masih berada dalam tahap pengembangan. Tim perlu menguji hubungan antara karakteristik pupil dan risiko penyalahgunaan zat, mengumpulkan dataset yang cukup beragam, serta menguji akurasi model AI sebelum sistem dapat diterapkan secara luas.

Melalui inovasi tersebut, tim SiMata VGK IPB University ingin menghadirkan pendekatan baru dalam skrining NAPZA yang memanfaatkan teknologi AI dan analisis citra mata. Pengembangan hingga 2030 diarahkan untuk menghasilkan sistem yang akurat, mudah digunakan, serta tetap memperhatikan keamanan dan perlindungan data siswa.

***
Reporter: Novita Tirenia Hanundias
Editor: Neng Apap Apiani

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.