Keberanian untuk berbicara, berinteraksi, dan memperkenalkan karya di hadapan orang lain menjadi pemandangan yang mewarnai Mindshift 6: Gelar Karya di Kampung Muara, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Kamis (21/8). Bagi 15 perempuan pekerja migran purna yang mengikuti kegiatan tersebut, keberanian tampil di hadapan publik bukan sekadar bagian dari pameran, melainkan cerminan perjalanan untuk kembali membangun kepercayaan diri dan kemandirian. Kegiatan tersebut menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Program Mindshift (Mindset & Independent) yang diinisiasi oleh mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University bersama Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Sukabumi. Seluruh peserta mengikuti rangkaian program hingga akhir, mulai dari Mindshift 1 hingga Mindshift 6.
Program Mindshift berangkat dari persoalan yang dihadapi perempuan pekerja migran purna, khususnya mereka yang pernah menjadi korban perdagangan orang. Sebagai kelompok rentan, mereka tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi setelah kembali ke daerah asal, tetapi juga berbagai dampak psikososial akibat pengalaman eksploitasi, kekerasan, dan penindasan. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri, efikasi diri, serta kemampuan peserta untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan. Di sisi lain, keterbatasan keterampilan hidup dan kewirausahaan turut menjadi tantangan ketika mereka harus menentukan pilihan untuk melanjutkan kehidupan setelah kembali ke Indonesia. Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam persoalan perdagangan orang. Kondisi tersebut mendorong pentingnya pendampingan yang tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada pemulihan psikososial dan penguatan kapasitas diri agar peserta dapat membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Dalam pelaksanaannya, Mindshift memadukan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan Personal Entrepreneurial Competencies (PECs). Pendekatan tersebut digunakan untuk membantu peserta mengenali dan mengelola pola pikir, membangun kepercayaan diri dan resiliensi, sekaligus mengembangkan kompetensi kewirausahaan sebagai bekal untuk merintis usaha. Perubahan peserta terlihat melalui hasil pengukuran pre-test dan post-test pada aspek efikasi diri, resiliensi, dan kompetensi kewirausahaan. Pada aspek efikasi diri, peningkatan tercatat pada ranah kognitif sebesar 73,33 persen, afektif 60 persen, dan psikomotorik 46,67 persen. Sementara itu, pada aspek resiliensi, peningkatan masing-masing mencapai 60 persen pada ranah kognitif, 40 persen pada afektif, dan 60 persen pada psikomotorik. Peningkatan paling menonjol terlihat pada kompetensi kewirausahaan. Sebanyak 73,33 persen peserta mengalami peningkatan pada ranah kognitif, 60 persen pada ranah afektif, dan 86,67 persen pada ranah psikomotorik.
“Perubahan yang paling terlihat adalah peningkatan efikasi diri, resiliensi, dan kompetensi kewirausahaan peserta,” ungkap Absa, salah satu anggota tim penyelenggara program.
Perubahan tersebut juga tampak dalam interaksi sehari-hari. Sebelum mengikuti rangkaian Mindshift, interaksi sosial sebagian peserta cenderung minim. Namun, setelah melalui berbagai tahapan pendampingan, peserta mulai menunjukkan keberanian untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama. Keberanian tersebut kemudian diuji melalui Mindshift 6: Gelar Karya. Dalam kegiatan ini, setiap kelompok peserta mempresentasikan sekaligus mempromosikan produk yang dikembangkan selama program. Beragam olahan berbahan dasar lele, seperti burger fillet lele, pepes lele, pecel lele, dan lele krispi, menjadi karya yang dipamerkan. Tidak hanya memperkenalkan produk, peserta juga menjelaskan proses produksi, keunggulan, manfaat, target pasar, strategi pemasaran, hingga rencana pengembangan usaha melalui Komunitas Sawargi Mandiri.
Bagi peserta, berbicara di depan umum menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kegiatan tersebut. Namun, tantangan itu perlahan teratasi setelah peserta melewati berbagai tahapan dalam Mindshift. Mereka mulai berani tampil, menyampaikan gagasan, serta terbuka dalam berinteraksi dengan orang lain. Gelar Karya pun menjadi ruang untuk mempraktikkan keterampilan yang telah dibangun selama proses pendampingan. Setelah sesi presentasi, para tamu undangan berkesempatan mengunjungi stan peserta untuk melihat langsung hasil karya sekaligus berdiskusi mengenai potensi pengembangan produk. Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melatih kemampuan komunikasi, membangun jejaring, dan menerima masukan. Pendamping juga memberikan umpan balik terhadap teknik presentasi, kemampuan menjawab pertanyaan, serta kerja sama antarkelompok.
Kegiatan turut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya SBMI Sukabumi, Pemerintah Desa Jambenenggang, Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (DKUKM) Kabupaten Sukabumi. Para pemangku kepentingan mengapresiasi pelaksanaan Mindshift sebagai bentuk kolaborasi dalam mendukung pemberdayaan perempuan pekerja migran purna. Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari pendekatan pentahelix yang melibatkan DKUKM Kabupaten Sukabumi, Dinas Sosial Kabupaten Sukabumi, DP3A Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Desa Jambenenggang, dan SBMI Sukabumi. Sinergi lintas pihak ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pendampingan sekaligus memperkuat wadah pemberdayaan yang telah dibangun. Salah satu bentuk keberlanjutan program diwujudkan melalui pembentukan Komunitas Sawargi Mandiri. Komunitas tersebut diharapkan menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan usaha secara bersama, memperluas jejaring, serta menjadi embrio koperasi yang dapat mendukung kemandirian ekonomi mereka.
Bagi penyelenggara, keberhasilan Mindshift tidak hanya tercermin dari produk yang berhasil dihasilkan peserta. Keberanian untuk berekspresi dan mengungkapkan perasaan menjadi bagian penting dari proses perubahan yang berlangsung selama program. Mindshift tidak sekadar mendorong peserta untuk berani berbicara, tetapi juga membantu mereka membangun kembali rasa percaya diri dan bangkit dari berbagai pengalaman sulit yang pernah dilalui. Dari proses tersebut, tumbuh keberanian untuk berinteraksi, berkarya, dan memandang masa depan dengan lebih mandiri.
Melalui Mindshift 6: Gelar Karya, rangkaian pendampingan pun resmi ditutup. Namun, bagi para peserta, berakhirnya program bukan berarti berakhirnya proses. Pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kepercayaan diri yang telah dibangun menjadi bekal untuk melanjutkan langkah melalui Komunitas Sawargi Mandiri. Ke depan, keberlanjutan kolaborasi dan pengembangan komunitas diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh bagi perempuan pekerja migran purna untuk terus berkarya dan membangun kemandirian ekonomi. Lebih dari sekadar menghasilkan produk, Mindshift meninggalkan harapan agar para peserta dapat menjalani kehidupan yang lebih bahagia, sejahtera, dan berdaya di tengah keluarga maupun masyarakat.
***
Reporter: Alifa Lacita Khairani
Editor: Neng Apap Apiani




Tambahkan Komentar